Mengolah Sampah Memanen Obat

Stunting atau kekerdilan akibat kurangnya asupan gizi pada anak telah menjadi program nasional, terutama di desa-desa, seperti di Desa Tanjungsari, Kec. Gunung Tanjung, Kab Tasikmalaya yang pada 2021 angkanya naik dari tahun sebelumnya. Selain penanganan kasus stunting, desa itu juga menghadapi tantangan pengelolaan sampah, khususnya sampah organik.

Salah satu faktor meningkatnya stunting yakni pemenuhan gizi yang masih rendah, dan berdasarkan hasil survei mayoritas masyarakat masih belum memahami pentingnya gizi untuk perkembangan anak. Selain itu, mayoritas warga Desa Tanjungsari yang berekonomi menengah ke bawah memiliki kesulitan untuk memenuhi gizi seimbang untuk tumbuh kembang anak.

“Diperlukan cara alternatif agar masyarakat dapat memenuhi kebutuhan gizi anak namun dengan harga yang terjangkau. Selain itu, sumber gizi tersebut juga harus mudah didapat oleh masyarakat,” kata ilmuwan ITB dari Kelompok Keahlian Biologi Farmasi, Sekolah Farmasi ITB, Dr. Hegar Pramastya, S.Si., Apt., M.Si.

Dalam program pengabdian masyarakat ITB, Dr. Hegar memimpin tim dalam mengembangkan kebun tanaman obat komunitas yang terintegrasi dengan pengolahan sampah organik sebagai upaya peningkatan daya dukung kesehatan masyarakat Desa Tanjungsari. “Edukasi telah dilakukan secara daring serta luring. Kami juga memberikan bibit-bibit tanaman serta bibit domba yang dapat dimanfaatkan bersama. Sebagai wujud implementasi, kotoran domba digunakan untuk pembuatan kompos yang dipakai untuk penanaman bibit-bibit tanaman pada kebun gizi,” paparnya.*

Contact: hegarpramastya@fa.itb.ac.id

PENULIS ARTIKEL
Dr. Hegar Pramastya, S.Si., Apt., M.Si. • Kelompok Keahlian Biologi Farmasi, SF ITB

Tergabung dalam Kelompok Keahlian Biologi Farmasi, Sekolah Farmasi (SF) ITB. Ia mendapat gelar sarjana hingga doktornya di ITB.

67

views

24 June 2022