Penyiapan Desa Tanggap Banjir di Kabupaten Bireuen

Penyiapan Desa Tanggap Banjir di Kabupaten Bireuen

Tags: ITB4People, Community Services, SDGs13

Menurut Hasan dalam karya penelitian tahun 2018 mengungkapkan beberapa tahun terakhir, Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh, mengalami banjir di beberapa tempat. Berdasarkan berita yang dihimpun setidaknya setiap tahunnya Kabupaten Bireuen mengalami bencana banjir. Pada tahun 2018 terjadi banjir yang menenggelamkan tujuh kecamatan yaitu Kecamatan Peudada, Juli, Jeumpa, Kota Juang, Kuala, Peusangan Selatan dan Jeunieb. Menurut Molana pada tahun 2019 terjadi banjir kembali yang menggenangi tiga kecamatan yaitu Kecamatan Peusangan, Peudada, dan Juli. Lalu pada tahun 2020 terjadi banjir di empat kecamatan yaitu Kecamatan Gandapura, Makmur, Jeunieb, dan Pandrah. Tercatat pada tahun 2021 terjadi di Kecamatan Jeunieb. Baru-bari ini tahun 2022 terjadi banjir di lima kecamatan yaitu Kecamatan Juli, Peusangan, Jeumpa Kota Juang, dan Peudada. Berdasarkan pemberitaan yang dihimpun, banjir yang dinilai sangat parah terjadi pada tahun 2022, penyebab terjadi banjir diduga akibat hujan lebat yang berlangsung relatif lama.

Pemahaman yang diberikan kepada masyarakat tentang bencana banjir terutama terkait penyebab dan dampak bahaya banjir sesuai dengan Undang- Undang No 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana dan memberikan pemahaman terkait adaptasi dan mitigasi bencana banjir. Selain dilihat dari pendekatan yang dilakukan secara delineasi, tim pengabdian masyarakat juga melakukan kegiatan survei lapangan yang bertujuan untuk melihat kondisi eksisting yang sebenarnya. Berikut ini merupakan gambar peta tematik hasil pemodelan potensi banjir, memberikan informasi mengenai daerah yang memiliki kerentanan tinggi supaya dapat dilakukan pengabdian masyarakat pada lokasi tersebut.

UNESCO pada tahun 2006 menyebutkan bahwa banjir bandang membawa efek yang negatif bagi masyarakat. Dampak dari banjir dibagi atas 4 aspek, yaitu: dampak fisik, sosial, ekonomi, dan lingkungan. Dampak fisik seperti Kerusakan daerah tempat tinggal, termasuk lahan, ternak, dan fasilitas lain yang termasuk di dalamnya. Dampak sosial seperti penurunan kemampuan produksi dan produktivitas manusia, yang bisa memiliki dampak lanjutan seperti kekurangan bahan makanan dan obat-obatan. Dampak ekonomi seperti manusia tidak bisa menjalankan kegiatan perekonomiannya dan harus mengungsi ke tempat yang aman, kegiatan menjadi terhenti dan tingkat perekonomiannya menurun. Dampak lingkungan seperti limbah-limbah yang ada di sekitar lingkungan bisa mengontaminasi ke wilayah yang lebih luas. Sehingga pengabdian masyarakat menjadi hal yang sangat penting untuk melindungi 4 aspek tersebut. Melihat dari studi awal tersebut, Kelompok Keahlian Hidrografi merencanakan program pengabdian masyarakat yang bertujuan untuk mengintegrasikan pemahaman yang komprehensif tentang kebencanaan khususnya bencana banjir mengenai penyebab dan dampak banjir, serta strategi adaptasi dan mitigasinya.

 

Kegiatan wawancara yang dilakukan bertujuan untuk mengintegrasikan pemahaman yang komprehensif tentang kebencanaan khususnya bencana banjir mengenai penyebab dan dampak banjir, serta strategi adaptasi dan mitigasinya. Pak Abdul Jalil mengatakan bahwa terdapat desa lain yang terendam banjir lebih parah, yaitu Desa Juli Meunasah Tambo. Desa kedua yang kami datangi adalah Desa Meunasah Juli Tambo, Kecamatan Juli. Pada desa tersebut kami mewawancarai Keucik (Kepala Desa) Desa Meunsah Juli Tambo dan mantan Camat Kecamatan Juli, Bapak Mulyadi Abdisas, S. Pd. dan M. Fuadi, S.Sos. Pada wawancara tersebut didapatkan hasil curah hujan yang terjadi tidak menentu di bulan apa, dan penyebab banjir yang terjadi adalah saluran irigasi yang kecil dan dipersempit dengan warga yang menanam rumput susu (Pakan Ternak) di pinggiran Saluran air. Serta banjir yang terjadi lebih tinggi dari 150 cm. Kerugian yang terjadi yaitu rumah yang terendam, dan kehilangan harta pribadi. Dan tempat yang digunakan sebagai tempat evakuasi adalah Meunasah. Pak Fuadi juga menambahkan bahwa banjir disebabkan air yang terbawa dari Danau/ waduk, dan tidak terdapatnya pintu air. Wawancara berikutnya dilakukan di halaman depan rumah Keucik, Bapak Kamarudin. Setelah penjelasan infografis mengenai banjir, didapatkan hasil wawancara, bahwa banjir yang terakhir kali terjadi di Desa Meunasah Pulo terjadi pada tahun 2015. Sehingga hasil wawancara berdasarkan pengalaman pada tahun 2015.

Menurut Purwana (2013) suatu masyarakat menyadari bahwa keterlibatan mereka dalam penanggulangan bencana sangat diperlukan, karena secara tidak langsung akan memberikan keuntungan bagi mereka. Disinilah perlunya manajemen yang bisa memberikan arahan dan aturan sehingga bisa mengetahui apa yang seharusnya mereka lakukan untuk kedepannya. Nenek moyang masyarakat Aceh selalu belajar dan bercermin dari alam untuk menentukan kearifan lokal. Budaya gotong royong dalam menjaga dan mengamankan lingkungan yang dilakukan masyarakat Aceh, secara nyata, kearifan lokal tersebut merupakan bentuk peringatan dini yang efektif dalam menjaga lingkungan dari ancaman banjir. Pengetahuan lokal yang secara turun temurun diberikan dalam mampu membuat masyarakat terhindar dari bencana.

Perlu adanya peningkatan kesiapsiagaan masyarakat yang memberikan peningkatan kapasitas masyarakat dapat berupa fisik dan non-fisik. Kegiatan fisik seperti pemanfaatan lahan dengan tepat dan penyediaan tempat evakuasi. Sedangkan peningkatan kapasitas non-fisik seperti mempelajari gejala alam untuk mengetahui tanda-tanda datangnya bencana, sampai saling mengingatkan di antara sesama untuk siaga dapat membentuk kesiapsiagaan sebagai budaya dalam komunitas masyarakat.

Upaya yang masyarakat lakukan dalam mitigasi banjir adalah menggunakan bangunan Meunasah atau masjid sebagai area evakuasi. Area ini dipilih karena kondisi bangunan meunasah dan masjid dibuat lebih tinggi. Dalam proses evakuasi ini Keucik dan BNPB memiliki peranan yang penting sebagai kepala desa untuk memberikan arahan untuk evakuasi kepada masyarakat sekitar. Berikut ini rute evakuasi pada saat terjadi banjir.

Adanya Keucik dan BNPB sebagai pihak yang memberikan arahan mitigasi banjir. Serta lokasi masjid dan meunasah yang sudah diterapkan untuk lokasi evakuasi. Maka wilayah studi Kecamatan Bireuen sudah siap untuk menjadi area desa tanggap banjir.

481

views