Waste to Food, Aman?

Setelah wabah COVID-19 mulai terkendali, terjadi peningkatan dari aktivitas ekonomi masyarakat. Produk yang selalu dihasilkan dari aktivitas ini adalah limbah anorganik dan organik. Di antara kedua jenis limbah tersebut, limbah organik merupakan limbah yang relatif tidak diolah lebih lanjut.

Penelitian yang dilakukan oleh laboratorium ilmu serangga Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) ITB telah menghasilkan teknologi pengolahan limbah menggunakan larva serangga untuk menghasilkan produk yang dapat digunakan sebagai bahan dasar untuk produksi pangan.

Pada kegiatan pengabdian masyarakat, aktivitas difokuskan pada penanganan limbah organik oleh komunitas melalui peran aktif masyarakat, terutama ibu rumah tangga. Teknologi ini akan mengombinasikan pendekatan data sains dan digitalisasi serta dikembangkan sebagai model baru pengolahan limbah organik.

“Kegiatan dilakukan di Warung Kebon, kebun komunitas pada Kelurahan Cipadung Kulon, Kecamatan Ujungberung. Bank sampah organik melibatkan peran dari 148 KK dari 2 RW terkait dengan pemilahan limbah organik dan anorganik oleh warga. Terdapat dua opsi bagi warga, yaitu menjual limbah organik dengan harga Rp100 per kg atau menukarnya dengan produk yang dihasilkan oleh Warung Kebon,” kata Ramadhani Eka Putra, Ph.D. selaku ketua tim pengabdian.

Program waste to food menggunakan larva serangga sebagai pengubah limbah organik menjadi biomassa bagi pakan ternak dan pupuk organik. Kegiatan ini diintegrasikan dengan kegiatan penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa rekayasa pertanian yang terdiri dari penelitian sistem produksi menggunakan sumber daya yang terdapat di lokasi serta berbasis upcycling limbah organik.

Kegiatan meliputi revitalisasi dari kegiatan kebun komunitas yang sempat vakum karena permasalahan ketersediaan anggaran dan teknologi tepat guna. Total luas lahan yang digunakan adalah 200 yang terbagi menjadi lokasi pengolahan limbah dengan lalat tentara hitam, lokasi produksi sumber protein hewani (ayam pedaging, ayam petelur, bebek, dan ikan), lokasi produksi tanaman (sayuran, rempah, dan herbal), dan peternakan lebah madu tanpa sengat. Dilakukan implementasi sains dan teknologi dalam bentuk teknologi tepat guna.

“Dampak yang dirasakan dari kegiatan ini adalah penghasilan meningkat sebesar 25% dan biaya yang dikeluarkan turun sebesar 50%, perbaikan rancangan HAKI ember BSF, inovasi formulasi pupuk organik BSF, serta ember tanam BSF,” tutur Ramadhani, Ph.D.

Setelah kegiatan selesai dilakukan terdapat permintaan diseminasi sistem dan teknologi, kemungkinan kerja sama dengan perusahaan pengolah limbah untuk proses upcycling limbah organik serta adanya adopsi model pengolahan limbah oleh daerah lain, yaitu Cileunyi, Kecamatan Cimanganten Kota Garut, dan Polsek Pesanggrahan Kota Jakarta Selatan terkait program ekonomi sirkular bagi grass root.

PENULIS ARTIKEL
Ramadhani Eka Putra, Ph.D. • Kelompok Keahlian Manajemen Sumber Daya Hayati Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) ITB

.

108

views

15 November 2023