Gerak Cepat Tenda Darurat Bencana

Berada di atas lempeng tektonik, sabuk gunung api dan pesisir membuat bencana seperti gempa bumi, tsunami dan likuefaksi seperti yang terjadi di Palu merupakan keniscayaan. Ketika bencana itu terjadi, semua keterbatasan bertumpuk, dan membangun kembali infrastruktur menjadi tantangan, terkait bahan baku, pekerja dan konstruksinya. Terinspirasi dari pembangunan masjid yang terkena bencana di Aceh dan Palu serta perjalanan ke daerah bencana, tim pengabdian ITB mengembangkan prototipe shelter berbasis truss tunnel dan lattice tunnel dengan material besi yang mudah dibongkar pasang. Struktur ini memiliki banyak keunggulan dalam hal kekuatan bentangan, transportasi material, dan toleransi lebih besar pada kegagalan struktur.

Ilmuwan ITB dari Kelompok Keahlian Teknologi Bangunan, Dr. Ing. Andry Widyowijatnoko, S.T., M.T., yang memimpin tim, memaparkan kegiatan ini untuk mendukung kegiatan LPPM ITB dan Rumah Amal Salman di dalam program penanggulangan bencana yang biasa dilakukan saat terjadinya bencana dan dibentuknya Satgas, seperti yang dilakukan saat terjadinya gempa di Lombok dan Palu. Dari perjalanan  pengabdian ke daerah-daerah bencana, Dr. Andry kemudian mengembangkan prototipe shelter berbasis struktur lattice dengan material besi yang mudah dibongkar pasang.

“Struktur lattice dipilih karena struktur ini dibentuk oleh batang-batang yang jauh lebih pendek dibandingkan dengan bentangan struktur yang bisa dicapainya,” kata Dr. Andry.  Batang-batang yang lebih pendek sangat banyak memberikan keuntungan dalam hal transportasi akan semakin mudah dan murah.

Tenda truss tunnel merupakan alternatif desain tenda darurat pertama yang diproduksi oleh tim. Tenda ini memanfaatkan sistem konstruksi knock-down. Struktur tunnel dibentuk oleh batang-batang yang membentuk kelengkungan tunnel dan batang-batang yang membentuk panjang tunnel dengan sesedikit mungkin jenis elemen batang dan sambungan yang digunakan. Batang-batang yang membentuk kelengkungan tunnel dirakit sedemikian rupa sehingga membentuk bidang-bidang segitiga atau truss, yang merupakan geometri paling stabil.

Sementara tenda lattice tunnel menjadi alternatif desain tenda darurat kedua yang diproduksi tim. Sesuai namanya, tenda ini menggunakan struktur lattice pada rangkanya. Struktur lattice pada tenda ini merupakan struktur diagrid yang menciptakan kekakuan struktur tanpa penambahan elemen struktur. Struktur ini merupakan rekayasa desain untuk pengurangan berat, energi, dan waktu manufaktur. Struktur ini diharapkan dapat menahan gaya lateral yang lebih baik dibandingkan dengan tenda sebelumnya.

Struktur tenda ini juga memiliki jumlah batang dan sambungan dengan perulangan yang banyak dengan variasi yang sangat sedikit. Karakteristik ini akan membuat produksi massal dari komponen dan sambungan akan semakin murah. Selain itu, proses pendirian tenda juga menjadi lebih mudah dan jika ada komponen batang dan sambungan yang rusak, penggantiannya juga menjadi jauh lebih mudah. “Struktur tenda lattice bekerja sebagai suatu sistem yang saling terkait satu dengan lainnya. Struktur seperti ini memiliki toleransi yang lebih besar pada kegagalan struktur akibat kegagalan elemen-elemennya,” jelasnya.

Proses pengembangan desain dan pembuatan prototipe tenda knock-down merupakan perpaduan antara rekayasa keteknikan dengan keilmuan praktis para tukang besi. Hasil dari perpaduan ini adalah dua prototipe sistem tenda knock-down yang mudah dan murah untuk diproduksi massal dan juga mudah untuk dibongkar-pasang. Sistem modular dengan variasi elemen sesedikit mungkin adalah kunci utama kesuksesan sistem konstruksi tenda ini.*

Contact: andry@ar.itb.ac.id

PENULIS ARTIKEL
Dr. Ing. Andry Widyowijatnoko, S.T., M.T. • Keahlian Teknologi Bangunan, SAPPK ITB

Tergabung dalam Kelompok Keahlian Teknologi Bangunan, Sekolah Arsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK) ITB. Setelah menyelesaikan S1 dan S2 di ITB, ia mendapatkan doktor di RWTH Aachen University, Jerman.

92

views

22 June 2022