Kolaborasi ITB & Kemenperin Hasilkan Cangkul IKM Ber-SNI

BANDUNG, 5 Oktober 2021

Kolaborasi Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Kementerian Perindustrian dalam memberdayakan perajin Kampung Pandai Besi di Desa Mekarmaju, Kecamatan Pasirjambu, Kab. Bandung membuahkan cangkul produksi industri kecil dan menengah yang memiliki Standar Nasional Indonesia (SNI). Dengan memiliki SNI, produk perkakas pertanian ini diharapkan bisa menjawab isu ketersediaan perkakas dari dalam negeri dan menembus pasar lebih luas. 

Pengembangan kapasitas perajin dan peningkatan kualitas produk perkakas ini terutama berada di bawah payung program pengabdian masyarakat LPPM ITB sejak 2015. Bersama dengan Kemenperin, kampung pandai besi ini kemudian menjadi proyek percontohan untuk usaha kecil dan menengah yang memproduksi perkakas sehingga membuahkan SNI untuk sentra perajin perkakas yang pertama di Indonesia.

Ilmuwan ITB dari Kelompok Keahlian Teknik Metalurgi, Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan, Dr. Eng Akhmad Adian Korda menyatakan bahwa ITB berkontribusi mulai dari penyelarasan SNI hingga membantu perajin meningkatkan kualitas produk agar memenuhi syarat SNI. “Kami membantu dari sisi pembuatan dan perbaikan beberapa amandemen (SNI). Selain itu, Kemenperin juga meminta bantuan kita mengecek cangkul yang ada dan perkakas lain,” kata Dr Korda di Desa Mekarmukti, Kab. Bandung, Rabu (6/7/2021). 

Dr. Korda menjelaskan, dalam SNI tersebut terdapat persyaratan bukan hanya terkait dengan dimensi dari peralatan pertanian, tetapi juga persyaratan kualitas yang terkait dua ha,l yaitu komposisi kimia dari baja yang digunakan dan sifat mekanik dari cangkul.

“Nah ini yang kita masuk karena memang secara teknologi perbuatan cangkul di sini dilakukan secara sederhana. Mereka perlu tahu treatment agar sifat mekaniknya tercapai dengan komposisi kimia yang kita syaratkan. Jadi, kita membina dari sisi itu, dari keilmuan metodologi kita memanfaatkan untuk memberi pengetahuan ke IKM di sini bagaimana cara membuat cangkul yang sesuai persyaratan mutu yang diminta SNI,” papar Dr. Korda.

Direktur Industri Kecil dan Menengah Logam, Mesin, Elektronika dan Alat Angkut, Dini Hanggandari menyatakan pihaknya terus berupaya agar pemberdayaan di sentra IKM memiliki daya saing yang tinggi. “Prosesnya bertahap dan Kemenperin tidak bisa berjalan sendiri, kita harus bermitra, salah satunya dengan ITB ini,” katanya saat meninjau perajin di Desa Mekarmukti dan meresmikan program MBKM ITB bersama Sekretaris LPPM Bidang Pengabdian Masyarakat, Deny Willy Junaidy Ph.D., didampingi Dr. Korda dan aparat desa setempat. 

Dini menyatakan bahwa kolaborasi yang dilakukan dengan ITB merupakan bagian penting dalam meningkatkan kapasitas perajin dan kualitas produknya. “Dengan ITB, terutama keilmuan metalurgi bisa dibantu pengolahan, mulai dari kandungan bahan, temperatur, pengolahan, untuk mencapai tingkat kekerasan sesuai standar yang diinginkan,” ujararnya.

Dengan memiliki SNI, Dini menyatakan, peluang produk sentra IKM menembus pasar semakin terbuka. “Kemarin cangkul kita banyak impor dan kami juga tidak mau seperti itu karena industri kita sudah ada. Namun, kita harus memenuhi standar. Untuk memenuhi standar itu kita lakukan berbagai program, mulai dari pelatihan hingga penyediaan alat, selain membuka pasar secara online maupun offline,” ujarnya. 

Konsistensi

Sekretaris Bidang Pengabdian Masyarakat LPPM ITB, Deny Willy Junaidy, Ph.D. menyatakan bahwa konsistensi program menjadi pertimbangan penting dalam penentuan target program. “Kami awalnya fokus pada pelatihan selama beberapa tahun. Pak Korda melatih tentang pengolahan baha, agar kadarnya stabil dan mutunya baik.”

Keberhasilan Desa Mekarmukti sebagai sentra IKM menghasilkan produk yang ber-SNI diakui Deny Willy, Ph.D. lebih dari target program pengabdian masyarakat. “Setelah beberapa tahun dirasa sudah pantas untuk membuat cangkul dan dimasukkan SNI, ini outcome yang di luar target awal pembinaan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Deny Willy, Ph.D., menjelaskan bahwa dalam setiap program pengabdian masyarakat LPPM ITB, dampak yang diharapkan terutama adalah peningkatan kesejahteraan dan membangun kemandirian masyarakat melalui penerapan sains dan teknologi yang tepat guna. 

“Salah satu program yang diterapkan adalah program top down. Dalam program ini, para dosen yang punya rekam jejak dan jam terbang sudah tinggi sifatnya ditugaskan. Seleksi dilakukan dari sisi konsistensi di satu titik tertentu agar terbangun kesinambungan. Kita pilih yang punya topik sama agar konsisten. Ini yang juga mendasari program pengabdian masyarakat desa binaan,” katanya.*

1007

views