LPPM ITB Lakukan Pengabdian Antisipasi Banjir dan Abrasi di Desa Titigogoli Morotai

Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Institut Teknologi Bandung (LPPM ITB) 2023, melakukan program pengabdian masyarakat top down di Desa Titigogoli, Kecamatan Morotai Jaya, Maluku Utara.

Pengabdian yang dipimpin Mohammad Farid, Ph.D itu, dalam rangka peningkatan ketangguhan masyarakat terhadap banjir dan abrasi pantai.

Pasalnya, Desa Titigogoli menyimpan sejumlah keindahan alam, seperti pantai yang masih asli. Namun, di balik itu terdapat ancaman bencana alam yang mengintai desa ini.

Melalui program tersebut, perangkat dan warga Desa Titigogoli diberikan penyuluhan mengenai alat peringatan dini tentang banjir. Baik berupa sensor ketinggian muka air sungai dan tinggi hujan.

“Selanjutnya, penyuluhan juga dilakukan terhadap metode pengamatan muka air secara fisik melalui penggunaan peilschaal dan penyampaian informasi, solusi alternatif berbasis masyarakat terhadap bencana abrasi pantai,” kata Farid.

Berdasarkan hasil kunjungan lapangan yang dilakukan pada Kamis (17/8) lalu oleh Tim LPPM ITB, sambung dia, sungai yang berada di desa tersebut merupakan pertemuan dua anak sungai dari daerah hulunya. Ini menyebabkan meningkatnya potensi luapan air ketika musim hujan tiba.

“Selain itu, dua anak sungai tersebut juga membawa bebatuan serta sedimentasi lainnya yang menyebabkan kedangkalan dan pengurangan kapasitas sungai. Sehingga air meluap hingga menyentuh pemukiman warga. Pada 8 Januari 2022 lalu, luapan diperkirakan mencapai ketinggian hingga 92 cm dan merendam beberapa rumah warga,” jelasnya.

Dengan begitu, akan ada alat peringatan dini banjir yang rencananya dipasang di desa tersebut. Alat tersebut bekerja secara otomatis dan terhubung dengan platform media sosial tertutup untuk melaporkan hasil pengukuran tinggi muka air sungai, serta ketinggian hujan kepada perangkat desa setempat.

“Selain hasil pengukuran, informasi yang disampaikan berupa peringatan terhadap potensi banjir agar masyarakat dapat melakukan evakuasi lebih dini. Pada awal pengembangannya, penyuluhan difokuskan pada kegiatan kunjungan lapangan dan pengenalan alat kepada warga. Nantinya dilanjutkan dengan pemasangan dan pengembangan berupa penambahan kamera pantau yang dapat memberikan gambaran kondisi sungai,” ujarnya.

Di sisi lain, Tim LPPM ITB juga mengidentifikasi penyebab dari abrasi pantai di desa. Dari hasil pengamatan, terjadinya abrasi pantai yang jaraknya kurang dari satu meter dari bibir pantai yaitu kurangnya infrastruktur pemecah ombak.

“Kemudian campuran pasir vulkanik dan pasir putih sebagai penyusun pasir pantai menyebabkan sulitnya pohon bakau untuk tumbuh dan berkembang. Sehingga peran bakau sebagai salah satu solusi pengendali abrasi membutuhkan alternatif berbasis masyarakat lainnya,” katanya.

Sementara itu, Kepala Desa Titigogoli, Bapak Robi Toni berharap, program pengabdian masyarakat LPPM ITB di Desa Titigogoli ini agar terus berlanjut dalam upaya pengentasan permasalahan banjir dan abrasi pantai. Sehingga permasalahan tersebut dapat diminimalisir hingga teratasi dengan baik.

“Kami berterima kasih atas kehadiran tim LPPM ITB ke Desa Titigogoli dan menanti kehadiran dan kelanjutan dari kegiatan LPPM ITB ini,” tandasnya.

387

views