Pererat Keindonesiaan Melalui Pariwisata Desa Kabau Darat

Dari Sabang sampai Merauke berjajar pulau-pulau

Sambung menyambung menjadi satu itulah Indonesia

Setiap anak bangsa Indonesia pasti tidak asing dengan bait lagu diatas. Lagu yang diajarkan sejak sekolah dasar dan diulang-ulang dinyanyikan setiap ada perayaan hari nasional. Saat menyanyikan lagu tersebut dulu, yang terbayang hanya peta Indonesia yang membentang bagai “jambrud katulistiwa” demikian istilah yang diajarkan kepada kita. Namun, banyaknya pulau yang dimiliki negara kita tidak pernah terbayang dan betul-betul dirasakan jika kita tidak pernah keluar dari pulau tempat tinggal kita. Salah satu yang dapat memfasilitasi kita untuk menjelajah berbagai pulau yang ada di Indonesia yaitu dengan berwisata.

Pembangunan pariwisata sebagaimana yang diamanatkan oleh UU No 10/2009 tentang Kepariwisataan bertujuan tidak hanya untuk mendapatkan keuntungan secara ekonomi semata, akan tetapi juga untuk memupuk rasa cinta tanah air dan memperkukuh jati diri dan kesatuan bangsa. Dalam kontek inilah maka berbagai daya tarik wisata yang ada di seluruh pelosok negeri harus diperkenalkan agar masyarakat Indonesia mengetahuinya dan membuka peluang untuk dikunjungi. Ketika anak bangsa sudah saling mengunjungi dan mengenal satu sama lain, diharapkan keutuhan bangsa dan negara akan semakin erat.  Sebagaimana ungkapan yang biasa kita dengar, tak kenal maka tak sayang, tak kenal maka kenalan.

Tahun 2023 kami berkesempatan melakukan pengabdian kepada masyarakat di Kepulauan Sula, tepatnya di Kecamatan Sulabesi Barat, Desa Kabau Darat. Ketika pertama kali mendengar, lokasi ini masih sangat asing ditelinga bahkan googlemap harus digunakan untuk menemukan lokasi keberadaan Desa Kabau Darat yang ternyata menjadi bagian dari Provinsi Maluku Utara. Desa yang belum banyak dikenal yang terletak di sebuah Pulau yang juga belum dikenal luas. Dari sisi jarak dan akses letak Kepulauan Sula sebenarnya lebih dekat dengan Ambon, Provinsi Maluku.

Aksesibilitas menuju Kepulauan Sula kita dapat menggunakan moda transportasi udara dan laut. Moda transportasi udara dapat dijangkau melalui Bandara Sultan Babullah di Ternate maupun Bandara Patimura di Ambon, yang melayani penerbangan setiap hari senin dan Jum’at. Sementara untuk moda laut, perjalanan dari Ternate dilakukan setiap hari sementara dari Ambon masih terbatas dua kali sepekan. Namun demikian, baik dari Ambon maupun dari Ternate penerbangan dan jalur penyeberangan dapat kita gunakan secara regular setiap pekannya. Pada kesempatan ini sedianya kami menggunakan moda transportasi udara, namun ketika kami sudah menempuh perjalanan udara sekitar 30 menit dari 45 menit seluruh perjalanan yang dijadwalkan, pesawat diputar balik oleh pilot kembali ke Ambon. Setelah mendarat kami baru diberitahu bahwa pesawat yang kami tumpangi mengalami kerusakan mesin bagian kiri sehingga tidak bisa melanjutkan penerbangan. Oleh karean itu, kami menggunakan alternatif moda transportasi laut untuk mencapai Kepulauan Sula yang ditempuh kurang lebih 12 jam pelayaran dengan kapal laut. Dari sini kita sadari bahwa menuju daerah yang bernama Telaga Kabau di Kepulauan Sula bukan hal yang mudah dan murah.

Keramahan Khas Sula

Pulau Sulabesi merupakan salah satu pulau yang menjadi bagian dari Kabupaten Kepulauan Sula. Disinilah Telaga Kabau berada yang menjadi tujuan utama kami dalam melaksanakan pengabdian masyarakat. Telaga Kabau selama ini telah menjadi salah satu kebanggaan masyarakat Sula. Telaga yang keberadaanya saat ini menjadi bagian dari Desa Kabau Pantai dan Desa Kabau Darat. Desa Kabau Darat sendiri merupakan desa hasil pemekaran dari desa induknya yaitu Desa Kabau Pantai. Kata “pantai” dan “darat” merujuk pada lokasi desa yang berada di tepi pantai serta desa yang berada lebih jauh ke arah darat. Kedua desa ini  sebelum tahun 2012 masih bersatu bernama Desa Kabau. Sebagai dua desa yang pada masa lalu merupakan satu kesatuan, maka secara sosial budaya tidak ada perbedaan diantara dua desa ini. Mata pencaharian masyarakat di kedua desa ini sebagian besar merupakan petani dan nelayan, dengan perbedaan mayoritas pekerjaan masyarakat dimasing-masing desa. Masyarakat Desa Kabau Pantai mayoritas mata pencaharian penduduknya sebagai nelayan, dan sebaliknya pekerjaan masyarakat Desa Kabau Darat mayoritas adalah petani.

Hubungan kekeluargaan kedua desa ini tidak bisa dipisahkan karena sesungguhnya mereka masih satu keluarga besar. Tidak heran jika ketika kami berjalan ke Desa Kabau Pantai ditemani oleh Pj. Kepala Desa Kabau Darat, maka kita akan sering mendengar Pj. Kepala Desa mengatakan bahwa itu rumah sepupu, paman dan sebutan rumah keluarga lainnya. Bahkan ketika bertemu dengan siapun di kedua desa tersebut sapaan khas sebuah keluarga mengalir diantara mereka. Hal ini kami saksikan salah satunya ketika Bapak Pj. Kepala Desa Kabau Darat mengajak kami ke kebun kelapa milik keluarganya. Dengan berapi-api Bapak Pj.Kepala Desa Kabau Darat mempromosikan keistimewaan kelapa milik keluarganya yang dikenal sebagai kelapa kenari. Saat akan mengambil kelapa kami tidak membawa pedang sehingga bapak Pj.Kepala Desa Kabau Darat langsung menuju salah satu rumah di Desa Kabau Pantai – karena lokasi kebunnya berada di dekat Desa Kabau Pantai – dan dengan tanpa canggung dengan berteriak (walaupun itu intonasi biasa bagi mereka) meminta pedang kepada yang punya rumah. Seketika yang punya rumah keluar dengan sebilah pedang dan menyerahkannya kepada kami. Adegan yang cukup menarik bagaimana kehangatan dan kedekatan diantara kedua desa ini yang masih terjaga rasa kekeluargaannya dalam berbagai hal hingga saat ini.

Pada saat pertama kali menginjakan kaki di Desa Kabau Darat sambutan meriah dan ramah dari masyarakat desa begitu terasa. Antusiasme warga untuk menyambut telah ditunjukan sejak pagi dengan menanti romobongan datang. Tenda penyambutan telah disiapkan dan upacara penyambutan dilakukan dengan tradisi khas masyarakat Sula dengan simbolis membasuh kaki salah satu perwakilan romobongan. Pengalungan Bunga selamat datang dan prosesi penyampaian sepatah dua patah kata menjadi keharusan sebagai bagian dari prosesi ini.

Yang menjadi puncak penyambutan yaitu disajikannya berbagai kuliner khas Kabau Darat untuk dinikmati semua yang hadir pada acara ini. Kuliner yang disajikan diantaranya adalah nasi labu kuning, olahan terong, olahan daging dan hasil kebun masyarakat yang disajikan dengan melimpah yang menjadikan kedatangan tim pengabdian masyarakat dari ITB menjadi begitu terharu dan merasa terhormat, karena disambut bak pembesar. Inilah keramahan masyarakat khas Desa kabau Darat khususnya dan Kepulauan Sula umumnya. Tidak memandang siapa yang bertamu, karena setiap tamu adalah orang yang harus dihormati dan diberikan pelayanan terbaik, Keramahan ini menjadi modal yang sangat berharga bagi pengembangan kepariwisataan di kawasan ini kedepan. Salah satu aspek dalam Sapta Pesona yaitu ramah tamah telah dipraktekan dengan sangat baik oleh masyarakat.

Telaga Kabau

Telaga Kabau merupakan sebuah danau yang terletak di bibir pantai dan secara budaya memiliki sejarah panjang yang terkait erat dengan keberadaan masyarakat di kawasan ini. Telaga Kabau selama keberadaannya telah berperan dalam menjaga keseimbangan ekosistem sekitar kawasan ini. Keberadaan hutan bakau (mangrove) dan pepohonan di sekitar telaga telah menjaga keseimbangan kawasan ini dari abrasi pantai sekaligus juga menjadi rumah bagi kerang dan ikan yang menjadi salah satu sumber mata pencaharian dan protein masyarakat sekitar. Selain itu, berbagai jenis burung juga hidup dan menjadikan kawasan telaga sebagai habitat mereka. Mengenai jenis dan jumlah keanekaragaman hayati di kawasan ini memang belum dilakukan pendataan dan penelitian lebih lanjut, sehingga ke depan perlu ada usaha untuk menginventarisasi keanekaragaman hayati di kawasan ini sebagai potensi daya tarik wisata.

Kelestarian Telaga Kabau tidak terlepas dari kepercayaan masyarakat desa yang mengkeramatkan kawasan ini karena berkaitan dengan keberadaan nenek moyang mereka. Masyarakat desa percaya bahwa di telaga ini berdiam empat ekor buaya yang mewakili empat marga yang menjadi cikal bakal masyarakat Desa Kabau Darat dan Desa Kabau Pantai. Kearifan lokal ini telah membantu Telaga Kabau tetap terjaga dan jauh dari kerusakan hingga hari ini.

Telaga Kabau memiliki panjang sekitar 2,7 km yang membentang dari Desa Kabau Darat hingga ke Desa Kabau Pantai. Sementara jarak terlebar mencapai kurang lebih 535 m dan jarak terpendek kurang lebih 48 m. Titik terpendek inilah yang dijadikan lokasi jembatan saat ini yang menghubungkan Desa Kabau Pantai dengan Desa Kabau Darat. Jembatan ini sangat penting karena merupakan akses darat satu-satunya bagi masyarakat Desa Kabau Pantai menuju desa tetangga dan pusat Kota Sanana yang menjadi Ibu Kota Kabupaten Kepulauan Sula. Berkeliling Telaga Kabau dengan kapal nelayan (mesin ketinting) membutuhkan waktu sekitar 20 menit. Namun waktu ini tidak cukup sesungguhnya untuk menikmati keindahan dan beragam flora fauna yang ada di kawasan ini.

Perjalanan menggunakan perahu dari arah Desa Kabau Darat menuju wilayah Desa Kabau Pantai akan melewati bagian bawah jembatan yang sempit dan cukup berbahaya karena ketinggian dan lebar bagian pondasi jembatan yang hanya lebih lebar sedikit dari badan perahu dan ketinggian jembatan yang sangat rendah sehingga setiap kita melewati bagian ini dengan perahu harus menunduk bahkan merebahkan badan agar tidak tersangkut badan jembatan.

Karena letaknya yang berada di dua desa, pembangunan Telaga Kabau tidak dapat dilakukan secara parsial hanya dari sisi Desa Kabau Darat. Pembangunan Telaga Kabau harus pula mengikutsertkaan Desa Kabau Pantai sehingga pembangunan yang dilakukan dapat secara utuh menempatkan Telaga Kabau sebagai daya tarik wisata.

Pendampingan Masyarakat

Program pendampingan yang dilakukan di Desa Kabau Darat yang termasuk kedalam desa 3T (tertinggal, terdepan, terluar) menjadi bagian dari komitmen dan tanggungjawab ITB untuk berperan dalam mengentaskan kawasan 3T. Kegiatan ini hasil kerjasama antara Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) ITB dan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendesa PDTT). Pada kesempatan ini tim dipimpin oleh Alhilal Furqan yang dibantu oleh Abadi Raksapati, Asad Farag, Syafira Ayudarechta Tara Wendita, dan Muhammad Najih Fasya.

Kegiatan pendampingan pada tahun pertama ini dilakukan dalam dua tahap, tahap pertama adalah pendampingan untuk melakukan identifikasi potensi daya tarik wisata. Pada tahap ini masyarakat diajak untuk berdiskusi guna menggali informasi mengenai desanya dengan cara bercerita tentang Desa Kabau Darat dan sekitarnya. Kegiatan dilakukan semiformal agar masyarakat yang hadir tidak merasa canggung dan pertemuan dapat berjalan dengan lebih cair. Dari berbagai cerita dan narasi yang disampaikan oleh masyarakat, tim kemudian menginventarisasi terkait lokasi potensi daya tarik wisata, berbagai kegiatan menarik masyarakat yang dilakukan, kekayaan seni dan budaya, ataupun berbagai kerajinan yang dihasilkan sebagai potensi daya tarik wisata yang dapat didorong untuk dikembangkan lebih jauh sebagai daya tarik wisata. Kegiatan ini dilakukan dengan fasilitasi Pj. Kepala Desa Kabau Darat dengan menyediakan tenda untuk melakukan pertemuan dan juga mengundang masyarakat dan tokoh masyarakat untuk terlibat aktif dalam kegiatan ini.  

Didalam kegiatan ini masyarakat yang hadir baik bapak-bapak, ibu-ibu dan tokoh pemuda sangat aktif memberikan masukan dan harapan terhadap program pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan tim ITB di desa mereka. Harapan masyarakat kegiatan ini dapat mengangkat Desa Kabau Darat sebagai salah satu daerah tujuan wisata yang dikenal tidak saja di Maluku Utara akan tetapi juga dapat dikenal secara nasional, yang pada muaranya diharapkan dapat meningkatkan perekonomian masyarakat.

Ada dampak menetes yang diharapkan oleh masyarakat ketika pariwisata di Kabau Darat melalui pengembangan Telaga Kabau yaitu berkembangnya infrastruktur sehingga masyarakat dapat lebih mudah untuk melakukan mobilisasi dan beraktifitas. Salah satu yang disoroti dalam kesempatan ini adalah terkait akses jalan yang masih jelek sehingga mempersulit masyarakat apalagi pengunjung yang ingin datang ke Telaga Kabau.

Pada tahap pertama ini berbagai diskusi dilanjutkan secara informal untuk menangkap berbagai harapan dan potensi apa saja yang dimiliki desa. Proses ini dilakukan baik dengan perangkat desa, maupun masyarakat umum yang ditemui tim selama melakukan kegiatan.

Pada tahap selanjutnya, program pendampingan ini akan melakukan sosialisasi mengenai peluang untuk membangun desa wisata berbasis masyarakat. Untuk itu tim melakukan sosialisasi dengan memberikan pemahaman terkait dengan prinsip-prinsip dasar pariwisata, seperti tentang desa wisata, sapta pesona, pemberdayaan masyarakat dalam pengembangan pariwisata serta bagaimana membangun hubungan yang positif antara desa dengan kelompok sadar wisata untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Sebagai masyarakat yang hidup dalam budaya timur, penduduk Desa Kabau Darat sesungguhnya telah memiliki modal besar dalam menerapkan nilai-nilai sapta pesona dalam kehidupan sehari-hari. Namun demikian, memang beberapa nilai masih belum diterapkan dengan baik dan perlu didorong lebih jauh untuk dapat dilaksanakan dengan konsisten. Nilai-nilai yang belum optimal tersebut diantaranya adalah aspek kebersihan, keindahan, dan kenangan. Terkait dengan aspek kebersihan ini dapat terlihat di homestay dan juga daya tarik wisata, khususnya Telaga Kabau. Sementara aspek keindahan, belum adanya penataan dengan baik daya tarik wisata yang dimiliki sehingga ke depan penataan kawasan perlu dilakukan termasuk kawasan desa. Belum optimalnya aspek kenangan dapat dirasakan dari sisi belum adanya cenderamata yang dapat dibeli secara regular oleh pengunjung yang datang ke desa ini. Pengembangan kuliner khas Kabau belum sepenuhnya dilakukan dengan konsisten dan kualitasnya masih harus ditingkatkan baik dari sisi bahan baku, proses pembuatan, rasa, maupun pengemasannya sehingga dapat memnuhi standar kuliner yang layak untuk dibawa pulang oleh pengunjung. Dalam kesempatan ini paling tidak ada dua kuliner khas yang coba dikembangkan oleh masyarakat yaitu abon dari kerang dan keripik buah mangrove. Dua kuliner ini bahan bakunya tersedia dengan melimpah di Telaga Kabau, Sehingga pengembangannya sangat berkait erat dengan rencana pengembangan Telaga Kabau sebagai daya tarik wisata.

Selain kerahaman masyarkaat dan antusiasnya untuk menyambut program pengabdian masyarakat yang dilakukan, suasana desa ini juga sangat nyaman. Bahkan satu hal menarik adalah kehadiran rusa yang berkeliaran bebas menemani kami berdiskusi dan mengamati kehidupan masyarakat desa. Hal ini menjadi pengalaman yang sangat langka dan tidak terbayangkan sebelumnya bagi kami yang biasanya hanya menemukan rusa di kebun binatang. Rusa-rusa ini merupakan tangkapan masyarakat dari hutan yang kemudian didomestikasi sehingga sudah akrab dengan manusia. Kehadiran rusa di perkampungan yang dapat didekati dan sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat menjadi daya tarik tersendiri bagi siapapun yang datang berkunjung ke desa ini. Ke depan upaya penangkaran rusa dapat menjadi salah satu daya tarik wisata unggulan desa ini ditengah semakin berkurangnya populasi mereka karena perburuan di Pulau Sulabesi.

Selanjutnya ada beberapa tantangan dalam pengembangan pariwisata di Desa Kabau Darat. Meskipun penggunaan istilah tantangan mungkin tidak terlalu tepat, untuk menggambarkan kondisi pariwisata Desa Kabau Darat saat ini, karena seringkali istilah tantangan bermakna kurang optimis dalam memandang sebuah situasi. Oleh karena itu penggunaan kata peluang untuk menggantikan kata tantangan lebih memberikan semangat optimisme dalam kontek pembangunan pariwisata di Desa Kabau Darat. Setidaknya ada empat peluang pengembangan pariwisata di Desa Kabau Darat.

Aksesibilitas

Akses yang relatif masih terbatas baik moda udara maupun laut menyebabkan perjalanan menuju Kepulauan Sula, khususnya Telaga Kabau menjadi berbiaya tinggi dan juga memerlukan waktu perjalanan yang relatif lama. Meningkatkan konektifitas dan juga kuantitas penerbangan dan pelayaran menuju kawasan ini menjadi keharusan agar siapapun dapat berkunjung ke kawasan ini setiap saat. Konektifitas ini bisa dibangun baik dari bandara dan pelabuhan utama di Ternate dan Ambon, maupun dari pelabuhan maupun bandara lainnya. Meningkatkan konektifitas ini juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan semangat persatuan dan kebangsaan bagi masyarakat yang ada di pulau-pulau kecil.

Selain aksesibilitas menuju Pulau Sulabesi, aksesibilitas menuju Telaga Kabau dari bandara maupun pelabuhan juga menjadi hal yang harus ditingkatkan. Terutama terkait dengan akses jalan yang baik dan juga angkutan umum yang dapat diakses pengunjung secara regular. Meningkatnya kualitas aksesibilitas menuju Kepulauan Sula diharapkan dapat menekan biaya perjalanan sehingga lebih murah dan dapat menarik pengunjung lebih banyak lagi.

Sumber Daya Manusia

Terbatasnya sumber daya manusia menjadi persoalan yang umum di daerah, terlebih di daerah 3T. Jangankan untuk urusan pariwisata terkadang untuk urusan pemerintahan yang umum sekalipun sumber daya manusia yang tersedia belum mampu bekerja secara optimal. Oleh karena itu, peningkatan kualitas dan kuantitas sumber daya manusia yang memahami pariwisata harus didorong agar pembangunan pariwisata yang dilakukan sesuai dengan yang diharapkan.

Kendala terkait sumber daya manusia ini tidak terlepas dari nilai ekonomis pariwisata yang memerlukan waktu untuk tumbuh dan berkembang, tidak seperti nelayan yang hari ini melaut dan hari ini juga dapat langsung membawa ikan yang bisa langsung dijual tanpa menebar benih dan merawat ikan-ikan itu sebelumnya. Pariwisata memerlukan waktu bertahun-tahun baru dapat dipetik hasilnya oleh masyarakat. Menumbuhkan kesadaran dan kesabaran kepada masyarakat jika ingin mengembangkan pariwisata di desanya harus terus disosialisasikan secara berkesinambungan agar semangat masyarakat tetap terjaga.

Fasilitas Penunjang Pariwisata

Sebagai desa yang berada di daerah yang tergolong 3T, Desa Kabau Darat tentu memiliki skala prioritas dalam menggunakan setiap anggaran yang dimiliki. Peningkatan fasilitas umum, peningkatan ekonomi masyarakat secara langsung menjadi prioritas utama. Oleh karena itu, peningkatan fasilitas penunjang pariwisata juga harus dapat menjadi fasilitas yang dapat digunakan oleh masyarakat.

Pemanfaatan dana desa dalam membantu pembangunan pariwisata khususnya fasilitas di Telaga Kabau saat ini diantaranya adalah pembangunan toilet umum di Telaga Kabau, penyediaan perahu yang dapat digunakan untuk berkeliling danau serta peningakatan kualitas dermaga. Dari sini kita dapat melihat komitmen desa dalam mendukung Telaga Kabau sebagai daya tarik wisata sudah sangat baik.

Promosi

Telaga Kabau hingga saat ini masih terbatas gaungya sebagai daya tarik wisata. Jangankan untuk tingkat nasional, untuk tingkat regional pun masih belum banyak dikenal, setidaknya masih sangat sedikit yang mengulasnya di media internet. Oleh karena itu perlu upaya masif mempromosikan kawasan ini sebagai daya tarik wisata di internet maupun media sosial sehingga masyarakat luas lebih sadar lagi bahwa ada sebuah telaga yang menarik di Kepulauan Sula, Maluku Utara.

Berkembangnaya media sosial dan internet akan sangat membantu proses promosi karena dapat lebih mudah, murah dan cepat menjangkau konsumen diberbagai tempat. Oleh karena itu pengenalan berbagai media sosial dan juga internet kepada masyarakat Kabau Darat harus di optimalkan agar mereka mampu memanfaatkan berbagai media tersebut sebagai media promosi Telaga Kabau.

138

views