Pendidikan Seni yang Mengoptimalkan Potensi Anak

Berbicara tentang pendidikan estetika seni di Indonesia, banyak orang mengalami kebingungan dan kesulitan dalam memberikan jawaban yang konkret. Heekeren mengatakan bahwa seiring dengan sejarah mula jadi manusia, tampaknya perkembangan desain sangat sederhana. Kita memulai dari barang-barang atau produk sederhana seperti pisau, lalu berangkat ke ilmu pahat, hingga kepandaian logam dan kayu. Salah satu bangsa yang memiliki standar tinggi pada teknik-teknik ini adalah bangsa Indonesia, atau dapat disebut juga sebagai pewaris dunia desain.

Gambar: Kurikulum Desain berbasis Bauhaus

Pada tahun 1919, Walter Gropius, seorang arsitek Jerman, mendirikan Bauhaus di Weimar. Visinya adalah untuk memvisualisasikan dunia material sebagai cerminan kesatuan seni. Gropius menguraikan ide ini dalam Proklamasi Bauhaus (1919), yang mencitrakan sebuah serikat kerajinan ideal yang mengintegrasikan arsitektur, patung, dan lukisan ke dalam satu ungkapan kreatif. Dia merancang kurikulum berbasis kerajinan untuk melatih pengrajin dan desainer yang dapat menciptakan objek yang praktis dan estetis sesuai dengan sistem kehidupan baru. Etos ini mengubah dunia desain secara besar-besaran. Konsep Bauhaus sangat cocok dengan perkembangan manusia sehingga sering digunakan sebagai dasar-dasar pendidikan seni dan desain, terutama Desain Produk. Diakuinya Bauhaus sebagai tonggak dan kiblat pendidikan desain modern dunia, berpengaruh juga terhadap perkembangan pendidikan tinggi desain di Indonesia, terutama pada Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) lTB. Hal ini dikaitkan dengan pengajarnya ada beberapa terdiri lulusan Bauhaus di antaranya adalah Rita, Widagdo, dan Imam Buchori Zainudin. Mereka berhasil menyempurnakan kurikulum jurusan desain sejak pertengahan tahun I960-an.

Beberapa seniman berpendapat tentang ramainya Bauhaus terhadap seni di Indonesia, terutama FSRD ITB. Banyak metode bermunculan dan bersifat sebagai penyeimbang dari konsep-konsep barat yang dicangkokkan terhadap pendidikan Indonesia. Salah satunya adalah "Bahasa Rupa," sebuah karya dari almarhum Primadi Tabrani. Karya ini mengusung metode yang menelaah karya seni anak-anak dan membandingkannya dengan gambar pra-sejarah. Pendekatan ini dapat menghasilkan dampak positif bagi perkembangan anak-anak, pola pikir, kreativitas, dan aspek-aspek lainnya.

Tulisan dari Pak Primadi, bersama mungkin dengan karya-karya seniman atau desainer lainnya, mencerminkan bahwa telah terjadi pergerakan desain yang berskala global di Indonesia. Namun, permasalahan baru muncul, yaitu distribusi pengetahuan. Meskipun "Bahasa Rupa" ditemukan pada tahun 1991, baru mulai dikenal dan diaplikasikan oleh beberapa institusi pada tahun 2000-an, dan itu pun hanya di beberapa tempat atau daerah tertentu. Penerapan ilmu ini membutuhkan berbagai sumber daya, termasuk tokoh penggerak, dana, waktu, dan lain sebagainya. Daerah terpencil menjadi subjek yang paling sulit mendapatkan kesempatan atau bahkan mencoba ilmu seni atau desain ini.

Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri dari hampir 15.000 pulau, dengan Jakarta sebagai ibukota yang terletak di pulau Jawa. Pulau Jawa otomatis termasuk di lingkar-1, sebagai kepulauan yang paling padat penduduk dan paling maju secara ekonomi, teknologi dan pendidikan. Daerah luar Jawa menjadi daerah “sekunder” dengan sebutan lingkar-2 hingga 3, dengan ketergantungannya yang cukup erat dengan Jawa. Ini sejalan dengan paparan Frank yang mengatakan disparitas ini menunjukkan ada faktor ketergantungan antara luar Jawa sebagai satelit atau peripheral dengan Jawa sebagai sentral. Masalahnya adalah bahkan di daerah lingkar-1, yaitu pulau Jawa, tidak semua daerah terpapar dengan ekonomi dan teknologi maju tadi. Banyak sekali daerah pedesaan atau daerah rural yang belum mendapatkan fasilitas maupun pendidikan yang baik, dimana untuk mempelajari bahasan dasar saja sudah tidak mampu, apalagi mengeksplorasi bahasa rupa maupun membahas perdesainan atau kreatifitas anak.

Artikel ini menyuarakan tentang pentingnya pendidikan literasi visual, yang melibatkan pemanfaatan alat-alat bahasa visual dan keterampilan kreatif. Esensinya adalah memberikan dasar-dasar ini kepada anak-anak agar mereka dapat membaca dan mengembangkan literasi visual mereka. Hal ini diharapkan akan meningkatkan kemampuan visual mereka, tidak hanya dalam pemahaman, tetapi juga dalam aspek kreatif seperti seni, desain, kriya, dan lain sebagainya di masa depan.

Kegiatan Inti:

Ilmu bahasa rupa pertama kali muncul di Indonesia pada tahun 1991 di Fakultas Seni Rupa dan Desain melalui disertasi yang disusun oleh Primadi Tabrani. Dalam disertasinya, beliau melakukan perbandingan antara hasil studi berupa gambar anak, gambar goa prasejarah, gambar primitif, gambar wayang Beber Jaka Kembang Kuning, relief cerita Lalitavistara di Candi Borobudur, dan seni rupa modern. Disertasi ini memiliki dimensi 58x33x27 cm dan telah dipesan oleh American Library of Congress sebanyak 7 peti, kemudian didistribusikan ke berbagai perguruan seni rupa di Amerika. Pada tahun 1968, sejumlah mahasiswa seni rupa ITB terlibat dalam Jajaran Pendidikan Seni Rupa, yang membimbing gugus kegiatan seni rupa di berbagai lokasi di Bandung. Hal ini menjadi kejutan karena umumnya orang tua dan guru mengalami kesulitan untuk memahami gambar anak. Ini disebabkan karena cara anak-anak melihat dan menggambar berbeda dengan kita yang sudah dewasa. Para pelajar di sekolah melihat dan menggambar dengan pendekatan yang lebih cerdas. Semua gambar ini merupakan gambar tunggal yang menceritakan suatu kisah.

Dengan sistem Naturalis-Perspektif-Momenopname (NPM) yang berasal dari Barat dan tersebar secara global melalui era kolonialisme, di Indonesia, NPM telah diajarkan di sekolah dasar sejak masa kolonial hingga saat ini. Meskipun demikian, terdapat perbedaan dalam pendekatan gambar anak, yang tampaknya berbeda dengan sistem NPM yang diajarkan, yang melibatkan gambar gunung dua dimensi dengan perspektif jalan, pohon kelapa, tiang listrik, dan elemen-elemen lainnya. Oleh karena itu, berbagai tim penelitian secara khusus mengeksplorasi gambar anak dengan tujuan untuk memahami pendekatan gambar yang digunakan oleh mereka. Upaya ini diharapkan dapat membantu orang dewasa, termasuk orang tua dan guru, untuk mengapresiasi gambar anak dengan lebih baik. Fokus penelitian mereka adalah pada gambar-gambar yang representatif, yang mampu mewakili aslinya sehingga dapat dikenali, bukan gambar-gambar yang bersifat abstrak atau geometris.

Mengapa bahasa rupa dianggap begitu penting, bahkan hingga diakui oleh American Library of Congress? Ini karena ilmu bahasa rupa memungkinkan kita untuk "membaca" berbagai gambar tanpa ada teks pendukung, seperti gambar Prasejarah, Primitif, tradisi, relief candi, gambar anak, komik, desain, dan lain-lain. Bahasa rupa tidak hanya membantu kita dalam interpretasi gambar-gambar tersebut, tetapi juga memfasilitasi kemampuan kita untuk menciptakan gambar dalam berbagai bentuk. Selain itu, bahasa rupa tumbuh dan berkembang seiring dengan kemajuan era Teknologi Informasi, menciptakan hubungan mutualisme yang saling menguntungkan. Sebagai upaya untuk melestarikan ilmu yang sangat berharga dan autentik dari Indonesia, beberapa institusi, termasuk sekolah Bumilimas, telah berusaha menerapkan ilmu dari Pak Primadi. Di sekolah ini, bahasa rupa menjadi bagian integral dari kurikulum, membantu anak-anak dalam mengembangkan kreativitas mereka. Selain itu, perguruan tinggi di Indonesia juga mengadopsi Bahasa Rupa sebagai metode atau kurikulum penting yang dipelajari selama perkuliahan dan diimplementasikan ketika mahasiswa tersebut menjadi pengajar. Ini adalah langkah-langkah positif dalam menjaga keberlanjutan dan penerapan ilmu bahasa rupa di Indonesia.

Teh Ibey, seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS), mengejar karir sebagai pengajar di berbagai lembaga pendidikan, termasuk SMP Batujajar, Bumi Limas, Madrasah Cibolang, TK Bumiliimas, SD Mutiara Bunda, dan Bimbel Tridaya. Selain itu, beliau adalah pendiri dari komunitas 3AO dan memiliki keahlian dalam Bahasa Rupa, yang diperoleh melalui pengalaman mengajar di TK/Playgroup BumiLimas, tempat di mana Pak Prim menerapkan teori bahasa rupa. Teh Ibey mencurahkan perhatian pada pengembangan kreativitas anak-anak melalui berbagai kegiatan seperti bercerita, berdongeng, menggambar, mewarnai, bermain musik, dan kegiatan kreatif lainnya. Pengalaman pribadi saya dengan Teh Ibey dimulai pada tahun 2003-2004 saat saya bersekolah di TK/Playgroup Bumi Limas. Saya merasakan pembelajaran yang kreatif dan menarik, yang membuat saya tetap berhubungan dengan beliau hingga saat ini. Saya kemudian bergabung dengan 3AO sebagai anggota sejak saya SMP, meskipun pada saat itu belum ada kegiatan yang signifikan. Awalnya, 3AO berfungsi sebagai organisasi yang membantu anak-anak didik dalam berbagai kegiatan seperti pameran, penjualan, dan pembelajaran menggambar. Seiring waktu, Teh Ibey terus merekrut anggota baru dan memperluas jaringan 3AO.

Gambar: Lokasi Cibolang

Madrasah Alam Cibolang terletak di Kmp. Baruahad, Cibolang, Kertawangi, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat 40551, yang berada di wilayah pertanian di Lembang, Kabupaten Bandung. Awalnya, Cibolang merupakan sekolah gabungan untuk anak-anak, namun kemudian dibangun gedung baru khusus untuk Madrasah Alam. Proses pembangunan melibatkan berbagai pihak yang memberikan kontribusi baik dalam pembangunan fisik bangunan maupun dalam program-program yang diterapkan. Salah satu program yang turut membantu adalah kegiatan seni rupa dari 3AO yang dikenal sebagai art activity.

Salah satu tokoh kunci di madrasah alam Cibolang adalah Bapak Iden, atau sering dipanggil Kang Iden. Kang Iden telah membawa berbagai program dan ide segar yang memberikan kontribusi positif bagi warga setempat. Sebelum adanya Madrasah Alam, Kang Iden berperan sebagai individu yang membuka rumahnya untuk menjadi tempat belajar dan madrasah bagi anak-anak Cibolang. Saat itu, Kang Iden memiliki impian untuk memberikan pendidikan kepada anak-anak Cibolang dengan menyediakan tempat belajar, guru, dan kegiatan menarik, selain kurikulum sekolah konvensional. Gagasan ini mendorong Kang Iden untuk melakukan penggalangan dana melalui kelompok ibu-ibu pengajian, yang pada akhirnya berhasil membangun Madrasah Alam Cibolang. Selama tahap pembangunan, dengan kebetulan, Kang Iden berpapasan dengan Teh Ibey. Kolaborasi yang kemudian terjalin antara 3AO dan Cibolang menghasilkan dampak positif yang signifikan dalam sektor pendidikan di daerah tersebut. Kesepakatan ini mencakup partisipasi fasilitator dari 3AO sebagai tenaga pengajar dan penerapan kurikulum bahasa rupa yang inovatif untuk memperkaya pengalaman belajar anak-anak di Cibolang.

Salah satu permasalahan yang dihadapi adalah ketidakmampuan sebagian wilayah di Indonesia dalam menerapkan bahasa rupa. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain ada kurangnya pemahaman pengajar terhadap teori bahasa rupa, Kesulitan akses, terutama di daerah yang jauh dari pusat perkembangan, Keterbatasan kesempatan untuk memahami bahasa rupa. Penting untuk diingat bahwa bahasa rupa memiliki peran krusial dalam perkembangan anak-anak dan pemahaman orang tua terhadap anak mereka. Sayangnya, tidak semua wilayah memiliki keberuntungan yang sama dalam mengakses dan menerapkan bahasa rupa. Peran pengajar menjadi kunci, namun, seringkali kekurangan pengetahuan akan teori bahasa rupa, membuat implementasinya kurang efektif di banyak tempat. Oleh karena itu, perlu adanya upaya untuk memberikan pelatihan dan pendidikan kepada pengajar agar mereka lebih memahami dan mampu menerapkan bahasa rupa dengan baik. Ketidaksetaraan akses juga menjadi hambatan serius, terutama di daerah yang terpencil. Semakin jauh dari pusat perkembangan, semakin sulit untuk mencapai sumber daya yang mendukung pemahaman dan penerapan bahasa rupa. Oleh karena itu, diperlukan solusi kreatif dan dukungan ekstra untuk memastikan bahwa setiap wilayah dapat merasakan manfaat dari bahasa rupa. Selain itu, tidak semua individu mendapatkan kesempatan yang sama untuk memahami bahasa rupa. Hal ini dapat menjadi dampak dari ketidaksetaraan sosial, ekonomi, dan pendidikan. Upaya lebih lanjut perlu dilakukan untuk menciptakan kesempatan yang setara bagi semua individu, sehingga mereka dapat memanfaatkan bahasa rupa sebagai aset berharga dalam pemahaman diri dan perkembangan pribadi. Artikel ini menggarisbawahi pentingnya menanggapi permasalahan implementasi bahasa rupa di berbagai wilayah Indonesia. Dengan langkah-langkah konkret seperti pelatihan bagi pengajar, peningkatan aksesibilitas di daerah terpencil, dan upaya menciptakan kesetaraan kesempatan, kita dapat memastikan bahwa bahasa rupa benar-benar menjadi alat yang efektif dalam membantu pengembangan anak dan memperkaya hubungan antara orang tua dan anak.

3AO mengusung pendekatan kurikulum pendidikan yang berfokus pada bahasa rupa dengan tujuan mengembangkan kreativitas anak dan mengoptimalkan potensi kreatif mereka. Pada sekitar tahun 2012, di bawah kepemimpinan Kang Iden, Cibolang tengah mencari solusi untuk meningkatkan kualitas hidup di desa, khususnya dalam aspek pendidikan anak-anak. Kolaborasi antara 3AO dan Teh Ibey terjadi dengan kesepakatan untuk memperkenalkan dan menyebarkan kurikulum berbasis seni dan bahasa anak di Cibolang. Meskipun program ini berlangsung hingga tahun 2023, belum ada satu pun anak dari Cibolang yang berhasil menyelesaikan program ini sepenuhnya, dengan mayoritas melanjutkan ke tingkat Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Program ini diharapkan dapat membentuk anak-anak agar berkembang dalam hal sifat, sikap, dan kreativitas. Kang Iden dan Teh Ibey menyatakan bahwa anak-anak Cibolang cenderung memiliki sifat yang tertutup dan kurang percaya diri ketika menghadapi tugas-tugas tertentu, meskipun pada kenyataannya mereka memiliki potensi kreatif yang besar yang terkadang terhambat oleh rasa malu dan ketakutan. Inisiatif ini menjadi contoh nyata tentang bagaimana kurikulum Bahasa Rupa dapat diakses oleh seluruh anak-anak, tidak hanya yang beruntung atau memiliki akses khusus, sesuai dengan harapan Pak Primadi, yang dimulai dari Cibolang. Sebuah gambar anak yang terarah dari kiri ke kanan bisa menimbulkan interpretasi yang keliru dari orang tua. Namun, melalui interpretasi bahasa visual, sebenarnya anak bermaksud menyampaikan bahwa perjalanan dimulai dari sisi kanan dan berakhir di sisi kiri. Kejadian semacam ini sering dialami oleh anak-anak Cibolang, baik dalam konteks internal maupun eksternal, mendorong mereka untuk mengikuti norma yang sudah ada. Padahal, konsep kreativitas seharusnya mendorong mereka untuk berpikir di luar batas dan melebihi norma yang telah ada. 3AO dan Kang Iden memiliki tujuan untuk mengembangkan anak-anak Cibolang tidak hanya dari segi kecerdasan intelektual, tetapi juga melibatkan aspek-aspek seperti karakter, sikap, mental, dan kreativitas.

3AO kreatif menghadirkan kegiatan menarik di Cibolang, tidak hanya terbatas pada gambar dan mewarnai. Dengan bahasa rupa, pengenalan dasar dapat berbentuk beragam, dalam upaya peningkatan kreatifitas. Pada bulan Juli 2023, Anak-anak diperkenalkan pada proses produksi melalui tahapan desain produk, serta diajak mengenal pembuatan bentuk 3D dari bahan sederhana seperti kardus dan karton. Kegiatan ini bertujuan untuk mengenalkan anak-anak Cibolang terhadap sisi baru pada kesenian di Indonesia, tidak hanya mencakup gambar. Kreatif dapat berbentuk macam-macam, tapi tetap seru dan menyenangkan. Kegiatan ini diterima secara baik oleh anak-anak, walaupun awalnya mereka sedikit bingung soal “apa pentingnya bungkus kardus?”, tapi setelah mencobanya masing-masing, anak-anak menjadi paham dan mengikuti kegiatan dengan rasa senang dan penasaran. Anak-anak dihadapkan pada tantangan cerdas cermat dengan pertanyaan-pertanyaan unik yang tidak umumnya diajarkan di sekolah. Pertanyaan-pertanyaan ini tidak hanya lucu, tetapi juga informatif, memacu daya kreatifitas dan pemikiran mereka. Kegiatan ini bertujuan untuk memicu kreatifitas anak melalui proses pembelajaran yang sudah ada, tapi dengan sedikit plot twist bagi mereka. Anak-anak Cibolang diperkenalkan pada kekayaan Kota Bandung, termasuk bangunan bersejarah, bunga khas daerah, dan elemen-elemen lainnya melalui media visual seperti film dan gambar-gambar. Kegiatan ini lebih dituju sebagai bentuk penyemangat bahwa diluar daerah Cibolang, ada kota-kota yang bagus dan menarik bagi mereka untuk ditinggali dan dijadikan tempat belajar, sehingga kedepannya anak-anak dapat lebih tertarik kepada program-program pembelajaran. Anak-anak terlibat dalam kegiatan membuat mural dengan tema luar angkasa dan laut, didampingi oleh kakak-kakak dari 3AO. Kegiatan ini memicu kreativitas anak, dan dilakukan pada hari pembukaan sekolah, sekitar 3-5 tahun yang lalu. Kegiatan ini dibuat sebagai kegiatan pembuka, untuk meyakinkan penduduk dan menjelaskan apa saja yang akan dipelajari oleh anak-anaknya dalam program 3AO. Hasilnya adalah sebuah mural seluas sekolah Cibolang yang dapat dilihat oleh penduduk sekitar, dan berhasil menarik hampir 90% dari anak-anak yang berada di Cibolang, dan meyakinkan orang tua untuk terus mengikuti program tersebut. Pada tahun 2023, bulan September, anak-anak Cibolang bersama komunitas hiking Lembang menyelenggarakan acara hiking. Mereka menjelajahi sekitar Cibolang sambil belajar tentang keindahan alam setempat, memahami flora, fauna, dan serangga yang ada di alam Cibolang. Program ini bertujuan untuk meningkatkan rasa keterikatan anak dengan wilayahnya, lebih menyayangi alam ataupun mengenali wilayah sekitar. Kegiatan ini dimulai dari daerah Cibolang terus hingga universitas UPI. Kegiatan dimulai dengan hiking di daerah Cibolang, menyusuri alam Cibolang dan menaiki bukit disekitar, lalu anak-anak naik angkot untuk pergi ke UPI atau Universitas Pendidikan Indonesia. Disana mereka dikenalkan lebih lanjut terhadap apa itu UPI, lalu kegiatan komunitas, dan juga alam dan fauna yang ada di UPI. Perbandingan tadi ternyata membuat anak-anak semakin sayang dengan daerah CIbolang, dikarenakan kalau dibandingkan, daerah Cibolang masih lebih kaya akan flora dan fauna dibandingkan daerah Bandung.  Anak-anak aktif berlatih memainkan angklung setiap minggu sekali,  dengan lagu-lagu karya kakak-kakak 3AO yang bertemakan ikonik, seperti gedung Sate. Kegiatan ini tidak hanya mengembangkan keterampilan musikal, tetapi juga memperkuat rasa kebersamaan dalam kelompok. Lagu Gedung Sate diciptakan oleh komunitas 3AO dengan menggunakan alat musik tradisional sebagai pengiring. Nada dibuat secara pentatonik agar mudah dibawa oleh anak-anak dan memiliki kesan budaya.

Kegiatan yang dilakukan oleh 3AO membawa berbagai dampak positif yang signifikan. Perubahan pertama yang mencolok adalah transformasi dalam sistem pembelajaran dan kurikulum. Paparan gambar dan interaksi dengan 3AO telah mengubah persepsi terhadap kreativitas, menjadikannya sebagai aspek yang diterima dan didukung secara lebih luas dibandingkan sebelumnya. Masyarakat sekitar juga semakin menyadari pentingnya kreativitas, mengakibatkan peningkatan kepercayaan terhadap komunitas dan sekolah dalam mendidik anak-anak. Di sisi lain, anak-anak di daerah Cibolang merasakan manfaat nyata dan kegembiraan dari kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan. Penerimaan positif dari masyarakat setempat menjadi aspek krusial, karena tanpa adanya dukungan tersebut, kelangsungan kegiatan ini dapat terhambat. Meskipun belum menghasilkan lulusan tingkat perguruan tinggi, dengan yang tertua baru mencapai tingkat SMK atau SMA, respons positif dari orang tua menunjukkan kepuasan mereka terhadap kegiatan positif bagi anak-anak. Anak-anak sendiri juga menyatakan kebahagiaan mereka karena terlibat dalam kegiatan yang unik dan belum pernah mereka alami sebelumnya, menciptakan pengalaman yang berharga.

Sebuah aspirasi yang diemban oleh 3AO adalah adanya panggung yang dapat menjadi medium bagi anak-anak untuk menyalurkan kreativitas mereka. Sampai saat ini, panggung yang tersedia masih bergantung pada inisiatif masyarakat sekitar, seperti acara kemerdekaan atau kegiatan lainnya. 3AO mengungkapkan harapannya agar pemerintah dan masyarakat kota dapat lebih memperhatikan dan menyediakan panggung khusus bagi anak-anak guna menggali dan mengekspresikan potensi kreatif mereka. Dalam mengajukan harapannya, 3AO mengingatkan bahwa kreativitas anak-anak tidak hanya dapat berkembang melalui pendidikan formal di sekolah. Pengalaman langsung dalam mengekspresikan ide dan emosi melalui seni panggung dapat memberikan manfaat signifikan bagi perkembangan pribadi anak-anak. Oleh karena itu, penting bagi pemerintah dan masyarakat kota untuk bekerja sama dalam menciptakan panggung kreatif yang dapat diakses oleh anak-anak. Sebagai langkah awal, 3AO mengajak semua pihak terkait untuk memahami bahwa investasi dalam pengembangan kreativitas anak-anak merupakan investasi jangka panjang bagi masa depan masyarakat. Menciptakan panggung khusus untuk anak-anak bukan hanya tentang memberikan ruang untuk penampilan mereka, tetapi juga tentang memberikan dukungan dan pengakuan terhadap potensi kreatif yang dimiliki oleh setiap anak. Berbagai komunitas seperti contohnya komunitas alam UPI sudah mau memulai untuk membuat acara atau aktivitas bersama, ikut serta dalam program 3AO. Pentingnya mendukung kreativitas anak-anak tidak hanya menciptakan kesempatan bagi mereka untuk mengejar minat dan bakat mereka, tetapi juga membantu membentuk generasi yang lebih kreatif, inovatif, dan berpikiran terbuka. Dengan menyediakan panggung kreatif, pemerintah dan masyarakat kota dapat bersama-sama membentuk lingkungan yang mendukung pertumbuhan kreatif anak-anak, menjadikan mereka sebagai pilar keberlanjutan dan kemajuan dalam masyarakat.

74

views