Peneliti ITB Ubah Limbah Kopi Jadi Pupuk dengan Memanfaatkan Lalat "Tentara Hitam"

BANDUNG, lppm.itb.ac.id-Peneliti ITB membuat inovasi pemanfaatan limbah kopi menjadi pupuk. Dengan menghadirkan konsep agrosilvopastura, hal ini bisa membuat hasil yang didapat akan ramah lingkungan sekaligus menguntungkan bagi petani.

Industri kopi di Indonesia ini semakin tren. Tidak dapat dimungkiri, bahwa semerbak kopi dari Indonesia telah tercium hingga ke dunia internasional. Hal ini membuat komoditas pangan ini sangat menjanjikan dari segi ekonomi.

Namun, dibalik keuntungan yang menjanjikan, tentunya hal ini tidak bisa lepas dari permasalahan limbah kopi. Permasalahan ini rupanya ditemukan salah satunya di perkebunan kopi yang terletak di Desa Tenjolaya, Kecamatan Pasirjambu, Kabupaten Bandung. Ceri kopi yang telah disosoh, kulitnya dibiarkan menumpuk lalu dibuang begitu saja. Alhasil menimbulkan bau yang tak sedap.

Dua orang peneliti dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Pathmi Noerhatini dan Yeyet Setiawati tergerak untuk mencarikan solusi.

"Bayangkan di tingkat petani kecil saja yang masih sederhana, banyak limbahnya. Jadi perlu ada upaya alternatif dengan biokonversi yang zero waste," ujar Pathmi dikutip dari detik.com

Menurut penjelasannya, lewat metode agrosilvopastura, petani bisa mendapatkan pupuk cair atau padat dari limbah kulit kopi yang telah diolah. Setelah ini, limbah kulit kopi akan dicampur dan difermentasikan dengan limbah sayuran selamat dua pekan. Usai difermentasi, larva dari lalat tentara hitam (BSF) akan melahap hasil fermentasi dengan melakukan proses biokonversi pemisahan limbah organik.

Hasil pemakanan larva BSF, akan menjadi pupuk organik yang bisa dicampur dengan tanah atau media lain untuk pembibitan sayuran.

Selain itu, konsep agrosilvopastura ini, tidak sekadar berkutat soal pupuk organik. Larva BSF yang menjadi pupa atau kepompong pun bisa dimanfaatkan sebagai tambahan pakan bagi ayam ternak. Hasilnya, ayam ternak tumbuh lebih cepat besar dan subur.

"Di Beberapa juga kita kembangkan ayam kampung jenis baru, jenisnya ayam KUB (Ayam Kampung Unggul Balitbangtan). Sebagian pupa dimakan ayam, dan sebagian lagi dibiarkan menjadi lalat dewasa," ujar Pathmi.

Hasil dari konsep ini, sudah diterapkan di LMDH Tenjoljaya dengan masa percobaan selama 60 hari. Harapannya, konsep ini bisa diterapkan di LMDH lain di Indonesia.

"Kita ingin ada beberapa sisi keuntungan bagi petani, limbah tereliminasi dan bisa memberikan manfaat setelah kita lakukan biokonversi dengan BSF. Itu bisa jadi pupuk padat dan pupuk cair, pupuk organik yang bisa kembali digunakan oleh petani kopi," katanya.

"Kopi memang lama, sementara petani butuh yang harian, jadi alternatifnya limbah kopi yang tadi dibuang percuma kita olah," tambahnya, dikutip dari detik.com

Penyunting: Ali Hasan Asyari

790

views