Teknologi IoT Bantu Peternak Deteksi Ternak

Alat untuk membantu quality assurance para peternak rakyat bernama IoT Qurban, tengah dalam pengembangan. Nanti, peternak dan konsumen dapat melihat ragam data, termasuk riwayat kesehatan, pertumbuhan hewan ternak, dengan menempelkan ponsel pintar melalui fitur near field communication (NFC) pada radio-frequency identification (RFID).

IOT Qurban dikembangkan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Institut Teknologi Bandung (ITB), bekerja sama dengan Rumah Amal Salman. Ketua Program Pengabdian Masyarakat Bottom-Up LPPM ITB 2023, Parsaulian Siregar menyampaikan, alat tersebut masih dalam tahap pengembangan.

"Kami masih terus melakukan pengembangan. Nanti, alat ini bisa lebih praktis seperti thermogun," ucap Parsaulian saat memeragakan IoT Qurban di Kampoeng Ternak, Jalan Situ Gunting, Babakan Ciparay, Kota Bandung seperti dilaporkan kontributor "PR" Satira Yudatama, akhir pekan lalu.

Dia mengatakan, IoT Qurban memiliki sejumlah perbedaan dengan kalung sehat yang mencantumkan kode bar pada hewan kurban.

Perangkat RFID IoT Qurban yang menyimpan rekaman data, menempel permanen pada bagian tubuh hewan secara umum, pada telinga. Sementara itu, kode bar kalung sehat, biasanya hanya terpasang sementara waktu.

Saat hendak melihat data, Parsulian menyebutkan, peternak maupun konsumen tinggal menempelkan ponsel dengan fitur NFC pada RFID. "Tak akan tertukar dengan yang lain. Teknologi itu sama dengan diterapkan pada kartu ATM maupun e-KTP," ucap dia.

Manfaat

Manfaat penggunakan IoT Qurban, kata dia, tak hanya menjelang ibadah kurban, tetapi juga untuk mengamati pertumbuhan ternak dari waktu ke waktu. Berdasarkan pengamatan berbasis data akurat, peternak bisa meningkatkan kualitas hewan ternak masing-masing.

Lantaran bisa merekam riwayat kesehatan hewan, Parsaulian mengatakan, peternak bisa mengambil langkah cepat untuk mencegah penularan penyakit saat terjadi wabah. Peternak dapat mengidentifikasi secara tepat hewan yang terpapar virus lalu segera mengisolasi.

"Kami berupaya, alat bisa turur merekam perilaku hewan. Misal, perilaku saat diberi pakan, lincah ikut berebut dengan yang lain, atau terasing. Itu bagian yang masih dalam tahap pengembangan," ucap dia.

Manfaat penting lainnya dari alat tersebut, kata dia, peternak dapat mengoptimalkan penjualan di luar menjelang Iduladha. Lantaran terpasang permanen, peternak dan konsumen sama-sama mengetahui kondisi hewan, walaupun bukan menjelang Iduladha.

LPPM ITB dan Rumah Amal Salman turut bekerja sama dengan Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung. Kepala Laboratorium Informatika Program Studi Informatika UM Bandung, Ahmad Suryan mengaku siap mendukung pengembangan alat itu.

Sementara itu, salah seorang pemilik Kampoeng Ternak, Rifki Baraba menuturkan, pihaknya sangat memerlukan alat seperti IoT Qurban. Apalagi dia pernah mengalami pembelian hewan ternak yang tak sesuai dengan kesepakatan saat transaksi.

392

views