Ilmuwan ITB Bisa Buat Baja Awet dengan Kulit Rambutan

Baja adalah material yang paling banyak digunakan di industri, tetapi memiliki kekurangan, yaitu mudah terkorosi terutama dalam lingkungan asam. Salah satu metode pengendalian korosi adalah dengan penambahan inhibitor. Peneliti di dunia terus mencari alternatif bahan-bahan alami dari alam yang dapat dimanfaatkan sebagai inhibitor korosi yang ramah lingkungan. Sebagian besar inhibitor ramah lingkungan atau yang biasa dikenal sebagai green inhibitor diekstrak dari bagian-bagian tumbuhan, seperti dari daun, bunga, biji, akar, buah, dan batang.

Ilmuwan ITB dari Kelompok Keahlian Teknik Metalurgi Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan (FTTM) Dr. Eng. Bonita Dilasari, S.T., M.T. dan tim melakukan penelitian pemanfaatan bahan alami sebagai inhibitor korosi untuk baja dan paduan lainnya. “Penelitian ini mempelajari pemanfaatan esktrak kulit buah, yaitu rambutan sebagai inhibitor korosi untuk baja dalam larutan asam. Rambutan adalah buah tropis dengan produksi yang melimpah di Indonesia. Kulit buah rambutan, yang mencakup 45% dari berat satu buah utuh, tidak dapat dikonsumsi dan akan menjadi limbah,” kata Dr. Eng. Bonita.

Kulit rambutan dicuci sampai bersih, dijemur sampai kering selama 5 hari. Kulit rambutan yang sudah kering dihancurkan menggunakan chopper sampai menjadi serbuk. Selanjutnya, kulit rambutan yang sudah halus dan kering ditimbang sesuai kebutuhan lalu dilarutkan ke dalam larutan HCl 1 M dan H2SO4 0,5 M. Setelah itu, campuran kulit rambutan dan larutan asam diaduk hingga homogen pada temperatur didih larutan. Kemudian ekstrak kulit buah rambutan tersebut disaring menggunakan kertas saring. Filtrat hasil penyaringan siap digunakan sebagai larutan uji. Sampel yang digunakan pada percobaan ini adalah baja ASTM A36. Sebelum dilakukan pengujian, sampel baja dipreparasi terlebih dahulu mengikuti standar ASTM G1 Standard Practice for Preparing, Cleaning, and Evaluation Corrosion Test Specimens.

Sampel yang digunakan pada percobaan ini adalah baja ASTM A36. Sebelum dilakukan pengujian, sampel baja dipreparasi terlebih dahulu mengikuti standar ASTM G1 Standard Practice for Preparing, Cleaning, and Evaluation Corrosion Test Specimens.

Hasil uji perendaman selama 24 jam menunjukkan efisiensi inhibitor ekstrak kulit rambutan mencapai 92,6% dalam larutan asam klorida (HCl) 1 M dan 65,6% dalam larutan asam sulfat (H2SO4) 0,5 M dengan konsentrasi optimum masing-masing 6 gpl dan 5 gpl. Senyawa ekstrak kulit rambutan teradsorpsi secara fisisorpsi pada permukaan baja terbukti meningkatkan energi aktivasi yang dibutuhkan untuk terjadinya reaksi korosi. Penambahan garam halida terbukti memberikan efek sinergi yang dapat meningkatkan efisiensi inhibitor ekstrak kulit rambutan. Efisiensi inhibitor dalam larutan HCl 1 M mencapai 97,8% setelah ditambahkan garam kalium iodida dengan konsentrasi 0,01 M.

“Diharapkan penelitian ini akan menghasilkan pembelajaran mengenai mekanisme ekstrak kulit buah dalam menurunkan laju korosi baja dan paduan lain; pengaruh variasi konsentrasi dan temperatur terhadap efisiensi inhibisi ekstrak kulit buah; serta pengaruh penambahan garam halida terhadap efisiensi inhibisi ekstrak kulit buah,” kata Dr. Eng. Bonita.

PENULIS ARTIKEL
Dr. Eng. Bonita Dilasari, S.T., M.T. • Kelompok Keahlian Teknik Metalurgi, FTTM ITB

Tergabung dalam Kelompok Keahlian Teknik Metalurgi Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan (FTTM) ITB. Setelah mendapatkan gelar sarjana dan masternya di ITB, ia menyelesaikan S-3 di Sejong University, Seoul - Korea..

276

views

02 March 2023