Menggali Potensi Abaka di Sulawesi Utara

Menggali Potensi Abaka di Sulawesi Utara

Tags: ITB4People, Community Services, SDGs8

Bermula dari kunjungan Cindy Wowor dan Sam Pantouw ke Museum Tekstil Jakarta di tahun 2015, keduanya menyaksikan bahwa dalam pameran wastra Indonesia yang berlangsung saat itu, satu-satunya kain tradisional dari Sulawesi Utara yang dipajang adalah kain yang bernama kofo. Kain kofo terbuat dari serat abaca, sebuah tanaman serupa pohon pisang namun tidak berbuah. Setelah mengunjungi pameran tersebut, Cindy dan Sam mencoba mencari tahu lebih banyak tentang kofo, namun mendapati bahwa ternyata kain kofo telah punah di tanah Sulawesi Utara. Tidak ada lagi pengrajin tenun di sekitar Manado, Sulawesi Utara, yang bisa membuat kain kofo.

Dalam upaya menghidupkan kembali kain tradisional di Sulawesi Utara, Cindy mendirikan Cofo Indonesia, yang berpusat di Manado. Meskipun belum dapat mereplika kain kofo yang asli, namun Cofo Indonesia kini telah menghasilkan kain-kain tenun ikat dengan motif tradisional Sulawesi Utara, seperti sohi, dan berbagai aksesoris interior yang terbuat dari serat abaca.

Namun selama ini, serat abaca yang digunakan bersifat mentah dan masih kasar sehingga tidak bisa diolah menjadi produk tekstil. Padahal secara tradisional, serat abaca digunakan sebagai bahan kain kofo. Oleh karena itu, tim pengabdian masyarakat yang dimotori oleh Sabrina Ilma Sakina, Asyifa Rachmadina Jiniputri, dan Dian Widiawati dari Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung, bersama Cofo Indonesia mencoba menggali potensi serat abaca dan komunitas pengrajin tenun di Sulawesi Utara.

Abaca

Abaca (Musa textilis) merupakan salah satu jenis tanaman yang banyak digunakan sebagai sumber serat untuk keperluan tekstil. Karena serumpun dengan tanaman pisang, secara kasat mata, abaca terlihat seperti pohon pisang, namun abaca tidak menghasilkan buah yang dapat dimakan. Serat abaka diambil dari pelepahnya yang menyerupai batang tanaman. Pelepah abaca dapat tumbuh hingga sekitar 2,5-3 meter. Tanaman ini lebih dikenal sebagai hasil pertanian dari Filipina, Ekuador, dan Kosta Rika. Di Indonesia, abaka dapat ditemukan di beberapa wilayah seperti Kalimantan, Sumatera, dan Sulawesi Utara, terutama di Kabupaten Talaud. Di Talaud, abaca dapat tumbuh secara liar di hutan.

Keuntungan dari abaca adalah tidak membutuhkan irigasi khusus ataupun pupuk. Abaca juga tidak perlu ditanam atau disemai karena tumbuh beranak. Selain itu, masa panennya cukup singkat. Setelah berusia 1-1,5 tahun, abaca dapat dipanen setiap 3-4 bulan. Namun, kelemahan dari abaca adalah, terutama apabila hutan atau kebunnya bersifat homogen, mudah sekali terserang hama jamur.

Pelatihan pengolahan serat di Talaud

Serat abaca yang digunakan oleh Cofo Indonesia bersumber dari Talaud, kepulauan di perbatasan Filipina-Indonesia. Pak Niu, seorang pemilik kebun abaca di Makatara, mengatakan bahwa abaca di Talaud terbagi menjadi tiga jenis, yaitu abaca hijau, abaca pink, dan abaca merah. Abaca hijau menghasilkan serat paling kasar, dan abaca merah menghasilkan serat paling halus di antara ketiganya.

Cara memanen tanaman abaca dilakukan dengan menebang pelepahnya, lalu mengupas pelepahnya satu per satu. Lapisan-lapisan terluar dari pelepah abaca tidak dapat digunakan karena kotor dan masih memiliki ruam warna yang tidak merata. Lapisan pelepah yang lebih dalam dari lapisan keenam hingga delapan sudah berwarna putih merata sehingga bisa diekstraksi untuk diambil seratnya. Proses ekstraksi serat ini dilakukan untuk menghilangkan bagian daging dari batang abaca, hingga hanya meninggalkan seratnya saja. Selama ini, proses ekstraksi serat dilakukan dengan mesin dekortikator. Namun, Pak Niu menjelaskan bahwa, sebenarnya, ekstraksi secara manual menggunakan tangan bisa menghasilkan serat yang lebih putih dan bersih.

Setelah mengunjungi kebun abaca milik Pak Niu dan melihat pohon abaca secara langsung, tim ITB yang terdiri dari Sabrina Ilma Sakina dan Asyifa Rachmadina Jiniputri memberikan pelatihan kepada Pak Niu dan komunitas pengrajin di Makatara untuk pengolahan serat abaca. Selama ini, serat abaca di sana digunakan dalam keadaan mentah. Padahal serat abaca yang mentah getas dan kasar. Pengolahan serat abaca yang dilatih adalah proses scouring dan bleaching. Scouring adalah proses mencuci dan membersihkan serat melalui perebusan. Bleaching adalah proses menghilangkan zat warna tanaman yang terdapat dalam serat. Hasil dari kedua proses ini menjadikan serat abaca lebih halus, bersih, putih, dan berkilau. Kedua proses ini dilakukan sebagai persiapan untuk mengolah serat lebih lanjut. Apabila serat telah melalui proses scouring dan bleaching, maka serat menjadi lebih mudah untuk diwarnai sesuai desain yang diinginkan.

Pelatihan pewarna alam di Talaud dan Tompaso

Pewarna alam merupakan hal yang unik di setiap daerah di Indonesia karena setiap daerah dapat memproduksi sumber zat warna yang berbeda-beda. Misalnya saja, di Talaud, tanaman seperti pohon ketapang, pohon bakau, mengkudu, rambutan, tumbuh dengan liar di hutan tanpa ada yang memelihara. Sedangkan di Tompaso, ternyata di kebun tempat pelatihan berlangsung, terdapat pohon alpukat, pohon mahoni, pohon mahkota dewa, dan pinang.

Semua jenis tanaman tersebut dapat digunakan untuk mewarnai serat alam dan menghasilkan warna yang sangat beragam. Kulit pohon bakau dapat diambil tanpa menebang pohonnya dan menghasilkan warna merah pekat bila digunakan untuk mewarnai serat abaca. Biji buah pinang dapat menghasilkan warna oranye terang di atas benang katun. Proses pewarnaan menggunakan bahan alami selalu dimulai dengan proses ekstraksi warna dari bahan alam. Umumnya, proses ekstraksi ini bisa dilakukan dengan cara merebus bagian tanaman tertentu, hingga air rebusannya memekat. Air rebusan yang memekat ini yang disebut sebagai ekstrak warna, Ada juga beberapa jenis tanaman tertentu yang membutuhkan proses lain dalam ekstraksinya, seperti proses peminyakan untuk akar mengkudu atau proses fermentasi untuk indigofera. Ekstrak warna yang sudah diambil dari tanaman kemudian digunakan untuk mencelup bahan tekstil.

Namun, sekedar menggunakan ekstrak warna tidak cukup karena kadang-kadang daya ikat pewarna alam terhadap serat kurang kuat. Oleh karena itu, dibutuhkan pembangkit warna yang umum disebut sebagai mordant. Selain membantu mengikat warna ke serat tekstil, mordant juga dapat mengubah warna hasil celupan. Contohnya saja, hasil celupan kulit bakau tanpa mordant berwarna pink. Bila celupan kulit bakau diberi mordant berupa kapur sirih, hasilnya berubah menjadi merah bata.

Dalam pelatihan di Talaud dan Tompaso, tim ITB memberikan arahan tentang cara mengekstraksi zat warna dari tanaman dan memperkenalkan mordant kepada pengrajin. Di Tompaso, Dr. Dian Widiawati, salah satu anggota tim ITB, mencontohkan bagaimana mordant dapat mempengaruhi hasil pencelupan menjadi warna yang berbeda-beda meskipun menggunakan ekstrak tanaman yang sama.

Pelatihan tenun di Tompaso

Pak Janny merupakan pengrajin tenun di Tompaso dengan pengalaman 12 tahun. Selama ini, Pak Janny biasa menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM) dengan 2 kamran, dan alat tenun dobby. Alat tenun seperti ini menghasilkan tenun polos, atau tenun polos dengan sedikit variasi. Dari segi pewarnaan, Pak Janny dan para ibu-ibu pengrajin di Tompaso menggunakan pewarna sintetis untuk membuat pola ikat pada benang pakan.

Pada tahun 2022 ini, Cofo Indonesia mendatangkan alat tenun baru untuk Pak Janny dan kawan-kawan. Alat tenun ini berupa table loom—alat tenun berukuran kecil yang dapat dinaikkan ke meja—dengan 8 kamran. Perbedaan antara alat tenun dengan 2 kamran dan 8 kamran adalah kemampuannya menghasilkan variasi motif struktur tenun. Dengan 8 kamran, struktur tenun yang bisa dihasilkan oleh pengrajin menjadi jauh lebih banyak daripada 2 kamran.

Tim pengabdian masyarakat ITB memberikan pelatihan kepada Pak Janny dan ibu-ibu di Tompaso agar mereka dapat memanfaatkan keberadaan 8 kamran ini dengan kreatif. Tim ITB membekali Pak Janny dan kawan-kawan dengan yang disebut sebagai weaving draft, atau rancangan pola tenun. Weaving draft memudahkan pengrajin untuk membayangkan hasil tenun yang akan dikerjakan. Pelatihan mengenai pola tenun ini dibagi menjadi dua. Pada pertemuan pertama, para pengrajin diperkenalkan dengan konsep pola tenun dan bagaimana memanfaatkan keberadaan 8 kamran untuk menghasilkan motif tenun yang variatif. Lalu, pada pertemuan kedua, tim ITB melihat langsung hasil tenunan yang telah menerapkan pengetahuan terkait pola tenun.

Pada akhirnya, Pak Janny mencoba menenun serat abaca yang telah diwarnai dengan kayu secang. Motif yang dihasilkan berbentuk wajik, dan bagian serat abaca berwarna merah bata mengkilat, seperti benang metalik.

Tentunya, upaya pelatihan-pelatihan tersebut bukan hanya untuk berbagi pengetahuan dengan para pengrajin. Pengetahuan mengenai pengolahan serat, pewarna alam, dan pola tenun dapat menjadi bekal bagi para pengrajin untuk dapat berkreasi, menciptakan identitas, dan meningkatkan nilai dalam karya tenunnya.

Pewarnaan Serat Dari Tumbuhan

Dengan banyaknya isu pencemaran air yang diakibatkan limbah cair hasil dari proses pewarnaan tekstil, membuat para pelaku fesyen mencari alternatif dalam proses pewarnaannya. Industri tekstil yang semakin bertambah mengikuti perkembangan mode menyebabkan limbah zat cair yang mencemari sungai dan perairan di Indonesia semakin banyak. Menurut UN Environment Program (UNEP), industri fesyen adalah pengguna air kedua terbesar, yang dimana 20 persen dari pencemaran air limbah dunia disebabkan karena membuang setengah juta ton serat mikro sintetis ke laut setiap tahunnya. Banyak dampak yang terjadi akibat pencemaran air tersebut, contohnya sungai anak Citarum yang berubah warna dikarenakan sudah tercampur pewarna sintetis. Dampak ini pun dapat langsung terasa oleh warga yang tinggal di daerah sekitar yang menggunakan air sungai untuk berkegiatan sehari - hari.

Berangkat dari masalah tersebut maka kini banyak brand fesyen yang beralih pada alternatif yang ramah lingkungan. Selain dalam upaya mengurangi dampak negatif dari pewarnaan sintetis, penggunaan pewarnaan alami memiliki sifat rendah toksisitas, mudah terurai, dan dapat diperbaharui. Dikarenakan berasal dari tanaman yang dapat dibudidayakan, maka teknik ini juga memiliki karakteristik berkelanjutan (sustainable).

Pada dasarnya hampir semua jenis tumbuhan dapat menghasilkan zat warna, seperti: bunga, buah, daun, biji, kulit, batang/kayu dan akar. Beberapa tumbuhan yang seringkali dipakai dalam pewarnaan alami, di antaranya tanaman indigo (Indigofera tinctoria) penghasil warna biru; pohon mahoni (Swetenia macrophylia) penghasil warna cokelat; pohon ketapang (Terminalia catappa) penghasil warna abu; tanaman secang (Biancaea sappan) penghasil warna merah; tanaman bungur kecil (Lagerstroemia indica) penghasil warna hitam; dan daun mangga (Mangifera indica) penghasil warna kuning. Untuk mendapatkan esktrak warna dari berbagai tumbuhan membutuhkan proses yang panjang dan jumlah air yang tidak sedikit. Setiap jenis tumbuhan melewati proses yang berbeda-beda untuk menghasilkan ekstrak. Berbeda dengan daun secang yang harus terlebih dahulu dikeringkan kemudian direbus, daun indigofera harus melewati proses fermentasi lalu direndam dalam asam dengan konsentrasi tertentu selama 24 jam sebelum direbus. Proses pencelupan pun melewati beberapa tahap. Pertama dalam pemilihan kain, jenis kain paling sesuai untuk dipakai adalah 100% serat alami seperti serat kapas, nanas dan abaca. Kain yang mengandung serat polyester tetap dapat dicelup namun warna tidak akan sepenuhnya masuk. Tahap selanjutnya adalah penggunaan mordant, yang berfungsi sebagai pembangkit dan membantu mengunci warna, di antaranya terdapat jeruk nipis, kapur sirih, air tawas, cuka, dan garam. Mordant dapat diaplikasikan sebelum pencelupan kain, saat pencelupan kain, ataupun setelah pencelupan kain. Intensitas pencelupan warna pun akan menghasilkan warna yang berbeda, semakin sering dilakukan pencelupan, maka semakin gelap dan pekat hasilnya. Tahap terakhir yaitu dilakukan pencucian untuk menghilangkan sisa pewarna dan memeriksa kelunturan warna.

Tentu dalam proses pencelupan menggunakan pewarna alami masih memiliki banyak kelemahan seperti warna yang tidak stabil, keseragaman warna kurang baik, konsentrasi pigmen rendah, dan spektrum warna terbatas. Namun, dalam prosesnya, pewarna alami akan mengurangi pencemaran air dari pewarna sintetis yang berbahaya baik bagi lingkungan maupun manusia. Pada pewarnaan alami, limbah air sisa dari pencelupan tidak langsung dibuang pada sungai namun bisa digunakan untuk membudidayakan tanaman eceng gondok. Dengan adanya alternatif ramah lingkungan ini, diharapkan pewarnaan alami dapat semakin banyak diperluaskan baik bagi pelaku fesyen maupun penggunanya.

879

views