Desa Matotonan yang berada di pedalaman Kecamatan Siberut Selatan merupakan desa paling hulu di Sungai Rereiket. Mengingat akses jalan darat yang masih belum baik, masyarakat Matotonan menggunakan sampan sebagai moda transportasi utama yang menghubungkan mereka dengan muara yang menjadi pusat pemerintahan kecamatan dan pemasok hampir seluruh kebutuhan mereka. Selain membawa orang yang ingin mobilisasi ke muara, pusat kecamatan, sampan ini juga dimanfaatkan untuk membawa barang-barang yang dibutuhkan di Desa. Sampan ini sudah ada sejak lama, digunakan secara turun-temurun oleh masyarakat. Masyarakat Siberut menyebutnya abak (bahasa lokal sampan). Dan abak yang bermesin tempel disebut pong-pong.

Saat ini, kebutuhan akan abak pong-pong terus bertambah. Di sisi lain, tidak semua masyarakat bisa membuatnya. Hanya ada beberapa orang di Desa Matotonan yang masih bisa membuat abak, dan rata-rata adalah orang yang telah lanjut usia. Proses pembuatan abak yang sarat akan tradisi membuatnya menjadi menarik untuk ditelusuri. Kearifan alal-alat yang digunakan dipadukan dengan cara-cara tradisi menyimpan banyak pengetahuan yang dapat dipelajari.

Pembuatan sampan tradisional Mentawai dalam Pengabdian Masyarakat ini bertujuan untuk membuat dokumentari proses pembuatan abak. Dokumentari ini berguna untuk merekam, menjadi bukti sejarah, dan juga media pembelajaran bagi generasi muda. Selain itu tim juga membuat sampan angkut aluminium yang merupakan hasil penelitian dan pengembangan dan prinsip-prinsip abak yang adaptif terhadap kondisi sungai Rereiket.

748

views