ITB Gelar Workshop Eksplorasi Ruang Kelas Bagi Siswa dan Guru di SDN 04 Sukadana dan SD Filial Semokan Ruak

Ruang kelas dan area lingkungan sekolah memiliki potensi dalam membantu proses pelaksanaan  pembelajaran.  Standar mengenai dimensi dan konfigurasi ruang kelas telah disusun oleh pemerintah, namun implementasi di lapangan sangat beragam akibat berbagai persoalan.
 
Karena itu Tim Institut Teknologi Bandung (ITB) yang dipimpin oleh Kukuh Rizki Satriaji, dari Kelompok Keahlian Manusia dan Ruang Interior (KK MRI), Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB, kembali menggelar workshop terkait ruang kelas. Kegiatan ini melibatkan siswa dan guru di SDN 04 Sukadana dan SD Filial Semokan Ruak, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara.

Kegiatan ini berlangsung selama dua hari, sejak tanggal 8-9 September 2023, merupakan bagian dari Program Pengabdian Masyarakat PPMI ITB yang menekankan pada bidang pendidikan. 

Tim ITB menggandeng karasa.bdg hadir ke sekolah untuk membahas potensi peningkatan kegiatan pembelajaran. Kehadiran tim disambut baik oleh Kepala Sekolah SDN 04 Sukadana, Saipudin, S.Pd.

Di hari pertama, workshop digelar secara paralel antara siswa kelas 4-6 serta guru wali pendamping kelas. Masing-masing diskusi dilakukan di ruang kelas yang berbeda.  Tujuannya  untuk mendapatkan jawaban yang murni tanpa adanya pengaruh baik dari guru maupun siswa.

Tim yang terdiri dari Yogie Candra Bhumi, Hatif Adiar Almantara, Andriyanto Wibisono, Dwi Hatmojo Danurdoro, Eljihadi Alfin, Muhammad Luqman, Raditya Farrel Anggaraksa, berinteraksi dengan siswa kelas 4-6 SD.

Selama workshop berlangsung, terjadi diskusi aktif untuk mengidentifikasi permasalahan yang terjadi di sekitar lingkungan belajar. Proses identifikasi ini menjadi hal penting karena para siswa dan gurulah yang paling mengetahui kondisi yang terjadi selama kegiatan pembelajaran berlangsung.

“Para siswa, terutama kelas 5 dan 6, telah dapat mengidentifikasi kondisi ruang kelas mereka, baik fisik bangunan, furnitur yang digunakan, maupun faktor kenyamanan dengan jelas. Kemudian mereka dapat mengusulkan kondisi dan situasi seperti apa yang mereka harapkan kedepannya. Hasil ini dibuktikan dengan jawaban-jawaban yang bermunculan selama kegiatan workshop berlangsung,” ucap Kukuh, di sela-sela kegiatan.

Di ruang kelas yang berbeda, para guru melakukan diskusi mengenai hambatan yang dialami selama pelaksanaan kegiatan pembelajaran bersama siswa. Diskusi dan workshop guru dipandu oleh tim ITB dan Karasa.bdg, Andi Abdul Qodir dan Arum Kartikaningbudi.

Dalam workshop ini dicontohkan bahwa keterbatasan alat peraga pembelajaran dapat disubstitusi dengan cara memanfaatkan elemen yang ada di sekitar lingkungan sekolah, seperti misalnya sebuah batu yang dapat dianalogikan sebagai media pengenalan mengenai anatomi organ dalam manusia.

Pada hari kedua, tim berkunjung ke SD Filial Semokan Ruak. Disini siswa ditantang untuk memecahkan soal-soal berhitung sederhana seperti penjumlahan dan pengurangan dalam bentuk permainan.

Mereka juga diminta untuk mengidentifikasi dan menceritakan ciri-ciri hewan yang mereka sering temui di sekitar rumah dan sekolah sambil bercerita. Kemudian diajarkan juga pengenalan bentuk dasar melalui praktek menggambar dengan pendekatan obyek yang mereka temukan sehari-hari. Hal ini dilakukan untuk memudahkan penganalogian siswa dalam menjawab pertanyaan.

Melalui kegiatan seperti ini, diharapkan dapat menciptakan kepedulian dan rasa memiliki siswa terhadap ruang kelas yang mereka gunakan di sekolah sehingga dapat memotivasi mereka untuk terus sekolah.

Siswa juga diajarkan untuk memiliki tanggung jawab terhadap guru dengan cara mengamati dengan baik ketika guru menerangkan. Sedangkan bagi guru, dapat memanfaatkan potensi yang dimiliki oleh lingkungan di sekitar sekolah sebagai alternatif metode penyampaian pembelajaran kepada siswa secara kreatif, serta meningkatkan peluang munculnya metode pembelajaran baru yang kontekstual. (r2)

210

views