Ketika Sampah Bisa Jadi Sembako, Kenapa Harus Dibuang

Kampung Tarikolot, Desa Cinangsi, Kecamatan Cikalongkulon di Kabupaten Cianjur termasuk dalam 629 desa prioritas yang tersebar di aliran DAS Citarum yang saat ini dikelola Satgas Citarum Harum Sektor 12 Sub Sektor 3. Sejak digulirkannya Program Citarum Harum, masyarakat di desa ini sudah berusaha untuk tidak mencemari Sungai Citarum. Namun, dengan segala keterbatasan yang ada, sampah di Desa Cinangsi masih belum terkelola dengan baik.

Oleh karena itu, pembentukan program bank sampah di Desa Cinangsi yang merupakan satu kesatuan dengan program pengelolaan sampah pada Program Pengabdian Masyarakat Citarum Harum yang diusulkan. Program bank sampah ini bertujuan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam memilah sampah sehingga sampah tersebut nantinya bisa lebih mudah untuk dikelola dan tidak mencemari lingkungan.

Metodologi yang digunakan yaitu melakukan identifikasi langsung jumlah timbulan, densitas, komposisi dan nilai jual, melakukan observasi, wawancara dan kuesioner untuk mengidentifikasi kondisi existing aliran material (material flow) sampah serta untuk mengetahui karakteristik stakeholder (seperti masyarakat, pengepul sampah, dan lainnya) yang terlibat dalam pengelolaan sampah.

“Selain itu, dilakukan proses menjalin komunikasi dengan stakeholder terkait dengan pengelolaan sampah dan merencanakan model bisnis bank sampah dengan melakukan diskusi dan pelatihan pengelolaan bank sampah serta melakukan edukasi dan kampanye kegiatan pemilahan sampah,” kata Dinda Annisa Nurdiani, M.T., dosen muda yang tergabung dalam Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan (FTSL) ITB.

Kondisi pengelolaan sampah di Kampung Tarikolot belum terintegrasi dengan baik. Di RW 02, sampah belum terlayani oleh pengumpul sampah sehingga warga membuang sampahnya ke lingkungan. Selain itu, walaupun RW 03 sudah terlayani oleh pengumpulan sampah, yang terkelola hanya sampah anorganiknya, sedangkan sisanya dibakar.

Kegiatan yang dilakukan pada pengabdian masyarakat kali ini adalah studi banding yang dilakukan sebagai upaya untuk mengambil lesson-learned dari bank sampah yang sudah ada. Survei pendahuluan dilakukan untuk mengetahui kondisi yang ada terkait isu yang diangkat. Sementara,  edukasi siswa SD yang bertujuan menumbuhkan kesadaran akan pengelolaan sampah dan budaya hidup bersih.

Selain itu siswa diperkenalkan pada jenis-jenis sampah yang ada, kegiatan edukasi yang sama juga dilakukan kepada warga dan dilakukan diskusi kelompok terpumpun untuk jajak pendapat mengenai sistem bank yang akan diterapkan serta simulasi yang dilakukan untuk uji coba sistem bank sampah yang direncanakan dan sebagai sarana pelatihan untuk pengurus bank-bank sampah.

Model bank sampah yang dipilih adalah model sampah dengan sistem barter. Petugas bank sampah akan berkeliling setiap dua minggu sampai sebulan sekali ke rumah warga dan warga akan menukar sampahnya dengan sembako sesuai dengan nilai jual sampah. “Dari simulasi yang dilakukan rata-rata sampah yang dikumpulkan dari satu RW setiap dua minggu sekali adalah sekitar 50 kg dengan keuntungan yang didapat oleh bank sampah sekitar Rp50.000. Bank sampah ini selanjutnya akan dikelola oleh pihak RW dan dikoordinasi oleh Ketua RT 1 dengan bantuan warga yaitu Pak Adi,” tutur Dinda, M.T.

PENULIS ARTIKEL
Dinda Annisa Nurdiani, S.T., M.T. • Dosen Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan (FTSL) ITB

Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan (FTSL) ITB.

58

views

21 September 2023