Produk Kotoran Sapi di Pameran Desain Bergengsi

Produk Kotoran Sapi di Pameran Desain Bergengsi

Tags: ITB4People, Community Services, SDGs9

Limbah kotoran ternak yang tidak terkelola dengan baik menjadi permasalahan bagi lingkungan di sekitar lahan ternak. Bukan hanya di Indonesia, permasalahan terkait pencemaran lingkungan akibat limbah kotoran ternak juga menjadi isu umum yang belum dapat terpecahkan secara signifikan. Pencemaran limbah kotoran ternak dapat berdampak pada kualitas udara dan air bagi masyarakat peternak juga non-peternak yang hidup berdampingan. Namun, masyarakat yang hidup berdampingan dengan permasalahan limbah ternak ini juga semakin terbiasa dengan bau menyengat di sekitar rumah tinggalnya dikarenakan sulitnya mencari solusi dari permasalahan lingkungan dan sosial ini.

Bukan tanpa upaya, pihak KPSBU di Lembang salah satunya, yang berperan besar dalam teknis pengumpulan hasil olah susu dari peternakan yang tersebar di beberapa kampung di daerah Kabupaten Bandung Barat juga memiliki peternakan percontohan di daerah Ciater Jawa Barat. Dairy Village Ciater, nama tempat peternakan terintregrasi ini memiliki sistem pengolahan dan manajemen ternak yang baik hingga pengolahan limbah ternak yang juga memanfaatkan teknologi tepat guna dalam menanggulangi masalah limbah ternak ini. Sistem terintegrasi yang dimiliki di tempat peternakan percontohan ini tetapi belum tentu dapat diterapkan di masing-masing kampung ternak di kawasan Lembang dikarenakan kontur tanah yang berundak dan juga menyatunya peternakan dengan rumah warga di lahan yang terbatas. Beberapa  upaya pemanfaatan kotoran ternak menjadi energi menjadi biogas juga pernah disosialisasikan kepada warga perternah di sekitar Lembang, akan tetapi permasalahan teknis kerap muncul. Sehingga akhirnya solusi biogas ini juga sulit untuk diterapkan di wilayah peternakan yang menyatu dengan rumah warga tersebut.

Selain pemanfaatan kotoran sapi menjadi  pupuk alami atau sumber energi biogas yang umumnya kita ketahui dan telah diupayakan sebelumnya di kawasan Lembang, tim riset dari Pusat Penelitian Produk Budaya dan Lingkungan, ITB (PP-PBL ITB) berupaya untuk mengolah  limbah kotoran sapi menjadi material baru yang dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan  produk fungsional. Tim peneliti PP-PBL ITB yang juga tergabung sebagai pengampu mata kuliah Revitalisasi Desain di jenjang Magister Desain ITB melakukan upaya bersama masyarakat setempat untuk melakukan dialog dan pemecahan masalah di daerah tersebut. Terdapat berbagai kata kunci yang didapat dan salah satunya adalah pencemaran limbah kotoran sapi di area perkampungan dimana sejumlah 7-8 peternak tinggal berdampingan bersama warga non-peternak lainnya. Upaya pemecahan masalah yang coba diusung dalam keilmuan desain yakni dengan mengolah limbah kotoran sapi menjadi bahan material mentah sederhana seperti batu bata dan bentuk produk fungsional lainnya seperti pot tanaman. Penelitian ini terus dikembangkan sejalan dengan pemetaan potensi warga Kampung Buka Tanah, untuk menjawab isu lingkungan yang ada di daerah tempat tinggal mereka.

Limbah kotoran sapi yang menumpuk di Kampung Bukatanah ini kemudian digencarkan untuk diolah menjadi material utama dalam pengembangan produk fungsional dan sudah mengikuti beberapa pameran desain tingkat nasional hingga internasional. Melalui proses ideasi dalam ranah keilmuan desain dan pendekatan eksplorasi material juga desain partisipatoris, bertumpuknya limbah kotoran sapi yang menjadi masalah utama pencemaran lingkungan di wilayah Kecamatan Lembang,  Kabupaten Bandung Barat ini berhasil dikembangkan menjadi produk yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam pengembangan bentuk desain produk berbasis kotoran sapi ini, tim peneliti PP-PBL yang dipimpin oleh Dr. Adhi Nugraha, MA., pengajar di Desain Produk Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB, memulai gagasan untuk mengolah material dan kreasi produk tepat guna dengan memanfaatkan limbah ternak sapi menjadi beragam material yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai produk, seperti lampu meja, kursi, hingga selubung pengeras suara (speaker casing). Seluruh proses ideasi dan pengolahan bahan hingga pembuatan prototipe dilakukan berpusat di Laboratorium Pusat Penelitian Produk Budaya dan Lingkungan di Kampung Bukatanah, Kabupaten Bandung Barat bersama masyarakat setempat. Dalam hal ini, bentuk luaran desain dibuat lebih kompleks untuk mencapai nilai estetika yang tinggi  tetapi juga  memiliki nilai fungsi yang tepat dengan menambahkan rangkaian elektronik sederhana di dalam material casing yang terbuat dari limbah kotoran sapi tersebut.

Ide pengembangan yang kemudian disosialisasikan kepada masyarakat Bukatanah ini dimulai sejak tahun 2021 dan terus dilakukan hingga saat ini (Desember, 2022). Penelitian ini akan secara konsisten berlanjut dengan secara aktif berkolaborasi dengan masyarakat setempat yang semakin bertambah. Antusiasme warga untuk berpartisipasi dan melatih diri mengolah produk berbasis kotoran sapi ini terus bertambah. Berbagai lapisan masyarakat seperti kelompok ibu-ibu, bapak-bapak peternak, remaja karang taruna, dan pemangku kebijakan lokal memberikan respon positif di setiap kesempatan pelatihan dan acara berkumpul berbincang bersama warga. Antusiasme warga dapat ditunjukan dengan kehadiran warga di lokakarya pelatihan juga inisiasi untuk membuat forum pembicaraan terpusat pada aplikasi pesan Whatsapp berjudulkan “Bukatanah Berkarya”. Inisiasi ini juga merupakan ide dari hasil perbincangan bersama kelompok masyarakat yang dilakukan di tanggal 16-17 November di Laboratorium Pusat Penelitian Produk Budaya dan Lingkungan di Kampung Bukatanah. Pelatihan lokakarya tersebut dihadiri oleh 20 orang warga Kampung Bukatanah, 4 orang dari pihak KPSBU Lembang, dan 8 orang tim riset dari PP-PBL ITB.

Pengolahan Material Kotoran Sapi

Pengolahan bahan diawali dengan proses pencucian dan pemisahan material kimiawi kotoran hewan, seperti gas amonia dan gas HCl (hidrogen kolorida), serta material di sekitar kandang sapi yang tercampur seperti tanah atau kerikil. Pada dasarnya, aroma khas kotoran terdapat di gas alamiah hasil pencernaan sapi akan menguap dan terpisah saat proses pencucian dan pengeringan. Rasio yang digunakan untuk proses pencucian ini adalah 1:2 antara kotoran sapi dan air. Reaksi penetralan antara asam dan basa ini yang kemudian menjadi bahan dasar olahan produk fungsional yang berasal dari limbah kotoran sapi. Air hasil perasan dari proses mencuci dan mengeringkan ini, kedepannya akan dikembangkan menjadi pupuk cair, difiltrasi, atau di stilasi secara sempurna.

Material kotoran sapi yang telah dicuci akan diperas dan dikeringkan hingga menjadi bahan yang siap diolah berupa bubuk kasar tanpa bau menyengat khas kotoran sapi, dikarenakan zat kimiawi hasil pencernaan ternak sudah menguap dalam proses pengeringan. Proses fisik dan kimiawi secara natural di dalam tubuh hewan ternak menghasilkan tekstur solid yang kemudian dimanfaatkan karakteristik khasnya menjadi bahan mentah olahan produk yang terbuat dari kotoran sapi. Ekstraksi tekstur dari kotoran sapi inilah yang akan dicampurkan dengan bahan adhesif alami seperti getah pohon dan bahan adhesif buatan (produk industri). Penggabungan antara kotoran sapi siap olah dan adhesif ini yang dapat diolah menjadi bahan bertekstur seperti adonan dan dibentuk pada cetakan yang telah ditentukan. Penggunaan bahan organik dan sederhana dimaksudkan agar pengolahan bahan limbah kotoran sapi bersifat mandiri dan berpusat di area ternak tersebut dan tidak tergantung pada bahan non-organik tertentu yang perlu didapatkan jauh dari perkampungan ternak.

Dengan teknik sederhana dengan penggunaan benda sehari-hari dalam pengolahannya, keterampilan mengolah kotoran sapi ini kemudian dikembangkan dan disosialisasikan kepada masyarakat yang bermukim sekitar di Kampung Buka Tanah, Kecamatan Lembang, yang banyak bekerja sebagai peternak sapi. Keikutsertaan komunitas dan warga lokal dalam  proses desain menjadi harapan untuk menjawab masalah lingkungan dari melimpahnya hasil limbah ternak di daerah ini dengan digerakkan langsung oleh masyarakat sekitar.

Dalam proses mengenalkan teknik pengolahan limbah kotoran sapi ini kepada masyarakat setempat, terdengar komentar dari peserta lokakarya yang berbincang dan menyamakan bentuk bahan olahan seperti bahan makanan yang biasanya mereka temukan sehari-hari. Peserta sering menganalogikan material olahan kotoran sapi ini terlihat seperti “adonan pasta” yang dapat dipipihkan, atau seperti istilah “kulit pisang molen” yang sering terdengar saat proses pengolahan berlangsung. Hal ini menjadi inspirasi untuk kegiatan pengembangan masyarakat di level akar rumput, karena bahasa yang digunakan dalam proses sosialisasi sangat penting untuk diperhatikan. Strategi dalam berkomunikasi tersebut dirasa efektif dalam proses transfer ilmu dua arah antara pemateri dari pihak PP-PBL ITB dan warga peserta pelatihan lokakarya. Penggunaan bahasa yang sederhana dan bersifat sehari-hari menjadi kunci kesuksesan pelatihan yang menjadi wadah bertemunya warga sebagai pihak internal suatu sistem tatanan sosial dan pihak luar dalam hal ini PP-PBL ITB yang berproses mencari solusi permasalahan limbah kotoran sapi dengan proses desain partisipatoris yang dilakukan bertahap dan berkelanjutan.

Sebelum memutuskan adanya pelatihan lokakarya ini, proses berkenalan dengan warga dilakukan melalui pendekatan etnografi dari bulan Juli-September di Kampung Bukatanah. Penelitian etnografi tersebut dilakukan secara individu oleh periset dari PP-PBL ITB dan dilakukan selama 3 bulan untuk mengambil data lapangan. Tidak terbatas pada pengembangan teknik pengolahan material, pihak luar yang mengadakan program pengembangan penting untuk mengerti struktur sosial dan kebiasaan yang ada pada konteks sebuah masyarakat. Mulai dari pentingnya mengolah ide bersama warga melalui obrolan sehari-hari selama penelitian etnografi dilakukan, memahami jadwal keseharian warga, hingga mengerti pandangan maupun visi dari  kelompok masyarakat. Proses pemahaman ini penting dilakukan dan diperhatikan untuk dapat menyamakan visi antara peneliti dan masyarakat setempat dalam melaksanakan proyek pengembangan komunitas. Pada prakteknya, penyusunan jadwal lokakarya bersifat sangat menyesuaikan rutinitas warga yang berprofesi sebagai peternak dan non-peternak. Sebagai hasilnya, masyarakat Kampung Bukatanah sangat antusias dan dapat mengikuti jadwal pelatihan dengan baik selama dua hari pelatihan lokakarya.

Dalam wujud pengembangan yang berkelanjutan, tim riset PP-PBL ITB dan warga terus berkomunikasi dan memiliki jadwal rutin berkarya pada tiap akhir pekan semenjak pelatihan lokakarya dilakukan di Bulan November tersebut. Antusiasme warga yang tinggi menjadi harapan besar untuk tim PP-PBL ITB dalam melakukan pengembangan produk berbasis kotoran sapi ini.

Proses ideasi bentuk produk dan pembagian kerja di dalam pengolahan kotoran sapi ini diinisiasi oleh warga Kampung Bukatanah, seperti contoh, pengolahan bahan mentah dilakukan oleh bapak-bapak peternak, dan proses pembentukan produk dipimpin oleh kelompok ibu-ibu dan remaja. Pembagian kerja ini disepakati bersama pada sesi diskusi akhir dari program lokakarya yang dilakukan di Laboratorium PP-PBL ITB. Secara tidak langsung, sistem yang baru diinisiasi tersebut bersifat gotong royong dan menjadi semangat baru bagi warga Kampung Bukatanah untuk berkarya dan membuka peluang baru usaha rumahan yang dapat mereka jalankan kedepannya. Proses memasyarakatkan cara mengolah limbah kotoran sapi dari mentah hingga menjadi produk bukanlah akhir dari proses penelitian yang dilakukan tim PP-PBL ITB. Intensi memasarkan produk berbasis kotoran sapi ini juga menjadi fokus yang terus diupayakan bersama seiring berjalannya riset pengembangan masyarakat yang berbasis pada nilaimultidisiplin keilmuan antara bidang desain, teknik, dan antropologi.

Sejalan dengan proses mengenalkan kemampuan mengolah limbah kotoran ternak kepada masyarakat di Kampung Bukatanah, desain material kotoran sapi ini dikembangkan untuk produk fungsional dengan kompartemen listrik di dalamnya. Pada ajang acara pameran desain Singapore Design Week 2022, produk gagasan Dr. Adhi Nugraha dan tim menjadi sorotan pada tema “Innovative Upcycling,” bersama dengan produk olahan limbah lainnya. Mengenai kesempatannya dalam ajang pameran ini

“Di luar ekspektasi saya, ternyata banyak sekali pihak yang tertarik terhadap material kotoran sapi ini, bahkan banyak tawaran untuk memasarkan produk berbasis kotoran sapi ini. Misalnya dari Singapura, India, Australia, dan Amerika Serikat,”

pungkas Dr. Adhi mengenai acara yang digelar pada 16-25 September, 2022 lalu.

Setelah pameran di Singapore, produk kotoran sapi ini pun terkurasi mengikuti ajang pameran ICAD 12: Fragmenting Yesterday, Reshaping Tomorrow yang berlangsung dari 20-27 November, 2022 lalu di Jakarta, dalam kategori “Featured: Cow Dung Wasteland’s Transformation” (2022). Baru-baru ini, produk berbasis kotoran sapi ini juga diangkat pada acara “JCK 02: ‘Material Alchemy,’ Creatively Connecting Communities – JIA by OCK” yang diselenggarakan di 9-11 Desember 2022 ini di Plataran Canggu, Bali.

Berawal dari masalah keseharian, pengembangan material  limbah ternak ini menjadi potensi untuk mengembangkan  produk lainnya di masa depan. Khususnya dalam kasus ini, pengolahan material kotoran sapi ini  perlu memiliki nilai keberlanjutan dan dapat menjadi bagian dari kegiatan keseharian  masyarakat setempat, sehingga gagasan desain partisipatoris yang dilakukan oleh  tim  PP-PBL ITB menjadi krusial untuk dilakukan.

571

views