Solusi Minyak Nabati untuk Produk Sanitasi

Industri kosmetik di Indonesia mengalami pertumbuhan pasar setiap tahunnya. Salah satu segmen penting dalam industri kosmetik adalah produk sanitasi yang mendorong pertumbuhan industri tersebut, terutama sejak pandemi COVID-19. Sayang, hingga saat ini Indonesia masih mengimpor bahan baku Cocamidopropyl betaine (CAPB) dalam jumlah besar, yaitu 15.000 ton/tahun atau setara 20 juta dolar AS.

CAPB merupakan surfaktan yaitu komponen terpenting dalam produk-produk personal care. “Surfaktan merupakan kelompok senyawa yang memiliki gugus polar dan gugus nonpolar sehingga dapat melarutkan minyak dalam air,” kata Ilmuwan ITB dari Kelompok Keahlian Teknologi Pengolahan Biomassa dan Pangan Fakultas Teknologi Industri (FTI), Dr. Ir. Meiti Pratiwi, S.T., M.T.

Dibandingkan sodium lauryl sulphate (SLS) dan sodium lauryl ether sulphate (SLES) yang umum digunakan, CAPB bersifat lebih lembut dan lebih tidak menyebabkan iritasi. Dengan harga CAPB produksi luar negeri yang lebih murah, produsen-produsen besar produk personal care masih menggunakan CAPB impor.

“Minyak kelapa sebagai bahan baku produksi CAPB memiliki kemiripan struktur dengan minyak inti sawit. Dengan rute produksi yang serupa dengan CAPB, minyak inti sawit dapat menghasilkan senyawa padanan CAPB, yaitu palm kernel amidopropyl betaine (PKAPB). PKAPB dapat diproduksi dari asam-asam lemak minyak inti sawit,” kata Dr. Meiti yang memimpin riset produksi PKAPB dari minyak dan asam lemak minyak inti sawit untuk substitusi Cocamidopropyl betaine impor.

Riset ini bertujuan untuk mengembangkan teknologi produksi PKAPB dari asam-asam lemak minyak inti sawit yang aplikatif pada industri berskala kecil dan menengah. Pada tahun pertama, riset dibagi menjadi dua agenda besar, yaitu menghasilkan PKAPB dengan perolehan serta kemurnian produk yang cukup tinggi dengan biaya produksi yang terjangkau, dan aplikasi produk PKAPB pada produk sanitasi berupa sabun cair.

“Optimasi dilakukan terhadap variabel-variabel operasi seperti temperatur reaksi dan rasio reaktan terhadap umpan. Aplikasi produk PKAPB terhadap sabun cair dikarakterisasi untuk memastikan produk sanitasi yang layak dan aman. Pada tahun kedua, riset difokuskan pada pengembangan produksi PKAPB pada skala usaha kecil dan menengah (UKM),” papar Dr. Meiti.

Pada akhir tahun pertama ini telah dilakukan pembandingan tiga rute proses untuk surfaktan betaine, yaitu dari proses Keough (1960), Bade (1985), dan Acikalin (2006). Dengan menggunakan bahan baku berupa asam laurat murni, diperoleh rute proses yang paling unggul beserta kondisi operasinya. Kondisi operasi tersebut berhasil diaplikasikan pada asam-asam lemak dari minyak inti sawit dengan parameter kualitas yang layak dan setara dengan produk CAPB komersial.

Riset ini akan ditindaklanjuti dengan pengujian prototipe PKAPB dalam aplikasi di industri kosmetik mitra pada tahun kedua. “Eksplorasi rute-rute alternatif menunjukkan adanya peluang melakukan produksi surfaktan betain dengan bahan baku minyak nabati alih-alih asam lemak, dan riset dapat dikembangkan lebih lanjut terkait tujuan ini,” kata Dr. Meiti.

Contact: meiti@itb.ac.id

PENULIS ARTIKEL
Dr. Meiti Pratiwi, S.T., M.T. • Kelompok Keahlian Teknologi Pengolahan Biomassa dan Pangan, FTI ITB

Tergabung dalam Kelompok Keahlian Teknologi Pengolahan Biomassa dan Pangan Fakultas Teknologi Industri (FTI) ITB. Setelah mendapatkan gelar sarjananya di ITB, Dr. Meiti melanjutkan program magister dan doktoralnya di ITB.

257

views

15 December 2022