PM Citarum Harum 2021 - Karakterisasi Sampah dan Implementasi Usulan Konsep Pengelolaan Sampah Pemukiman Mandiri di DAS Citarum Hulu Sektor 21 Subsektor 7 Kecamatan Pameungpeuk (Kabupaten Bandung)
Nama Peneliti (Ketua Tim)

I Made Wahyu Widyarsana



Ringkasan Kegiatan

.Citarum Harum dalam Perspektif PKM ITB diSektor 21 Kecamatan Pameungpeuk, Kabupaten Bandung Civitas akademika ITB terus mendukung program Pemerintah Pusat danPemerintah Provinsi Jawa Barat terhadap Percepatan Pengendalian Pencemaran danKerusakan Daerah Aliran Sungai Citarum. Program Citarum Harum yang digulirkanpemerintah membutuhkan kerjasama penanganan semua pihak. Program Citarum Harumtelah diatur melalui Peraturan Presiden Nomor 15 tahun 2018 tentang PercepatanPengendalian Pencemaran dan Kerusakan Daerah Aliran Sungai Citarum. Sejakdigulirkannya program Citarum Harum, kondisi Sungai Citarum kini sudah mulaimembaik. Sungai Citarum yang dulu menyandang predikat sungai paling tercemar didunia, kini mulai tertangani. Salah satu Tim PKM ITB Citarum Harum (Skema Top-Down) tahun ini diinisiasiDr. Ir. I Made Wahyu Widyarsana, ST. MT. (Dosen Program Studi RekayasaInfrastruktur Lingkungan, FTSL-ITB) memilih daerahbinaan di KecamatanPameungpeuk karena memiliki 4 (empat) desa prioritas yang dilaluialiran Sungai Cisangkuy yang notabene bermuara ke Sungai Citarum, yaitu: DesaLangonsari, Desa Sukasari, Desa Rancatungku dan Desa Rancamulya. Pemukiman yang terlingkup pada kegiatanini adalah pemukiman di sepanjang Sungai Cisangkuy sepanjang 7,4 km. Olehkarena itu diperlukan usulan konsep pengelolaan sampah pemukiman mandiriyang sesuai dengan kondisi saat ini guna mengurangi sampah yang masuk ke SungaiCitarum. Ruang lingkupdan target programnya, sebagai berikut: 1. Bertempat di DesaSukasari, Desa Langonsari, Desa Rancamulya dan Desa Rancatungku (KecamatanPameungpeuk,Kabupaten Bandung); 2. Pengukurantimbulan sampah, komposisi sampah, berat jenis, dan karakteristik sampahmelalui sampling di lapangan untuk perencanaan; 3. Menganalisa karakteristik masyarakat dalammengelola sampahnya melalui kuesioner, wawancara, dan observasi; 4. Penentuanopsi teknologipengelolaan sampah pemukiman mandiri; 5. Perencanaan teknis rancangan tempat pengelolaansampah; 6. Contohimplementasi pengelolaan sampah, mencakup sosialisasi pengelolaan sampah yangbaik, pemberian contoh model teknologi pengelolaan sampah mandiri dengan targetterjadi pengurangan pembuangan sampah ke sungai oleh masyarakat; 4. Menjalinkomunikasi (network) dengan pihak yangmemiliki program CSR (baik perusahaan swasta/milik negara) maupun pihakpemerintah yang potensial berkontribusi lebih lanjut dan lebih luas di daerahbinaan tersebut, baik bantuan fisik maupun non fisik untuk menjamin pengelolaansampah di daerah binaan tersebut dapat berkelanjutan. Berdasarkan survey pendahuluandiperoleh radius pelaksanaan kegiatan sebesar 1 km dari aliran sungai, karenadalam radius tersebut diperoleh pengakuan masyarakat masih membuang sampah kesungai. Berdasarkan hasil survei kuesioner dengan sampel responden masyarakat didaerah binaan, diperoleh fakta bahwa masyarakat yang mengakui membuang sampahke sungai berkisar 5-22%, rentang ini bersifat relatif tergantung situasi dan kondisitertentu.Berdasarkan hasil sampling sampah diperoleh rata-rata timbulansampah rumah tangga di Desa sukasari 0,33 kg/orang/hari, Desa Langonsari 0,18kg/orang/hari, Desa Rancamulya 0,23 kg/orang/hari dan Desa Rancatungku 0,15kg/orang/hari. Sehingga dapat dihitung timbulan sampah total di Desa Sukasari sebesar5,28 ton/hari, Desa Langonsari 4,34 ton/hari, Desa Rancamulya 4,75 ton/hari danDesa Rancatungku 3,95 ton/hari. Komposisi sampah di daerah tersebut secara umumdidominasi oleh sampah organik dengan persentase 56,6-63,0%. Jenis sampah lainnya meliputi plastik sebesar 19,6-23,09%, kertas 5,87-9,39% dan sisanya sampah lain-lain. Pada tahun 2042, diproyeksikan Desa Sukasari memiliki timbulan yang palingtinggi sebesar 18,92 ton/hari, selanjutnya DesaRancamulya sebesar 16,84 ton/hari, Desa Rancatungku 15,43 ton/hari, dan Desa Langonsari 8,64 ton/hari. Dalamrangkaian kegiatan ini, Tim PKM ITB Citarum Harum di Kecamatan Pameungpeuk dibawah koordinasi LPPM ITB (melibatkan mahasiswa Prodi S1 Teknik Lingkungan danmahasiswa Prodi S1 Rekayasa Infrastruktur Lingkungan, FTSL-ITB dalam mendukungprogram merdeka belajar kampus merdeka atau MBKM) memberikan kontribusipemikiran teknis-teknologis dengan membuat konsep perencanaan pengelolaan sampahtermasuk desain fasilitas pengolahan sampah mandiri di masing-masing desa yangdiberi nama Pusat Daur Ulang (PDU), serta memberikan sosialisasi dan edukasikepada pihak aparat kecamatan, desa, masyarakat, pengelola bank sampah, sektorinformal, serta petugas kebersihan setempat. Sebagai implementasi bantuan fisikberupa barang, tim PKM ITB ini juga berpartisipasi memberikan beberapa unitcontoh komposter dan biodigester skala kecil ke semua desa binaan terlingkupdan distribusinya memprioritaskan penanganan sampah di daerah pemukiman binaanyang berdekatan dengan aliran sungai. Kegiatan PKM ini hanyalah rintisan awal untuk kegiatan berikutnya sertamembuka ruang seluas-luasnya untuk perusahaan swasta/milik negaraberpartisipasi dengan program CSR maupun bantuan serta pendampingan pemerintah(APBD/APBN) dan partisipasi dari berbagai pihak sangat diharapkan.Pihak yang berminat berpartisipasi membangun sistem maupun infrastrukturpengelolaan sampah di daerah binaan ini, bisa menghubungi:-     Kantor Camat Pameungpeuk (KabupatenBandung, Provinsi Jawa Barat)-     Kantor Kepala Desa: Desa Langonsari,Desa Sukasari, Desa Rancatungku dan Desa Rancamulya-     Tim PKM Citarum Harum ITB, narahubung: Dr. Ir. I Made Wahyu Widyarsana, ST. MT. (email: pkm.imw.itb2021@gmail.com;IG: pkm.itb2021)



Capaian

Kegiatan, Karya Tulis, Produk



Testimoni Masyarakat

.Terwujudnya pemulihan, pengendalian, dan pemanfaatan ruang agar fungsi kawasan DAS Citarum terbebas dari timbulan sampah dan pencemaran, serta terbangunnya konservasi dan pendayagunaan sumber daya air yang terkelola dengan baik