Menuju Museum Geologi yang Ramah Disabilitas

Menuju Museum Geologi yang Ramah Disabilitas

Tags: ITB4People, Community Services, SDGs9

Semua orang berhak mendapatkan kesempatan yang sama untuk dapat mengakses informasi dan pengetahuan di ruang publik. Museum Geologi sebagai salah satu ruang publik yang menyimpan informasi penting terkait ilmu geologi dan kebumian, merupakan tempat favorit bagi masyarakat umum, pelajar, dan wisatawan baik dari dalam maupun luar negeri ketika berkunjung ke Kota Bandung. Bertempat di Museum Geologi, pada 19 Mei 2022 Tim ITB yang diketuai oleh Dr. Andy Yahya Al Hakim (FTTM ITB) mengundang teman-teman penyandang disabilitas tuna netra dan pekerja sosial yang bekerja di Balai Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Sensorik Netra Wyata Guna (BRSPDSN) Bandung berkunjung ke Museum Geologi Bandung. Kegiatan ini merupakan bagian dari Pengabdian Masyarakat skema Bottom Up yang mendapat pendanaan dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) ITB untuk tahun 2022.

Kegiatan yang telah diinisiasi sejak Desember 2021, beranggotakan Kukuh Rizki Satriaji, M.T. dan Michael Binuko, M.Sn (FSRD) berjudul “Pembuatan Pojok Braille ITB serta Pengembangan Teknologi Video dan Audio Visual di Museum Geologi.” Kegiatan ini diharapkan dapat menjadikan museum sebagai fasilitas belajar, yang dinikmati oleh berbagai kalangan dari anak-anak, remaja, dewasa sebagai tempat belajar di luar bangku sekolah yang bersifat inklusif. Kegiatan pembelajaran di museum tidak hanya dikhususkan kepada masyarakat umum, namun juga kepada masyarakat penyandang disabilitas.

Inisiasi dari museum ramah disabilitas telah dimulai pada tahun 2019 oleh Museum Geologi dengan membuat pelatihan kepada guide sehingga dapat berkomunikasi kepada penyandang disabilitas. Tagline museum geologi yang ramah terhadap disabilitas telah sejalan dengan roadmap jangka panjang dari museum.

Kegiatan kunjungan Pekerja Sosial BRSPDSN merupakan kegiatan lanjutan dari diskusi yang dijalin sebelumnya ke Balai Wyata Guna. Sejak Maret 2022, Tim ITB yang beranggotakan Dosen dan Mahasiswa telah mengumpulkan informasi dengan melakukan diskusi dengan penyandang disabilitas tuna netra. Pengalaman berkunjung ke Museum, kendala yang dialami selama mengakses informasi di ruang publik, serta harapan untuk aksesibilitas yang dapat dinikmati semua kalangan merupakan beberapa poin yang ditanyakan kepada penyandang disabilitas. Hasil survey menunjukkan penyandang disabilitas tuna netra BRSPDSN umumnya pernah mengunjungi museum baik di dalam negeri, bahkan ada yang pernah mengunjungi museum khusus disabilitas yang berada di Jepang. Pengalaman merasakan berada di dalam museum, mendapatkan informasi dari huruf Braille, dapat meraba koleksi sentuh, serta mendengarkan informasi yang disampaikan pemandu merupakan harapan dari penyandang disabilitas tuna netra.

Museum merupakan salah satu fasilitas publik yang memiliki tujuan melayani masyarakat dan perkembangannya, terbuka untuk umum, memperoleh, merawat serta menyampaikan perkembangan informasi melalui pameran koleksi hasil pencapaian manusia dan alam (ICOM, 1974). Adanya museum yang bersifat inklusif bagi penyandang disabilitas merupakan salah satu bentuk perwujudan dari Convention on the Rights of Persons with Disabilities (CRPD) yang dicanangkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Bentuk aksesibilitas ini salah satunya ditujukan pada ruang publik, sehingga tidak ada perbedaan antara masyarakat umum dengan penyandang disabilitas dalam mendapatkan fasilitas pelayanan publik. Penyandang disabilitas diharapkan dapat mengakses informasi yang sama dengan masyarakat pada umumnya, serta melindungi hak untuk memperoleh pengajaran dengan kualitas yang baik.

Selama kunjungan di Museum Geologi, banyak kesan positif dan masukan yang diberikan oleh penyandang disabilitas. Kunjungan pada hari Kamis yang lalu (19/05/22) merupakan kunjungan pertama bagi sebagian besar Pekerja Sosial BRSPDSN. Penyandang disabilitas tuna netra dapat memegang beberapa koleksi di ruang pamer, sehingga mendapat pengalaman lebih tentang berbagai obyek yang dipajang. “Batu akik yang mana ya Bu? Meteorit ini berwarna apa, Pak? Mengapa batugamping ini berlubang-lubang?” Pertanyaan-pertanyaan ini muncul ketika rekan disabilitas belajar dengan suasana santai didampingi oleh pemandu dari pihak Museum. Masukan seperti pemberian tulisan Braille di sebelah obyek, serta penyampaian berupa audio di obyek yang sedang diamati merupakan beberapa masukan yang disampaikan oleh peserta kegiatan. Arief Kurniawan, M.T. selaku Sub Koordinator Peragaan Museum Geologi serta Pemandu Museum Geologi menjelaskan dengan sabar dan detail tiap koleksi serta memandu penyandang disabilitas untuk mengenal kerak bumi, meteorit, mineral, batuan, fosil dan koleksi lainnya. Peneliti Museum Geologi, Unggul Prasetyo Wibowo, M.T., M.Sc. menerangkan tentang rekonstruksi dan konservasi di ruang koleksi Museum Geologi. Kegiatan ini didukung oleh mahasiswa Program Studi Teknik Pertambangan sebagai bentuk kegiatan Kampus Merdeka Merdeka Belajar (MBKM).

Kegiatan ini direncanakan akan dilanjutkan dengan implementasi hasil kunjungan untuk membuat suasana museum dengan pembuatan model sentuh untuk khalayak publik yang akan disandingkan dengan huruf Braille. Pemandu Museum Geologi yang terlibat dalam kunjungan kali ini mengaku baru mendapat kesempatan pertama untuk memandu penyandang disabilitas setelah lebih dari 10 tahun bekerja di Museum Geologi. Pemandu menjadi lebih paham untuk dapat menunjukkan jalan, dengan cara mendekatkan tangan sehingga dapat dipegang oleh tuna netra. Teknik untuk naik ke lantai yang mempunyai elevasi yang berbeda juga disampaikan oleh peserta. Pihak BRSPDSN juga menyampaikan bahwa pemandu Museum dipersilahkan untuk datang dan mempelajari teknik untuk dapat memandu penyandang disabilitas.

Setelah kegiatan ini, perekaman audio book telah direncanakan untuk membantu aksesibiltas informasi untuk khalayak luas. Beberapa model fosil akan dipilih untuk dapat dibuatkan tiruannya, sehingga masyarakat umum dan penyandang disabilitas dapat mengetahui koleksi yang sebelumnya tersimpan di ruang penyimpanan. Dengan adanya kunjungan Kegiatan ini diharapkan dapat lebih mendekatkan Institut Teknologi Bandung sebagai kampus yang berbasis sains, seni dan teknologi melalui bentuk kegiatan yang dapat diakses masyarakat umum dan penyandang disabilitas secara lebih massif. Publisitas dari kegiatan ini tidak hanya dapat dimanfaatkan oleh penyandang disabilitas, namun juga pengunjung museum yang datang dari berbagai kalangan umur.

605

views