Pelatihan Marketplace Produk Rumahan

Pelatihan Marketplace Produk Rumahan

Tags: ITB4People, Community Services, SDGs3

Selama dekade terakhir, telah berkembang pengertian bahwa teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dapat menjadi instrumen yang kuat untuk mempercepat pembangunan ekonomi dan sosial, termasuk kesetaraan gender dan pemberdayaan masyarakat. Namun demikian, manfaat TIK telah terbagi secara tidak merata antar sektor-sektor dan kelompok-kelompok sosioekonomi, antara wilayah pedesaan dan perkotaan, serta antara masyarakat dan lelaki. Kemiskinan, buta aksara dan kurangnya kemampuan menggunakan komputer serta hambatan bahasa merupakan faktor-faktor yang menghalangi akses ke infrastruktur TIK, terutama di negara-negara berkembang. Secara khusus, kemampuan masyarakat untuk mengeksploitasi potensi dari teknologi informasi baru dan komunikasi sebagai alat untuk pemberdayaan sosial dan ekonomi masih terhambat dalam banyak hal, diantaranya adanya batasan sosial dan budaya, tingkat penghasilan, tingkat pendidikan dan buta huruf, serta kurangnya pengetahuan mengenai potensi TIK.

Menurut Bank Dunia, perhatian harus lebih diarahkan pada pemberdaaan  masyarakat dan kaum miskin sebagai pengguna informasi, dengan memberikan pelatihan yang terkait dengan pengumpulan, pengemasan dan penyebaran pengetahuan lokal, memastikan teknologi-teknologi baru, seperti komputer dan internet dikombinasikan dengan teknologi yang menjangkau lebih banyak kaum masyarakat, khususnya di pedesaan. Penyediaan materi yang relevan dalam bahasa lokal melalui teknologi yang murah dan mudah digunakan yang dapat diakses oleh masyarakat dengan kemampuan pemahaman yang terbatas sangatlah penting jika TIK memang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Intervensi TIK yang diarahkan pada pemberdayaan masyarakat secara ekonomi dapat memanfaatkan potensi teknologi-teknologi ini sebagai ilmu dan alat jejaring bagi masyarakat sebagai produsen dan distributor barang. Jaringan koperasi masyarakat di Indonesia menawarkan kesempatan besar dan mungkin saja menjadi pemain penting dalam penyediaan akses TIK yang efektif dan berkesinambungan serta program-program terkait apabila dapat diberikan dukungan bagi organisasi-organisasi masyarakat pedesaan tertentu, termasuk koperasi yang berjalan baik, untuk mengembangkan kegiatan mereka dalam menyediakan jasa jaringan serta TIK di daerah mereka. Terkait gender dengan penggunaan TIK, pada tahun 2000, instruksi Presiden mengenai pengarusutamaan gender dalam pembangunan nasional dikeluarkan oleh pemerintah Indonesia yang menginstruksikan seluruh lembaga pemerintah, departemen dan nondepartemen, pemerintah propinsi dan kabupaten/kota untuk melaksanakan pengarusutamaan gender dalam perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi atas semua kebijakan dan program pembangunan. Pengintegrasian gender ke dalam strategi-E nasional Indonesia merupakan kunci untuk memastikan bahwa tujuan kesetaraan gender tertanam ke dalam kebijakan-kebijakan, program-program dan proyek-proyek TIK di negara ini. Memberikan prioritas pada pengarusutamaan gender di lingkungan lembaga-lembaga pemerintah yang bertanggungjawab atas informasi dan komunikasi merupakan komponen kunci dalam pengintegrasian gender ke dalam kebijakan-kebijakan dan program-program TIK nasional yang akan menjadi kritis bagi masyarakat. Proses-proses yang lebih baik dalam konsultasi dan partisipasi perlu dikembangkan dan lebih banyak masyarakat perlu dilibatkan pada tingkatan pembuatan keputusan

Penetrasi internet menurut Bank Dunia menyatakan bahwa meskipun telah terdapat sejumlah kemajuan dalam akses dan penyebaran teknologi informasi yang lebih murah, namun tidak banyak yang berubah bagi masyarakat. Di Amerika Serikat, berdasarkan penelitian Departemen Perdagangan AS menyimpulkan bahwa revolusi internet di AS, sebagian besar menyingkirkan kaum miskin, minoritas, kawasan pedesaan, dan pusat-pusat kota yang bermasalah. Fakta yang ada menunujukkan semakin melebarnya kesenjangan antara kaum kaya dan kaum miskin di negara AS dan kesenjangan yang semakin melebar antara yang terdidik dan tidak terdidik.  Berdasarkan Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 32/PER/M.KOMINFO/11/2008 tentang Kewajiban Pelayanan Universal (KPU) Telekomunikasi atau Universal Service Obligation (USO), telah mengatur penyediaan jasa akses telekomunikasi dan informatika KPU di Wilayah Pelayanan Universal Telekomunikasi (WPUT) yaitu di wilayah antara lain daerah tertinggal, daerah terpencil, daerah perintisan, daerah perbatasan, dan daerah yang tidak layak secara ekonomis serta wilayah yang belum terjangkau akses dan layanan telekomunikasi, dengan tujuan suntuk mengatasi kesenjangan digital (kesetaraan akses teknologi informasi dan komunikasi), menunjang dan mendukung kegiatan perekonomian, memantapkan pertahanan dan keamanan, serta mencerdaskan kehidupan bangsa, serta Puntuk pemenuhan komitmen Indonesia di WSIS (World Summit Information Society).

Saat ini teknologi informasi sudah dapat diakses dan digunakan oleh hampir semua lapisan masyarakat. Secara umum manfaat teknologi informasi dan komunikasi terhadap masyarakat  sudah terbukti sangat positif, termasuk terhadap peningkatan pemberdayaan sektor pendidikan dan sektor perekonomian di daerah perkotaan (urban) mau pun di daerah pedesaan (rural). Namun untuk masyarakat kelas bawah, terutama kelompok masyarakat perkotaan dengan tingkat pendidikan rendah, akses terhadap informasi dan komunikasi belum sepenuhnya dapat dimanfaatkan untuk membantu mereka meningkatkan pengetahuan maupun kualitas hidup, karena pemahaman informasi oleh masyarakat tersebut masih terbatas. Di sisi lain, karena latar belakang dan sosio kultural masyarakat tingkat bawah tersebut masih bervariasi, maka seringkali pemanfaatan akses teknologi informasi dan komunikasi oleh mereka melalui akses sendiri-sendiri akan menimbulkan penafsiran yang berbeda beda, bahkan bisa cenderung misleading. Dengan  kata lain kesenjangan digital pada kelompok masyarakat tertentu masih merupakan tantangan, walau pun mereka sudah memiliki akses terhadap berbagai sumber informasi dan media sosial. Persoalan yang terjadi adalah dengan adanya ketersedian informasi dan berbagai fasilitas yang seharusnya dapat dimanfaatkan, tidak memberikan dampak yang berarti. Bahkan malah terjadi sebaliknya, dengan kebebasan akses informasi yang tidak terkontrol akan menimbulkan masalah baru di masyarakat sebagai akibat keterbatasan kemampuan dan pemahaman mereka terhadap keberagaman informasi yang tersedia, bercampur aduk antara informasi yang berdampak positif maupun yang berdampak negatif. Oleh karena itu diperlukan bimbingan dan pembinaan kepada masyarakat tersebut, supaya dengan diberikan edukasi dan pemahaman yang baik dan benar tentang bebagai informasi, mereka akan bisa mengambil manfaatnya. Hasil observasi terhadap kesenjangan yang terjadi pada sebagian masyarakat adalah bahwa masih banyak kelompok masyarakat yang sudah mampu mendapatkan akses informasi, namun belum memiliki kemampuan dan kearifan dalam mengolah, memilih, dan memilah serta memanfaatkan informasi secara bijak, sehingga mereka cenderung terdampak secara negatif. Oleh karena itu, diperlukan proses edukasi yang baik dan benar kepada masyarakat, agar keberadaan informasi bisa dimanfaatkan secara optimal untuk meningkatkan kecerdasan dan kualitas hidup mereka.  Peran para peneliti sebagai mitra penyuluh dan mitra kerja dalam pemanfaatan teknologi sangat diperlukan.

Tujuan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah untuk memberikan pembinaan yang berkelanjutan dalam penggunaan teknologi informasi dan media sosial kepada masyarakat, sekaligus memberi pelatihan/penyuluhan/edukasi penggunaan teknologi informasi dalam menerapkan adaptasi kebiasaan baru pasca pandemi Covid-19. Kegiatan ini juga merupakan kelanjutan dari pengabdian kepada masyarakat yang telah dilaksanakan tahun 2020 dan tahun 2021 yang mencakup masyarakat di RW 07, Kelurahan Cicaheum, Kecamatan Kiaraconding, Kota Bandung sebagai wilayah binaan. Wilayah ini menjadi wilayah binaan di sekitar tempat tingal ketua tim untuk mewujudkan kepedulian civitas akademik kampus (perguruan tinggi) kepada masyarakat sekitar. Kelompok masyarakat yang menjadi target dari kegiatan ini mencakup tokoh masyarakat tingkat RW di Kelurahan Cicaheum. Ada pun indikator dari hasil kegiatan yang ditargetkan adalah kualitas hidup masyarakat bawah yang tinggal di daerah perkotaan akan meningkat, kecerdasan masyarakat dalam mengolah informasi menjadi lebih baik, serta reputasi dan apresiasi masyarakat sekitar terhadap dunia perguruan tinggi sekitar terutama ITB, akan meningkat, dan hubungan harmonis antara dunia perguruan tinggi dan masyarakat di sekitar tempat tinggal juga akan semakin baik. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat tahun 2022 ini diharapkan akan bisa melanjutkan kembali program yang sudah dilakukan sebelumnya agar bisa memberikan kontribusi yang berkesinambungan. Kontinuitas yang bersiklus perlu dilakukan seiring dengan perubahan dan dinamika yang sangat cepat dalam perkembangan teknologi informasi.

Metodologi yang digunakan pada kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini mengggunakan pendekatan melalui pelatihan/penyuluhan penggunaan teknologi informasi dengan aktvitas berupa bimbingan dan pembinaan masyarakat terkait teknologi informasi yang dikombinasikan dengan ceramah-ceramah dan pelatihan. Tim peneliti juga membuat dan mengembangkan modul pelatihan/penyuluhan untuk mencerdaskan masyarakat dalam pemanfaatan teknologi informasi, dan pemasaran/promosi produk/toko online, sehingga dapat dimanfaatkan untuk optimalisasi penggunaan informasi dan meningkatkan pemulihan ekonomi masyarakat.

Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan dengan mempertimbangkan aspek kebutuhan masyarakat dan kemampuan ilmiah sivitas akademik tim pelaksana dari ITB dalam menjadikan program kegiatan bermanfaat serta berkesinambungan, maka ruang lingkup program Pengabdian Masyarakat berupa pemberdayaan masyarakat yang dikategorikan sebagai kegiatan kepedulian sosial, pendampingan masyarakat melalui konsultansi, penjaminan mutu, perintisan dan peningkatan produktivitas kelompok usaha oleh masyarakat. Pemberdayaan masyarakat melalui pelatihan ini merupakan kegiatan di wilayah binaan yang mampu membantu penanganan masalah masyarakat. Adapun wilayah binaan yang dipilih mewakili salah satu dari lingkar atau zonasi yang ditetapkan ITB dalam program pengabdian kepada masyarakat lingkar 1, yang merupakan lingkungan kampus ITB, Bandung dan sekitarnya.

Dalam melaksanakan tridarma perguruan tinggi, sebagai salah satu kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Institut Teknologi Bandung, tim kami telah melaksanakan pelatihan penggunaan dan pemanfaatan teknologi informasi kepada sekelompok masyarakat di RW 07, Kelurahan Cicaheum, Kecamatan Kiaracondiong, Kota Bandung. Kegiatan tersebut berupa  pelatihan market place untuk pemasaran produk secara online. Pelatihan ini merupakan kontribusi yang sangat berarti bagi masyarakat bawah dalam merevitalisasi kondisi sosial-ekonominya, terutama bagi kelompok masyarakat yang kehidupan perekonomian sehari-harinya mengalami penurunan akibat terdampak pandemi COVID-19.

Walau pun pandemi Covid-19 belum sepenuhnya berakhir, pelaksanaan kegiatan PkM yang berupa pelatihan pemasaran produk secara online ini dilaksanakan secara tatap muka, tetapi dengan menggunakan protokol kesehatan secara ketat, sehingga para peserta pelatihan juga sekaligus mendapatkan edukasi terkait dengan protokol kesehatan dalam mematuhi program pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM), sesuai dan mengikuti aturan pemerintah.

Pelatihan pemasaran online (market place) ini  diberikan kepada masyarakat RW 07, Kelurahan Cicaheuum, Kecamatan Kiaracondong sebagai wilayah binaan. Sedangkan pelaksanaan kegiatannya dilaksanakan di Mesjid Al-Hidayah yang berlokasi di Jl. Sulaksana Baru II, RT.06/RW 07, Kelurahan Cicaheum, Kecamatan Kiaracondong, Kota Bandung.  Peserta pelatihan terdiri dari kelompok masyarakat yang berdomisili di sekitar mesjid yang pada umumnya merupakan kelompok masyarakat jamaah mesjid Al-Hidayah. Mereka dalam kesehariannya terbiasa jualan produk rumahan berupa makanan hasil olahan di rumah mereka yang dijajakan dengan menggunakan meja-meja kecil di depan rumah-rumah mereka atau roda kaki lima (bagi yang mampu membeli roda), sehingga pembeli hanya terbatas pada warga sekitar atau konsumen yang lewat di sekitar tempat mereka berjualan.

Program pelatihan ini bertujuan untuk melatih kelompok masyarakat bawah tersebut agar bisa memanfaatkan teknologi online dari berbagai aplikasi sebagai wahana jualan produk rumahan mereka, sehingga diharapkan bisa meningkatkan omset dari penjualan mereka dengan jangkauan pemasaran yang lebih luas. Tentu saja dengan jangkauan pemasaran yang lebih luas menggunakan wahana online ini secara bertahap diharapkan akan bisa meningkatkan volume penjualan, yang akan berlanjut ke peningkatan kualitas produk dan juga diversifikasi produk yang mereka hasilkan di rumah-rumah mereka (produk rumahan), yang pada akhirna akan bisa meningkatkan kondisi sosial-ekonomi mereka.

Kegiatan ini dimulai dengan persiapan-persiapan melalui diskusi dalam grup WhatsApp Jamaah masjid Al-Hidayah di RW 07 Kelurahan Cicaheum, yang kemudian mengerucut kepada adanya kebutuhan dari warga yang berdomisili di sekitar masjid untuk memperoleh pelatihan terkait market pace ini. Setelah jumlah warga yang menyatakan membutuhkan pelatihan ini terkonfirmasi, persiapan pelaksanaan kegiatan dimulai dengan rapat kordinasi dengan pengurus DKM masjid, untuk mengkoordnasikan tempat pelatihan, jadwal pelatihan serta peralatan dan fasilitas yang diperlukan (laptop, in-focus, dll). Oleh pengurus (DKM) mesjid Al-Hidayah, program pelatihan ini sekaligus diintegrasikan dengan Program DKM masjid terkait dengan program pemberdayaan jamaah masjid, sehingga hasil kesepakatan yang dicapai ditetapkan untuk tempat pelatihan dilakukan di masjid Al-Hidayah, sedangkan jadwal  pelatihan disepakati dilaksanakan pada setiap hari Jumat sore menjelang malam, selama 6 minggu. Kemudian untuk komunikasi antara peserta dan nara sumber, dibentuklah grup WhatsApp, yang anggotanya terdiri dari warga masyarakat sebanyak 12 orang, nara sumber 3 orang yang terdiri dari 1 dosen dan 2 mahasiswa ITB. Dengan membuat grup WhatsApp ini koordinasi pelaksanaan pelatihan market place secara online dapat dengan mudah dikordinasikan kepada seluruh pihak terkait. Tim Pengabdian kepada Masyarakat yang terdiri dari dua mahasiswa ITB ini berasal dari Program Studi Teknik Telekomunikasi yang mengambil Kuliah Kerja Nyata (KKN-A),  sebagai bagian dari program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Mereka berperan sebagai nara sumber yang memberikan dan menyampaikan materi pelatihan, dan juga sekaligus mempraktekkan secara langsung cara-cara menggunakan aplikasi pada perangkat smart phone utk menjual produk-produk secara online.

Hasil evaluasi dari pelatihan market place ini telah menunjukkan peran serta para pelaksana kegiatan sebagai mitra kampus (perguruan tinggi) dalam pemanfaatan teknologi informasi yang sangat bermanfaat dan dirasakan oleh masyarakat, sehingga telah memberikan kontribusi dalam mengatasi masalah yang ada di masyarakat terkait dengan akses informasi, pengembangan kapasitas dan pendidikan (edukasi), pengelolaan dan penggunaan teknologi untuk masyarakat di tingkat bawah, pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan kecerdasan masyarakat, serta pemanfaatan teknologi informasi untuk menigkatkan kondisi sosial-ekonomi dan taraf hidup masyarakat. Pelatihan market place yang telah dilaksanakan, telah memberikan kontribusi kepada masyarakat dalam meningkatkan penjualan produk mereka secara online, sehingga masyarakat bisa memasarkan dan mempromosikan produk rumahan mereka dengan jangkauan yang lebih luas. Melalui kegiatan PkM yang telah dilaksaakan ini, masyarakat telah merasakan dan mengapresiasi kepedulian dari tim yang mewakili komunitas kampus (perguruan tinggi) terhadap mereka. Secara umum, kegiatan PkM ini telah memberikan manfaat yang banyak bagi kehidupan masyarakat terkait aspek kesehatan, sosial, dan ekonomi, serta telah berkontribusi dalam mendukung upaya pemerintah dalam mendorong daya ungkit ekonomi masyarakat melaui upaya revitalisasi kondisi sosial-ekonominya.

389

views