Rekacipta ITB Edisi 25 Mei 2021 - Media Indonesia

Simpul-Simpul Kesehatan sebagai Mitra Apoteker

Tags: ITB SDGsPartnership for the goals

Saat sakit, masyarakat umumnya mencari obat bebas untuk meringankan penyakit yang dideritanya. Sayangnya, mereka tidak memiliki pengetahuan memadai tentang penggunaannya. Padahal, penggunaan obat yang baik dan benar sangat penting untuk keberhasilan pengobatan. Selain itu, penggunaan obat yang baik dan benar dapat menurunkan angka kejadian hal-hal yang tidak diinginkan akibat kesalahan penggunaan obat.

Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kemenkes 2013 diketahui dari 35,7% rumah tangga yang menyimpan obat, 81,9% di antaranya menyimpan obat keras dan antibiotik yang didapatkan tanpa resep dokter. Obat ini digunakan untuk swamedikasi atau pengobatan mandiri dari penyakit atau gejala yang diderita. Hal tersebut menunjukkan sebagian besar masyarakat Indonesia belum memiliki pengetahuan yang baik terkait dengan cara swamedikasi serta penggunaan obat yang baik, benar, dan rasional.

Inilah yang menjadi latar belakang misi Tim Pengabdian Masyarakat dari sekolah farmasi Institut Teknologi Bandung (ITB) di kawasan Pangandaran, Jawa Barat, pada Agustus tahun lalu. Tim ini diketuai Dr rer nat apt Sophi Damayanti, MSi, dengan anggota sejumlah dosen muda, yaitu Apt Bhekti Pratiwi, MSi, Apt M Azhari, MSi, Sri Indah Ihsani, MOR, Iwa Ikhwan Hidayat, MOR, dan Apt Winni Nur Auli, MSi. Kegiatan ini didukung penuh oleh hibah dari ITB melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM).

Kegiatan di Pangandaran ini merupakan rangkaian dari pengabdian masyarakat sebelumnya yang dilaksanakan di Kota Madya Bandung dan Kabupaten Bandung untuk melatih kader kesehatan sebagai mitra apoteker. Pada pengabdian masyarakat sebelumnya telah disusun satu buku yang digunakan untuk pedoman selanjutnya, yaitu Kader Kesehatan sebagai Mitra Apoteker yang dibagikan secara gratis. Buku ini disusun oleh dosen dan alumni sekolah farmasi ITB, yaitu Sophi Dama yanti, Yangie Dwi Marga Pinanga, Muhammad Azhari, Bhekti Pratiwi, Qouniitah Fadhilah, Tursino, dan Benny Permana.

Selama pandemi covid-19, Pangandaran sebagai tempat tujuan pariwisata warga Jawa Barat ikut terpukul. Jumlah turis menurun drastis. Ekonomi pun terguncang. Namun, pada Agustus lalu, pandemi seperti mereda. Pangandaran menjadi zona hijau sehingga izin kegiatan ini dapat diperoleh walau dengan tetap melaksanakan protokol kesehatan yang ketat.

Pelaksanaan Pengabdian Masyarakat kali ini bekerja sama dengan Alumni Farmasi ITB, Apt Titi Sudiati, Msi, yang bekerja di Dinas Kesehatan Kabupaten Pangandaran. Kegiatan ini selaras dengan Program Dinas Kesehatan Kabupaten Pangandaran dan Ikatan Apoteker Indonesia cabang Pangandaran, yaitu sosiali sasi penggunaan obat yang baik dengan jargon Dagusibu (Dapatkan, Gunakan, Simpan, Buang) dan Germas (Gerakan Masyarakat Sehat).

Sebelumnya, kegiatan ini telah diawali dengan survei pengetahuan masyarakat lewat kuesioner. Selanjutnya, dilakukan pelatihan kader tentang pengetahuan, pengobatan sendiri (swamedikasi), dan penggunaan obat yang rasional, serta penggunaan bahan tambahan pangan yang aman dikonsumsi.

Seperti kegiatan yang sebelumnya dilakukan di Kota Madya dan Kabupaten Bandung, kegiatan yang dilakukan di Pangandaran kurang lebih sama, yakni melatih kader kesehatan sebagai mitra apoteker. Dari temuan tim ini di sana, swamedikasi yang dilakukan masyarakat umumnya dilakukan untuk mengatasi gangguan kesehatan ringan mulai batuk, pilek, demam, sakit kepala, mag, gatal-gatal, hingga iritasi ringan pada mata. Terdapat banyak masalah yang melatarbelakangi swamedikasi di kalangan masyarakat, di antaranya harga obat dan pelayanan kesehatan yang tinggi serta adanya pergeseran pola pengobatan dari kuratif dan rehabilitatif ke arah preventif dan promotif.

Pandangan harga obat mahal di kalangan masyarakat tidak lepas karena minimnya pengetahuan akan obat generik, termasuk khasiat obat generik jika dibandingkan dengan obat bermerek. Hal ini dapat dilihat dari hasil Riskesdas 2013 yang menunjukkan sebanyak 85,9% masyarakat Indonesia belum memiliki pengetahuan yang benar terkait dengan obat generik walaupun kini sudah era Jaminan Kesehatan Nasional.

Peran apoteker

Masalah terkait cara swamedikasi, peng gunaan obat yang tidak rasional serta pengetahuan-pengetahuan lainnya terkait dengan obat dan kesehatan tidak lepas dari peran apoteker dalam mengedukasi masyarakat. Proses edukasi dapat dioptimalkan dengan memberdayakan posyandu atau kader kese hatan masyarakat.

Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1027/Menkes/SK/IX/2004, apoteker adalah sarjana farmasi yang telah lulus pendidikan profesi, dan telah mengucapkan sumpah berdasarkan peraturan perundang undangan yang berlaku dan berhak melakukan pekerjaan kefarmasian di Indonesia sebagai apoteker.

Seorang apoteker harus memberikan contoh yang baik di dalam lingkungan kerjanya serta harus bersedia menyumbangkan keahlian dan pengetahuannya kepada masyarakat. Seorang apoteker hendaknya selalu melibatkan diri di dalam pembangunan nasional, khususnya di bidang kesehatan. Sebagai bagian dari tenaga kesehatan, mereka juga harus menjadi sumber informasi sesuai dengan profesinya bagi masyarakat dalam rangka pelayanan dan pendi dikan kesehatan.

Masih kurangnya jumlah apoteker yang dibutukan di seluruh Indonesia menandakan perlunya dibentuk kader-kader kesehatan sebagai mitra apoteker di berbagai daerah. Masalah terkait dengan penggunaan obat yang tidak rasional tersebut merupakan peran apoteker dalam proses edukasi masyarakat. Proses edukasi tersebut dapat dengan lebih mudah dilaksanakan dengan pembentukan kader kesehatan masyarakat.

Oleh karena itu, melalui pengabdian masyarakat ini diperoleh kader kesehatan se bagai mitra apoteker yang dapat membantu peningkatan derajat kesehatan masyarakat dalam hal memberikan informasi mengenai penanganan obat dan makanan. Pangandaran menjadi lokasi yang tepat untuk pelaksanaan kegiatan ini. Kader kesehatan juga dapat diberikan pengetahuan terkait dengan po tensi sumber daya alam di daerahnya untuk diberdayakan sebagai layanan kesehatan obat tradisional.

Selain pemberian wawasan terkait dengan cara penggunaan obat yang baik, benar, dan rasional, edukasi mengenai pangan yang aman dan berkualitas dapat membekali kader kesehatan untuk menjadi mitra apoteker. Tidak menutup kemungkinan, bentuk kemi traan dengan mengoptimalkan peran apoteker 

dan peran kader kesehatan masyarakat, dapat menjadi sebuah program yang berkelanjutan dan berkesinambungan.

Salah satu yang dilatih pada kader kesehatan ialah informasi dasar cara membaca label obat seperti yang dilampirkan dalam grafis. Selain itu juga dibagikan buku yang membahas me ngenai bahan tambahan pangan yang aman dikonsumsi. Bahan tambahan pangan (BTP) adalah bahan yang ditambahkan dalam pa ngan untuk memengaruhi sifat dan bentuk pangan.

Dalam kegiatannya tim ITB juga menginfor masikan beberapa bahan berbahaya supaya tidak digunakan masyarakat sesuai dengan informasi yang diberikan Badan Pengawas Obat dan Makanan. Salah satunya informasi mengenai boraks yang banyak disalahguna kan. Terutama oleh pedagang mi bakso yang merupakan makanan kesukaan warga Jawa Barat.

Selanjutnya, dilakukan pelatihan kader sebagai mitra apoteker. Pelatihan mengenai penanganan obat dan makanan dilaksanakan dengan peserta 20 kader yang berasal dari lima puskesmas di Kabupaten Pangandaran. Pelatihan ini dilaksanakan pada 22 Agustus 2020 di Aula Puskesmas Cikembulan. Pelatihan kader dibagi menjadi dua sesi, yaitu pre sentasi oleh pemateri dan workshop.

Sebagai tanggung jawab akhir, tim ITB

ini juga melakukan diseminasi poster hasil kegiatan dalam kegiatan Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) Ikatan Apoteker Indonesia 2020 yang dilaksanakan secara virtual dan dipresentasikan pada 5 November 2020 de ngan judul Knowledge Level Study on Self Medication in Residents with Healthand Non Health Educated Background in Tourism Area Pangandaran, West Java, Indonesia.

"Aya kadeudeuh aya kanyaah. Ngabagi rasa bungah jeung bagja duaan," demikian Doel Sumbang bersenandung. Kira-kira se perti penggalan lirik itulah yang dilakukan tim ITB yang berbagi kasih (kanyaah) dan kebahagiaan (bungah) dengan masyarakat Pangandaran. (M-4)

1244

views