Mengubah Senjata Menjadi Nada

Mengubah Senjata Menjadi Nada

Tags: ITB4People, Community Services, SDGs9

Nenek moyang kita mewariskan banyak sekali artefak kebudayaan yang bernilai seni tinggi dan sarat dengan kearifan lokal, termasuk di antaranya keris, tombak dan trisula. Apa yang terjadi jika senjata tradisional warisan leluhur ‘diterjemahkan’ menjadi produk modern yang bisa digunakan saat ini? Sekelompok dosen dari Kelompok Keahlian Ilmu-ilmu Kemanusiaan Fakultas Seni Rupa dan Desain Institu Teknologi Bandung mencoba menerapkan konsep trisula ke dalam gitar listrik modern.

Trisula atau tombak bermata tiga yang muncul di banyak peradaban di seluruh dunia. Trisula merupakan simbol ketuhanan (Smith, 2000) dan sering muncul pada arca atau relief candi (Ijzerman, 1996). Trisula adalah senjata Siwa, dewa pemusnah yang merupakan salah satu Trimurti yang disembah oleh umat Hindu. Dalam kepercayaan Yunani dan Romawi, Poseidon (Neptunus) digambarkan selalu membawa trisula (Walters, 2013). Selain itu retarius (gladiator yang berpenampilan seperti nelayan) selalu membawa jaring dan trisula sebagai senjatanya (Carter, 1999; Manas, 2016).

Secara filosofis, trisula sering diartikan mewakili tiga entitas atau unsur, misalnya Brahma (dewa pencipta), Wisnu (dewa pemeliharaan), dan Siwa (dewa pemusnah). Atau bisa juga merupakan representasi masa lalu, sekarang, dan masa depan; tubuh, pikiran dan jiwa; logika, hasrat dan keyakinan; praktek, pengetahuan dan kebijaksanaan; kematian, kenaikan dan kebangkitan, dll. (Ba┼čtürk, 2011; Srivastava, 1979).

Di Indonesia, trisula sering muncul mengiringi arca dan relief di dinding candi, misalnya di Candi Prambanan (Ijzerman, 1996), Candi Sukuh (Dowling, 1992; Wardani, 2013) dan Candi Penataran (Endrawati, 2015; Nugroho, 2019). Ada banyak trisula dalam berbagai varian yang terdapat di berbagai daerah di Indonesia. Beberapa trisula dipasang sebagai ujung tombak, seperti yang ditemukan di Sumatera Selatan, dan ada pula yang pendek seperti yang ditemukan di Solo.

Bentuk trisula sering dicoba diterapkan pada produk-produk modern, antara lain dalam pengembangan sistem IT perusahaan yang berfokus pada pelanggan (customer-centric) (Teo, Srivastava, & Ho, 2008), atau bentuk bangunan tempat tinggal (Yau, 2018). Trisula juga mencoba dipopulerkan kembali melalui produk budaya pop, termasuk dalam trilogi film The Hunger Games (Makins, 2015).

Dalam penelitian ini, peneliti mencoba mengaplikasikan bentuk trisula pada elemen musik khususnya gitar. Salah satu alasan untuk beralih ke musik adalah penelitian yang menyatakan bahwa musik membawa lebih dari sekedar perasaan. Musik bisa menjadi kendaraan yang kuat untuk menyampaikan informasi (Jensen, 1996:218). Artinya, musik tidak hanya memiliki fungsi afektif, tetapi juga fungsi kognitif yang berperan untuk memperkuat informasi dan pemahaman tentang bentuk trisula sebagai produk budaya.

Hal ini diperkuat dengan hasil penelitian Galizio dan Hendrick (1972) yang secara khusus menunjukkan peran alat musik khususnya gitar dalam mempengaruhi sikap, suasana hati, dan daya ingat dalam menanamkan suatu komunikasi dalam bentuk seni musik yang berbeda. Jauh sebelum penelitian ini, pemikir zaman keemasan Islam, Farabi, melakukan inventarisasi berbagai macam alat musik dan menunjuk alat musik gesek yaitu oud dan tunbur sebagai “raja dari segala alat musik” dan “alat musik para filsuf”. Oud dan tunbur yang dikembangkan sebelum munculnya instrumen gitar modern pada abad ke-19 oleh Antonio Torres Jurado, dikatakan memiliki kekuatan untuk menerjemahkan prinsip-prinsip musik secara universal dan selain itu juga memiliki aspek spiritual (Klein, 2008: 179- 195).

Mengapa Gitar?

Gitar telah memainkan peran penting sebagai perantara dan penerjemah budaya, serta ikon kolonialisme dan imperialisme budaya pasca-perang, dengan cara kekuatan global dan lokal diartikulasikan melalui gitar yang telah digambarkan sebagai contoh “ glokalisasi” (Bennett & Dawe, 2001). Carfoot (2021) mengeksplorasi bagaimana gitar beroperasi sebagai semacam materi, teks antarbudaya, dan mediator budaya. Hal ini memperkuat temuan bahwa alat musik dapat mengubah pikiran dan tubuh, memengaruhi kondisi pikiran seperti halnya persendian, tendon dan sinapsis, ergonomi dan interaksi sosial—kegembiraan memainkan alat musik adalah kegembiraan yang datang dari perasaan gembira secara fisik, emosional dan tingkat sosial” (Dawe, 2013:60).

Hasil penelitian Dawe (2013) menunjukkan bahwa instrumen gitar kurang mendapat perhatian dalam etnomusikologi. Dawe menemukan nilai keterampilan kinerja dan pengetahuan instrumen dan pembuatannya sebagai pintu gerbang ke dunia yang lebih menantang dan menuntut konteks studi yang lebih besar; misalnya, dalam kaitannya dengan proses globalisasi, nasionalisme dan etnisitas, lokasi instrumen dalam jaringan teknologi suara yang lebih luas, perdagangan internasional alat musik dan sumber daya alam, serta desain hibrid dan teknik pertunjukan. Frengel (2017) dalam bukunya The Unorthodox Guitar: A Guide to Alternative Performance Practice menyajikan berbagai sumber bagi para gitaris yang ingin bereksperimen dengan tampilan baru melalui pendekatan yang tidak konvensional.

Untuk itu peneliti memutuskan merancang sebuah gitar dengan mengadopsi bentuk trisula yang memiliki banyak makna simbolis, berbobot kearifan lokal, sekaligus membawa seni budaya tradisional ke kancah internasional. Gitar listrik saat ini dekat dengan budaya populer. Kemunculan musik populer merupakan produksi yang mampu menjaga stabilitas politik, jika didukung oleh ekonomi yang mapan dan tatanan sosial yang tertib. (Nott, 2005: 310-311).

Musik dan Komunikasi Emosional

Hal lain yang tidak kalah penting untuk disebutkan dalam penelitian ini adalah terkait dengan komunikasi emosional. Kajian tentang komunikasi emosional membagi emosi manusia menjadi tujuh emosi dasar yang disebut essentic form (bentuk dasar) yang terdiri dari love-hate; hormat-marah; senang-sedih, dan seksual. Emosi juga dapat dilatih dan diterjemahkan melalui prosedur yang disebut siklus sentik. Sentik menurut Clynes (dalam Merritt, 2003: 131) diartikan sebagai komunikasi emosional. Dalam psikologi umum, emosi adalah proses spesifik yang berorientasi pada respons terhadap perilaku, salah satu aspek keberadaan manusia yang paling meresap, dalam arti berhubungan dengan setiap aspek perilakunya: tindakan, persepsi, ingatan, pembelajaran, dan dalam pengambilan keputusan. (Sloboda dalam Djohan, 2005: 39).

Dalam penelitian ini, apa yang terkandung dalam bentuk trisula yang telah diwujudkan dalam bentuk gitar listrik akan dicoba dikomunikasikan dalam bahasa visual dan pertunjukan. Selain terkait dengan informasi yang diperoleh mengenai trisula, penelitian ini juga akan mencoba melihat hubungan alat musik gitar dengan aspek komunikasi emosional yang muncul dari bentuk trisula tersebut. Untuk mengoptimalkan semua upaya tersebut, diperlukan agenda penelitian yang lebih partisipatif dan melibatkan masukan dari berbagai pihak, baik pengrajin gitar lain, musisi, maupun penonton. Jika penelitian ini berhasil, diharapkan akan muncul upaya-upaya lain agar nilai-nilai budaya tradisional dapat lebih diterima secara luas melalui elaborasi dengan produk budaya populer.

Tahapan penelitian ini dilakukan dengan terlebih dahulu mewawancarai sejumlah informan yang dipilih dengan kriteria sampel berdasarkan tujuan penelitian. Penelitian pendahuluan ini bertujuan untuk memilih bahan, memperkuat desain, dan menerjemahkan gagasan filosofis trisula ke dalam bentuk gitar. Informan yang dipilih untuk penelitian pendahuluan mewakili lima kelompok profil, yaitu pembuat alat musik berdawai, pemain gitar profesional, penikmat musik, akademisi (etnomusikologist) dan seorang awam yang dianggap mewakili golongan yang tidak faham musik.

Setelah instrumen gitar selesai dibuat, instrumen tersebut diuji kembali kepada informan untuk mendapatkan impresi dan masukan, tidak hanya dari segi teknis seperti keluaran suara dan kemudahan penggunaan, tetapi juga dampak afektif dan kognitifnya, terutama dalam kaitannya dengan arti trisula. Untuk mendapatkan impresi dan masukan yang optimal, setiap informan diminta untuk mencoba dan mengamati secara intens hasil gitar trisula ini, minimal satu jam disertai dengan wawancara dari peneliti.

Selanjutnya untuk mengetahui tingkat kesiapan teknologi gitar trisula ini, peneliti menggunakan Technometer versi 2.5 yang dikembangkan Institut Teknologi Bandung. Teknometer ini mengadopsi Technology Readiness Level (TRL) dari NASA yang biasa digunakan untuk menguji hasil penelitian di lingkungan Institut Teknologi Bandung. Metode Technology Readiness Level (TRL) yang digunakan untuk menilai kematangan suatu teknologi telah diterapkan di berbagai industri selama lebih dari 40 tahun. TRL membantu para insinyur dalam mengelola risiko, mengkomunikasikan kemajuan pengembangan, dan menentukan hasil (Tomaschek, Olechowski, Eppinger, & Joglekar, 2016). TRL atau diterjemahkan di lingkungan ITB sebagai Tingkat Kesiapan Teknologi (TKT) terdiri dari sembilan tingkatan yang dibuat oleh NASA untuk menguji teknologi yang belum terbukti (Straub, 2015).

Setelah melakukan penelitian pendahuluan terhadap kelima informan, pengerjaan model gitar trisula berhasil diselesaikan dalam waktu kurang lebih dua bulan. Berdasarkan hasil wawancara dengan informan  #4, yang dijadikan acuan body gitar adalah bentuk trisula Majapahit. Alasan memilih trisula Majapahit karena bentuknya yang lebar memungkinkan untuk 'menyematkan' peralatan elektronik di dalamnya.

Desain dan Spesifikasi

Berdasarkan masukan dari informan  #1 dan informan #2, gitar ini juga didesain tanpa kepala (headless), sehingga lehernya benar-benar lurus dan menyerupai gagang atau tombak. Terlepas dari alasan estetika, memilih opsi tanpa kepala adalah untuk menghindari neck dive (kondisi ketika headstock gitar terasa lebih berat dari body) yang mengakibatkan headstock menukik ke lantai saat pemain gitar melepaskan tangannya dari leher gitar.

Dengan metode konstruksi bolt-on, gitar ini didesain memiliki enam senar. Panjang timbangan adalah 25,5” dengan konfigurasi pickup H-H. Tatahan pada fretboard juga menggunakan warna emas pearloid yang senada dengan warna bodi. Motif tatahan yang dipilih adalah motif ampik dari Kalimantan Timur. Motif ampik ini merupakan gabungan dari berbagai motif, antara lain ikatan batin yang kuat antara manusia (Udo) dan naga terdapat pada motif Udo Asok, simbol kesetiaan terdapat pada motif Asok, menjaga keselamatan pada motif Mibing, menghindari roh jahat pada motif tersebut. Motif Mibing dan Bening Aban, serta motif Rebung (rebung) yang melambangkan kekuatan dari dalam. Adapun lambang ampik Timur, warna merah diambil dari warna darah yang berarti kehidupan, warna kuning berarti kesuburan, keagungan dan kemakmuran, dan warna hitam memiliki arti keanggunan dan kesaktian (Solikhah, 2014).

Berdasarkan masukan dari informan #1 dan informan #2, dipilih warna body gold dengan finishing bertekstur metal. Warna emas dipilih karena merupakan logam bernilai tinggi yang menyiratkan sesuatu yang sangat berharga. Selain itu, warna emas akan memberikan kesan mewah, apalagi jika alat musik ini dimainkan di atas panggung dengan lampu sorot di atasnya, sehingga akan memberikan efek teatrikal yang mewah sekaligus gagah dan mengintimidasi, sebagaimana layaknya sebuah senjata senjata Siwa, sang dewa perusak. Tremolo juga dibuat custom dengan pemilihan material berwarna emas yang senada dengan warna body, inlay dan fret. Gagang tremolo juga menggunakan warna emas, sehingga secara keseluruhan gitar trisula ini didominasi warna emas.

Gitar trisula ini dirancang mengikuti prinsip desain untuk mencapai playability yang maksimal. Penelitian Herbst (2017) menunjukkan bahwa efek distorsi pada gitar yang dimainkan dengan teknik 'shredding' tidak banyak dilakukan dalam penelitian, pementasan repertoar atau pertunjukan. Pada penelitian ini gitar trisula dimainkan dengan menggunakan teknik fast shredding menggunakan efek distorsi. Alat yang digunakan adalah efek gitar digital merek Zoom GFX-1 dengan amplifier merek Marshall. Teknik shredding dengan penambahan efek distorsi yang dilakukan pada gitar trisula menghasilkan suara yang diinginkan dengan tingkat latency yang rendah.

 

Setelah gitar trisula selesai dibuat, instrumen tersebut diujicobakan kepada informan sesuai dengan kemampuan masing-masing. Komentar dan masukan dari para informan ini akan dibagi menjadi tiga bagian, yaitu teknis, afektif dan kognitif. Aspek teknis berkaitan dengan keluaran suara dan kenyamanan dalam penggunaan, aspek afektif berkaitan dengan komunikasi sentik atau emosional, sedangkan aspek kognitif berkaitan dengan bagaimana informan memahami makna trisula setelah menggunakan gitar.

Berdasarkan hasil wawancara, secara teknis gitar dapat berfungsi dengan baik, secara visual menarik, namun secara audial kurang maksimal jika tidak menggunakan efek. Sedangkan dari aspek afektif, semua informan mendapatkan rasa terhormat, gembira, cinta, meskipun ada yang merasa marah dan sedih yang lebih disebabkan kurangnya perhatian para pembuat gitar terhadap warisan budaya dan kearifan lokal yang kita miliki. Sedangkan dari aspek kognitif, gitar ini berhasil mengingatkan para informan mengenai bentuk-bentuk trisula lain secara umum. Dapat disimpulkan bahwa gitar trisula ini banyak mendapat masukan dari sisi keluaran suara yang kurang maksimal.

Para  peneliti juga melakukan uji mandiri dengan mengisi checklist pada Technometer. Gitar trisula ini telah mencapai level tertinggi yaitu level 9 (sembilan). Artinya instrumen ini benar-benar teruji dan terbukti melalui pengoperasian yang sukses. Produk teknologi benar-benar telah diproduksi dalam bentuk akhirnya dan dalam kondisi yang direncanakan seperti dalam pengujian dan evaluasi operasional. Secara umum, ini adalah bagian/aspek terakhir dari upaya perbaikan dalam pengembangan sistem yang sebenarnya.

Nilai Kesiapan Teknologi level 1 hingga level 8 telah terpenuhi 100%. Sebanyak tujuh dari delapan indikator pada level 9 telah terpenuhi, yaitu konsep operasional telah diterapkan secara penuh, estimasi investasi teknologi telah dilakukan, belum ada perubahan desain yang signifikan, teknologi telah teruji dalam kondisi sebenarnya, produktivitas pada tingkat stabil, dan dokumentasi lengkap. Adapun satu indikator (yakni estimasi harga produksi) masih belum diketahui. Dengan demikian, nilai TKT level 9 hanya mencapai 87,5% karena ada satu indikator yang belum terpenuhi. Namun karena nilai pemenuhan indikator pada level 9 sudah mencapai 87,5% (dari >80% yang dibutuhkan), Tingkat Kesiapan Teknologi gitar trisula ini sudah mencapai level 9 dan dapat diproduksi secara masal.

Kearifan Lokal bisa Go International?

  • Trisula sebagai artefak budaya yang sarat makna perlu dilestarikan agar tetap dikenal, antara lain dengan mengadaptasi bentuk ke dalam produk budaya populer.
  • Gitar berbentuk trisula ini dapat berfungsi sebagai alat pendidikan pelestarian budaya pada alat musik modern. Representasi trisula pada gitar menawarkan pengalaman baru dalam bermain musik dan dapat memberikan efek teatrikal dalam pertunjukan.
  • Adaptasi bentuk artefak budaya (trisula Majapahit) ke dalam produk budaya populer masih membutuhkan perbaikan dari sisi audio dan diuji pada reaksi khalayak yang lebih luas dan dikaitkan dengan naik turunnya popularitas performer ketika membawa artefak budaya yang tidak populer ke atas pentas budaya populer.
  • Gitar trisula ini mencapai Tingkat Kesiapan Teknologi level 9 dengan peringkat akhir 87,5% dan siap diproduksi massal. Yang masih perlu dilakukan selanjutnya adalah menghitung biaya produksi gitar trisula agar indikator tingkat kesiapan teknologi level 9 dapat terpenuhi hingga 100%.
  • Masih sangat terbuka untuk mengaplikasikan kearifan lokal dan warisan budaya Nusantara ke dalam produk budaya pop dan modern sehingga artefak warisan leluhur tidak hanya tersimpan di museum saja, tetapi bisa ada di rumah kita dan digunakan sehari-hari.
  • Dalam skala industri kreatif, penerapan konsep dan simbol filosofis kearifan lokal dan budaya Nusantara ke dalam produk budaya pop seperti gitar listrik akan mampu memperkenalkan budaya Indonesia ke panggung internasional.

832

views