Trauma Healing melalui Coaching Bagi Korban Tanah Longsor

 Trauma Healing melalui Coaching Bagi Korban Tanah Longsor

Tags: ITB4People, Community Services, SDGs4

Bagaimanakah kondisi otak korban bencana alam jika dilihat dari sisi gelombang otak? Artikel ini menyajikan potret gelombang otak secara umum dari para korban bencana longsor Desa Cihanjuang yang terjadi pada tanggal 9 Januari 2021 lalu. Desa ini terletak di kecamatan Cimanggung, kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Akibat bencana ini, sebanyak 40 orang meninggal dunia, puluhan lainnya luka-luka, serta menimbulkan dampak kerugian terhadap lebih dari seribu penduduk di sekitarnya. Tidak hanya kerugian material, bencana alam seringkali dapat menimbulkan kerugian non-material bagi para penyintas, salah satunya dalam bentuk gangguan psikologis seperti PTSD (Post Traumatic Stress Disorder).

PTSD atau “Gangguan Stres Pasca Traumatik” dapat menimbulkan gejala seperti rasa cemas berlebihan yang muncul berulang kali, gangguan tidur, bahkan berujung kepada depresi. Dalam rangka pengabdian masyarakat, pada tanggal 3 Oktober 2021, anggota Kelompok Keahlian Fisiologi, Perkembangan Hewan, dan Sains Biomedika dari program studi Biologi, Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati, Institut Teknologi Bandung (SITH-S ITB) bersama dengan para coach professional dari BUMN (PT. KAI dan PT. TELKOM) melakukan kegiatan coaching yang diikuti dengan pengukuran gelombang otak sebagai upaya trauma healing kepada para korban bencana longsor di desa Cihanjuang.

Coaching merupakan salah satu metode yang dapat mendukung proses trauma healing. Dalam kegiatan pengabdian masyarakat ini, metode coaching melibatkan interaksi antara coach dengan para korban bencana sebagai responden dalam durasi kurang lebih 40 - 45 menit. Umumnya, coaching dilakukan untuk mencapai satu tujuan utama yang hendak dicapai oleh responden, seperti mencapai target tertentu atau meningkatkan kualitas hidup.

Sepanjang sesi coaching, sebanyak 28 orang responden yang terdiri dari 16 laki-laki dan 12 perempuan dipandu oleh para coach masing-masing untuk merefleksikan dirinya melalui jawaban atas berbagai pertanyaan yang diberikan. Pada akhir sesi, diharapkan proses coaching tersebut dapat meringankan beban emosional para responden. Tidak hanya itu, diharapkan pula metode coaching dapat membantu mereka untuk menyadari  kemampuan diri sendiri agar dapat bangkit dan mengambil pembelajaran atau tindakan positif dari pengalaman traumatik yang pernah mereka alami.

Sejalan dengan proses coaching, responden memberikan persetujuan untuk pengambilan gelombang otak yang direkam melalui perangkat elektroensefalografi (EEG) Muse™. Tampilan visual gelombang otak yang terdeteksi oleh alat tersebut dapat dilihat langsung melalui aplikasi Mind Monitor di smartphone. Berdasarkan keterkaitannya dengan kondisi sadar dan juga pengalaman traumatik, jenis  gelombang otak yang difokuskan pada kegiatan ini adalah gelombang alfa dan beta. Kedua gelombang ini direkam sebelum dan sesudah sesi coaching berlangsung. Para responden berada dalam kondisi mata terbuka dan suasana yang tenang.

Menelisik Seputar Otak Manusia

Otak merupakan organ yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Organ ini bekerja tanpa henti selama 24 jam dan berfungsi sebagai regulator utama yang mengatur seluruh kinerja organ tubuh lainnya. Otak juga memfasilitasi berbagai bentuk emosi dan perilaku sehari-hari melalui pola aktivitasnya yang dapat diukur secara elektrikal. Aktivitas kelistrikan ini kemudian diterjemahkan dalam bentuk tampilan gelombang otak dengan bantuan perangkat elektroensefalografi (EEG). EEG dapat memberikan informasi terkait dinamika aktivitas gelombang otak manusia secara langsung (real-time) dengan akses penggunaan yang mudah dan praktis. Kelebihan perangkat Muse™ EEG antara lain memiliki resolusi temporal yang tinggi, efisiensi biaya, desain yang ringan dan mudah digunakan sehingga praktis untuk dibawa kemana-mana.

Dalam pengukuran EEG, terdapat standar peletakan elektroda sebagai sensor gelombang otak pada kulit kepala naracoba. Salah satu standar yang sering digunakan adalah sistem Internasional 10-20. Sistem ini menerapkan jarak peletakan antar elektroda berkisar sekitar 10% - 20% dari total jarak antara letak elektroda di bagian kepala paling depan dan paling belakang.

Perangkat Muse™ EEG memiliki empat buah elektroda sensorik yang dapat mendeteksi aktivitas gelombang otak di empat kanal spesifik, yakni area otak depan yang disebut anterofrontal bagian kiri (kode AF7) dan kanan (AF8), serta area otak samping atau temporoparietal bagian kiri (TP9) dan kanan (TP10).  Area anterofrontal (AF) berperan dalam kontrol proses kognisi serta fungsi-fungsi eksekutif lainnya yang mencakup proses atensi, perencanaan, pengambilan keputusan, hingga berbahasa (semantik). Sementara itu, area temporoparietal (TP) mampu mendeteksi dan mengintegrasikan berbagai jenis rangsangan untuk proses emosi. Area ini juga turut terlibat dalam pembentukan kemampuan berbahasa seseorang. Lebih jauh lagi, kedua belahan otak (disebut hemisfer) juga memiliki dua fungsi yang berbeda. Hemisfer kiri berperan dalam pemrosesan berpikir analitis dan matematis, sedangkan hemisfer kanan bertanggung jawab dalam emosi, komunikasi verbal, pemrosesan bentuk visual, hingga pemaknaan terhadap suatu kejadian.

Gelombang otak adalah tegangan listrik yang berosilasi di area otak sebagai hasil dari sinkronisasi pulsa elektrik antar sel saraf yang berkomunikasi satu sama lain. Pulsa elektrik inilah yang ditangkap oleh sensor elektroda perangkat EEG dan diterjemahkan dalam bentuk grafik gelombang otak. Hasil dari sinkronisasi aktivitas saraf ini berperan dalam fungsi fisiologis tubuh yang berhubungan dengan kondisi perilaku individu yang berbeda-beda.

Gelombang otak alfa dan beta merupakan dua jenis gelombang yang umum ditemukan pada saat kondisi sadar. Gelombang alfa mengindikasikan individu dalam kondisi relaksasi dan tenang yang ditampilkan dalam bentuk grafik dengan amplitudo lebar dan nilai frekuensi sedang (7.5-12 Hz). Sementara gelombang beta sering ditemukan pada individu yang sedang dalam kondisi konsentrasi penuh disertai proses berpikir seperti pembelajaran, pemecahan masalah, hingga pengambilan keputusan. Gelombang ini ditampilkan dalam bentuk grafik dengan amplitudo yang lebih sempit serta nilai frekuensi yang lebih tinggi dari gelombang alfa (12-30 Hz).

Secara umum, berdasarkan situasi emosional dan rentang frekuensinya, gelombang otak dapat dibagi menjadi lima jenis, yaitu gelombang delta, theta, alfa, beta, dan gamma. Gelombang otak responden korban longsor yang diukur saat menjalani sesi coaching adalah gelombang alfa dan beta.

Stres dan PTSD

Pada umumnya, stres merupakan salah satu kondisi emosi seseorang yang secara normal muncul saat menghadapi perubahan lingkungan sekitar dan menimbulkan perasaan kewalahan ataupun tertekan. Perubahan lingkungan yang berdampak terhadap kemunculan rasa stres ini disebut sebagai stressor, sedangkan respons fisiologis maupun psikologis terhadap stressor tersebut disebut sebagai respons stres.

Dalam kadar yang sedikit, stres dapat bersifat menguntungkan, seperti membangkitkan motivasi hingga meningkatkan performa untuk mencapai suatu tujuan.. Namun, jika terlalu berlebihan, stres dapat memicu respons negatif pada tubuh yang kemudian bisa berkembang menjadi penyakit. Beberapa penyakit yang berpotensi muncul akibat efek stres kronis antara lain stroke, serangan jantung, luka pada lambung, hingga depresi.

Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) digolongkan sebagai gangguan reaksi psikologis yang bersifat abnormal. Reaksi ini muncul akibat paparan stressor traumatis yang ekstrem dan berlebihan sehingga dapat berdampak negatif bagi kondisi fisik maupun psikis. Gangguan ini dapat menyebabkan rasa kecemasan yang berlebihan dan mempengaruhi ingatan suatu kejadian traumatis secara berkelanjutan. Kejadian tersebut dapat berupa perang, pelecehan seksual, perundungan, kekerasan fisik, kecelakaan, kematian seseorang, dan bencana alam. Dampak lain bagi individu adalah gangguan pada suasana hati, defisit memori, hingga penurunan atensi.

Secara umum, gejala PTSD yang dialami individu terbagi menjadi tiga fase yang membentuk satu siklus secara berulang, yakni intrusive, arousal, dan avoidance. Fase intrusive merupakan fase munculnya “kilas balik” atau mengingat kejadian terkait dengan rasa trauma penderita. Selanjutnya, fase arousal muncul saat individu mengalami peningkatan rasa tegang dan cemas yang dipicu oleh peristiwa atau percakapan terkait dengan pengalaman traumatis mereka. Fase ini dapat menimbulkan gejala insomnia, ketidakmampuan untuk berkonsentrasi, rasa takut yang terus menerus, dan mudah terkejut. Terakhir, fase avoidance merupakan fase saat penderita mencoba untuk menjauhi lingkungan serta menutup perasaan tidak nyaman akibat trauma yang dialami.

Bila tidak ditangani lebih lanjut, seiring waktu kondisi ini dapat membuat individu merasakan kehilangan minat pada aktivitas yang dulu mereka sukai, muncul perasaan tertekan, bersalah, ataupun khawatir yang berkepanjangan hingga menghantarkan mereka menjadi mati rasa secara emosional.

 

Dinamika Gelombang Otak

Penggunaan perangkat teknologi seperti Muse™ EEG dapat menampilkan karakteristik gelombang otak alfa dan beta melalui aplikasi Mind Monitor. Aplikasi ini sangat membantu untuk melihat situasi dan kondisi mental yang dihadapi oleh responden saat sesi coaching berlangsung. Adanya sensor elektroda pada perangkat Muse™ EEG mampu menangkap aktivitas gelombang listrik di otak dan memberikan laporan langsung sesuai kondisi responden.

1. Gelombang Otak Alfa

Hasil analisis data gelombang otak alfa menunjukkan perubahan aktivitas yang nyata setelah korban bencana menjalani sesi coaching. Perubahan aktivitas ini dapat diketahui dari perbedaan aktivitas gelombang otak antara sesi awal dan akhir dari sesi coaching. Rata-rata gelombang alfa responden menunjukkan penurunan aktivitas yang signifikan di kedua area anterofontal, baik di kiri dan kanan  (AF7 dan AF8). Secara keseluruhan, aktivitas gelombang alfa tergolong rendah di area AF.

Penurunan aktivitas ini juga mengindikasikan terjadinya defisit pada aktivitas otak yang terlibat dalam fungsi-fungsi eksekutif, seperti fungsi kontrol gerakan motorik dan atensi. Defisit atensi merupakan salah satu ciri khas dari individu yang terdampak PTSD. Fenomena ini diduga terjadi sebagai bentuk penghindaran para responden terhadap kejadian traumatis yang mereka alami. Hal ini disebabkan saat sesi coaching berlangsung, para responden secara tidak langsung mengingat kembali pengalaman traumatisnya. Oleh sebab itu, kondisi defisit atensi dapat menjadi penanda (marker) penting bahwa para responden masih dalam kondisi PTSD. Meski demikian, bila dikaitkan dengan fungsi area AF, maka aktivitas gelombang alfa berasosiasi dengan perhatian penuh (attentiveness) dan kewaspadaan (alertness) saat sesi coaching berlangsung, sehingga mampu mempengaruhi responden bersikap cukup rileks.

Sebaliknya, aktivitas gelombang alfa di kedua area temporoparietal (TP9 dan TP10) justru meningkat secara signifikan. Aktivitas gelombang alfa yang lebih tinggi di area TP menunjukkan sisi emosional para naracoba yang cenderung lebih kuat. Peningkatan aktivitas gelombang alfa di area TP9 dan TP10 berkontribusi terhadap tiga kemungkinan. Pertama, kondisi naracoba menjadi semakin rileks setelah sesi coaching berlangsung. Kedua, munculnya lonjakan emosional. Terakhir, adanya proses ingatan yang muncul kembali (memory retrieval) terkait kejadian traumatis di masa silam.

 

2. Gelombang otak beta

Berbeda dengan gelombang alfa, tampilan gelombang beta menunjukkan nilai yang tinggi saat sesi awal coaching dan berangsur menurun signifikan sejalan dengan usainya sesi coaching. Penurunan ini ditemukan di seluruh area, yakni AF dan TP. Gelombang beta berasosiasi dengan proses berpikir atau konsentrasi yang aktif, sibuk, hingga kecemasan, bergantung seberapa intens aktivitas gelombang beta di area otak tertentu. Semakin tinggi aktivitas gelombang beta pada individu, maka orang tersebut kemungkinan besar mengalami kecemasan yang tinggi.

Penurunan aktivitas gelombang beta yang terjadi di kedua area anterofrontal mengindikasikan proses berpikir yang intensif meskipun dapat diasumsikan para responden tengah berada dalam konsentrasi yang sudah berkurang. Sementara itu, penurunan gelombang beta di area temporoparietal, yakni TP 9 dan TP 10, berkaitan dengan menurunnya tingkat kecemasan dan proses pelepasan emosional. Keduanya saling berhubungan dan membentuk indikasi bahwa telah terjadi penurunan tingkat stres dan munculnya rasa rileks pada responden setelah melalui sesi coaching.

Kondisi ini diduga berkaitan dengan proses trauma healing yang dialami oleh para responden selama sesi coaching, dimana selama sesi coaching para responden diarahkan untuk meringankan perasaan emosional mereka serta melakukan proses refleksi terhadap diri sendiri.  Agar dapat lebih meringankan beban traumatis para responden maka perlu dilakukan sesi coaching lanjutan sehingga dapat dicapai hasil trauma healing yang optimal. Sesi coaching lebih lanjut dapat difokuskan bagaimana mengikis rasa trauma secara bertahap dengan meningkatkan rasa percaya diri agar dapat melakukan aktivitas harian secara normal.

Dampak Sesi Coaching

Hasil dari perubahan aktivitas gelombang otak ini juga sesuai dengan ungkapan yang disampaikan oleh para responden sendiri. Hampir semua responden mengaku merasa lega setelah berinteraksi dengan para coach masing-masing. Meski sering tampak responden menangis saat mengingat kembali peristiwa bencana longsor, namun perasaan lega yang muncul berkaitan dengan proses pelepasan emosional. Setelah sesi coaching usai, banyak responden yang notabene menjadi korban bencana longsor masih memendam perasaan negatif pada diri mereka masing-masing. Berbagai perasaan tersebut mencakup rasa sedih, kecewa, marah, dan kecemasan. Dampak dari memendam perasaan yang lama ini akan berpengaruh terhadap kemunculan gejala PTSD, atau bahkan bisa memperparah gejala tersebut. Salah satu ciri PTSD yang paling umum adalah ketidakstabilan dalam regulasi dan pengendalian stres yang sering muncul di fase arousal. Stres dalam kadar yang berlebihan justru dapat menjadi gangguan yang berbahaya dari segi psikologis dan fisiologis. Oleh karena itu, sesi coaching sangat bermanfaat bagi para korban bencana untuk memulai langkah baru yang positif dalam melanjutkan kehidupan.

Lebih jauh lagi, pada saat sesi coaching berlangsung, adanya proses komunikasi dan interaksi antara coach dengan responden berlangsung aktif secara dua arah. Pendekatan yang ramah dari para coach yang profesional di saat sesi coaching membuat situasi menjadi lebih cair dan menenangkan. Para coach secara terus menerus memberikan pertanyaan yang menggugah dan memberi inspirasi kepada para responden yang diarahkan kepada proses refleksi diri. Melalui pertanyaan-pertanyaan tersebut, responden diajak untuk mampu berpikir, merenung, mencari solusi, dan memberikan alternatif melepaskan ingatan atau beban emosional yang mereka alami. Situasi seperti inilah yang dapat digolongkan sebagai proses trauma healing.

Sebagai kesimpulan, perangkat Muse™ EEG yang berfungsi untuk mengukur gelombang otak responden korban bencana longsor merupakan salah satu bukti penggunaan teknologi dan menjadi metode yang bermanfaat untuk mengetahui efek dari sesi coaching. Meski  coaching yang dilakukan baru sebanyak satu kali, namun sudah dapat menunjukkan perubahan aktivitas gelombang otak para responden secara nyata. Perubahan itu ditandai dengan penurunan gelombang alfa di area anterofrontal, penurunan gelombang beta di seluruh area, serta peningkatan gelombang alfa di area temporoparietal. 

Hasil perubahan tersebut membuktikan adanya pelepasan rasa stres emosional akibat kejadian traumatis yang dialami oleh responden sebelumnya, meski masih tampak beberapa gejala PTSD. Berdasarkan hasil tersebut, diperlukan sesi coaching lebih lanjut bagi para korban agar dapat memulihkan rasa traumatisnya dan mengembalikan kepercayaan diri para responden untuk bangkit dan memulai kehidupan sehari-hari secara normal.

734

views