Kolaborasi Warga Merencanakan Desa Wisata Terpadu di Selatan Magetan

Desa wisata saat ini sedang menjadi primadona pembangunan di desa, tidak hanya Pemerintah Desa, tetapi masyarakat juga ikut antusias membangun desanya menjadi desa wisata. Antusiasme membangun desa wisata juga dialami oleh masyarakat di empat desa di Kecamatan Parang, selatan Kabupaten Magetan, yaitu Desa Ngunut, Desa Trosono, Desa Sayutan, dan Desa Bungkuk, setelah mereka berhasil mengembangkan lokasinya menjadi tempat terbang dan mendarat olah raga paralayang. Bahkan, beberapa anak muda desa sudah berhasil menjuarai beberapa kompetisi paralayang di Jawa Timur.

Berbicara Magetan, kita pasti akan langsung teringat dengan Gunung Lawu, Telaga Sarangan, dan yang terakhir booming adalah Taman Genilangit. Ikon pariwisata Magetan ini sudah cukup melekat dibenak masyarakat secara luas. Selain dua ikon pariwisata tersebut Kabupaten Magetan juga memiliki beberapa daya tarik wisata lain diantaranya Air Terjun Tirtosari, Telaga Wahyu, dan Mojosemi Forest Park. Namun jika kita perhatikan semua daya tarik wisata tersebut sebagian besar berada di bagian utara dan barat kabupaten ini, sementara bagian selatannya belum dikenal sebagai destinasi pariwisata. Padahal jika melihat potensi yang ada, kawasan selatan memiliki sejumlah potensi yang dapat dikembangkan sebagai daya tarik wisata, baik panorama pegunungan dengan sejarah geologi pembentukannya, kawasan dan budaya pertanian, budaya tradisi masyarakat Jawa, sejarah, bahkan potensi wisata olah raga paralayang yang baru saja berkembang juga dapat menjadi unggulan pariwisata di selatan Magetan ini.

Fenomena ini membuat masyarakat dan pemerintah empat desa di selatan Magetan tersebut semakin termotivasi untuk menciptakan magnet baru pariwisata di desanya. Menyadari bahwa membangun desa wisata tidak dapat dilakukan sendiri, keempat desa ini membangun kerja sama dengan nama Blego – Bungkuk (B2) Jaya, yang menunjukkan bahwa keempat desa ini dipersatukan oleh Gunung Blego dan Gunung Bungkuk. Keseriusan empat Pemerintah Desa juga ditunjukkan dengan kolaborasi yang dibangun dengan Pemerintah Kabupaten Magetan, yang kemudian memfasilitasi kerja sama keempat desa dengan Institut Teknologi Bandung (ITB).

Tiga Program Pengabdian Masyarakat ITB untuk B2 Jaya

Antusiasme empat Pemerintah Desa dalam naungan kerja sama B2 Jaya untuk berkolaborasi dengan akademisi disambut baik oleh pimpinan ITB dengan menerima audiensi keempat Pemerintah Desa ini didampingi oleh Pemerintah Kabupaten Magetan pada tanggal 15 Desember 2021. Audiensi ini ditindaklanjuti dengan penandatanganan MoU antara Bupati Magetan dengan Rektor ITB sebagai payung hukum bagi program pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat yang akan dilakukan ITB untuk mendampingi pengembangan desa wisata terpadu B2 Jaya.

Pada tahap awal kerja sama di tahun 2022 ini, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) ITB menginisiasi tiga kegiatan utama pengabdian masyarakat di empat desa Kawasan Gunung Blego-Gunung Bungkuk ini. Pertama, kegiatan untuk menyusun perencanaan desa wisata terpadu Kawasan Gunung Blego-Gunung Bungkuk. Kegiatan ini sesuai kebutuhan dan keinginan keempat desa untuk memiliki perencanaan berjangka panjang untuk membangun desa wisata terpadu di kawasannya. Kedua, kegiatan pemberdayaan masyarakat untuk mengembangkan produk pariwisata berkualitas di desa wisatanya. Kegiatan ini akan difokuskan untuk menggali potensi pariwisata di setiap desa, termasuk keunggulan sumber daya alam dan budaya setiap desa yang dapat dikembangkan menjadi produk pariwisata kreatif dan edukatif. Ketiga, pemetaan potensi keragaman geologi dan sumber daya air untuk mendukung pengembangan geowisata dan penyediaan air bagi wisatawan. LPPM ITB menugaskan Pusat Perencanaan dan Pengembangan Kepariwisataan (P-P2Par) untuk melaksanakan kegiatan pertama dan kedua, serta Program Studi Teknik Geologi untuk kegiatan ketiga. Tiga kegiatan ini dilaksanakan secara terintegrasi untuk mendukung pengembangan keempat desa wisata sesuai kebutuhan desa.

Perjalanan kegiatan kedua, yaitu pemberdayaan masyarakat di Kawasan Gunung Blego-Gunung Bungkuk sudah dituliskan dan diterbitkan pada e-paper Media Indonesia tanggal 6 September 2022 dengan judul Merajut Pariwisata Berkualitas di Kawasan Blego-Bungkuk.

Mengajak Masyarakat Merencana Bersama

Mengikutsertakan masyarakat desa dalam proses perencanaan pembangunan kepariwisataan di desanya, tentu bukan hal yang mudah, walaupun antusiasme masyarakat sangat tinggi. Perlu strategi dan tahapan yang tepat untuk dapat diikuti dan diterima dengan baik oleh mereka.

Merencana bersama masyarakat tentu tidak berarti harus melibatkan seluruh masyarakat. Oleh karena itu, yang pertama dilakukan oleh tim P-P2Par ITB adalah mendorong para Kepala Desa untuk membentuk Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) yang akan menjadi penggerak pariwisata di desanya. Pokdarwis ini juga akan menjadi tim utama yang dilibatkan dalam membuat perencanaan desanya menjadi desa wisata. Keterwakilan seluruh komunitas di desa menjadi kunci kekompakan Pokdarwis dan menghindari potensi konflik yang mungkin terjadi.

Kegiatan berikutnya adalah melaksanakan diskusi kelompok terpumpun bersama seluruh perwakilan komunitas yang ada di desa, seperti kelompok PKK, seniman, Gapoktan, Karang Taruna, Badan Usaha Milik Desa (Bumdes), Badan Perwakilan Desa (BPD), perangkat desa, dan Pokdarwis bagi desa yang sudah berhasil membentuknya. Kegiatan diskusi ini dilaksanakan di Kantor Desa Sayutan pada tanggal 8 Juni 2022. Pada diskusi kelompok yang diselenggarakan sehari penuh ini, perwakilan masyarakat yang berjumlah hampir 50 orang diberikan pemahaman terlebih dahulu tentang pengetahuan dasar kepariwisataan dan wawasan mengenai manfaat pengembangan desa wisata bagi masyarakat dan desa. Setelah itu, proses perencanaan bersama masyarakat mulai dilakukan. Masyarakat diajak untuk bersama-sama mengidentifikasi keunggulan desanya serta permasalahan utama yang dihadapi jika akan mengembangkan desanya menjadi desa wisata.

Tim LPPM ITB yang terdiri dari Budi Faisal, Yani Adriani, Ersalora Lutfianti dari P-P2Par, juga diperkuat oleh Roiswahid Dimas Pengestu dari Program Studi Magister Arsitektur Lanskap serta mahasiswa MBKM Program Studi Arsitektur Claresta Dhyhan Ediganiputri juga melakukan proses pengumpulan data dan diskusi awal konsep pengembangan bersama Pokdarwis dan Pemerintah Desa langsung di lapangan.  Kegiatan ini dilaksanakan agar dapat mengetahui kondisi yang sebenarnya dan terkini serta prospek pengembangan yang dapat dilakukan sesuai dengan harapan dan cita-cita masyarakat dan Pemerintah Desa. Proses ini memang tidak dapat dilakukan dengan cepat, untuk tahap awal, tim bersama Pokdarwis dan Pemerintah Desa mengidentifikasi dan merumuskan konsep rencana pengembangan secara terpadu empat sampai enam lokasi yang berpotensi dikembangkan sebagai daya tarik wisata di setiap desa. Tim LPPM ITB mendampingi kegiatan survei dan merencana di lapangan ini selama empat hari untuk memberikan mentoring sehingga Pokdarwis dan Pemerintah Desa dapat melanjutkan proses ini secara mandiri.

Komunikasi dengan para pihak terkait pada setiap tahap perencanaan disadari sangat penting oleh Pemerintah Desa di Kawasan B2 Jaya ini. Setelah survei dan konsep awal perencanaan disusun bersama, pada tanggal 10 Juni 2022, pemerintah keempat desa mengundang dialog Pemerintah Kabupaten Magetan yang dihadiri oleh perwakilan dari Bagian Tata Pemerintahan, Dinas Pariwis