ITB Gelar Pelatihan Pembuatan Paket Wisata Budaya Upacara Adat Wiwitan di Bantul

BANDUNG, lppm.itb.ac.id-Jumat, 10 Juni 2022, Program Pengabdian Masyarakat Bottom Up Institut Teknologi Bandung (ITB) menggelar pelatihan pembuatan paket wisata budaya upacara adat wiwitan, Jumat (10/6/2022).

Kegiatan berupa Focus Group Discussion dan site visit ini melibatkan masyarakat dari Kalurahan Bangunjiwo dan Kapanewon Dlingo.  

Lusia Maeliana Nurani dari Kelompok Keahlian Literasi Media dan Budaya, Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB, selaku ketua dalam kegiatan ini menyatakan pandemi Covid-19 yang menyebabkan penurunan jumlah wisatawan di DIY.

Hal menarik dibahas yakni keinginan bersama untuk mengenalkan lebih luas tradisi upacara adat Wiwitan, secara lebih luas pada wisatawan lokal dan mancanegara.

Lusia mengatakan, tradisi Wiwitan menarik perhatiannya karena memiliki makna yang begitu banyak di tiap tahapan prosesi juga ubarampenya. Hal ini dirasa menarik untuk dieksplorasi lebih jauh karena kini tradisi ini seolah sudah dilupakan oleh generasi muda, yang sebenarnya justru menarik minat wisatawan secara luas.

“Kami ingin tradisi Wiwitan ini populer dan diketahui oleh generasi hari ini. Kami diskusi dengan Asita, ternyata tradisi budaya dari masyarakat Yogya ini digemari wisatawan tidak hanya dari dalam negeri tapi justru dari luar negeri. Hari ini kami diskusi bersama untuk mewujudkan paket atraksi budaya ini bagi wisatawan,” ungkapnya pada KRjogja.com di sela diskusi.

"Upacara adat Wiwitan dipilih karena secara filosofis memiliki makna yang dalam yaitu harapan dan syukur. Wiwitan dilaksanakan sebelum menanam padi yang merupakan doa penuh harap agar panen berhasil. Wiwitan juga dilaksanakan sebelum memanen padi yang mencerminkan rasa syukur karena masa panen telah datang. Harapan dan syukur merupakan dua hal yang sangat penting di masa pandemi ini," urainya.

Fachri Herkusuma, Wakil Ketua Bidang Pemasaran dan Komunikasi DPD Asita DIY, mengungkap bawasanya tradisi budaya di Yogyakarta menarik bagi wisatawan terlebih dari mancanegara. Wisatawan dari Eropa khususnya menurut Fachri senang dengan budaya-budaya Indonesia dan mereka tertarik datang untuk melihat langsung bahkan merasakan prosesinya.

“Beberapa waktu terakhir yang paling laku, wisatawan yang melakukan pernikahan dengan adat Jawa, mereka datang untuk menikah dengan adat kita. Kalau untuk budaya yang lagu, tarian atau musik sudah cukup banyak juga dan itu menarik. Nah ternyata kita juga punya adat Wiwitan lho, yang sarat makna dan menarik juga untuk diperlihatkan langsung pada wisatawan,” ungkapnya.

Asita DIY mendapat cukup banyak permintaan wisatawan untuk menyaksikan atraksi budaya secara langsung seperti dari dalam negeri dan luar negeri. Apabila nantinya terwujud, maka upacara Wiwitan akan menjadi salah satu hal menarik bagi mereka.

“Dari Eropa, lalu Singapura dan Malaysia sudah banyak meminta karena mereka tertarik mempelajari budaya kita. Kalau lokal, dari pelajar dan mahasiswa yang juga ingin belajar budaya, pasti akan sangat tertarik. Peluang ini yang harapannya bisa ditangkap oleh masyarakat dari Bangunjiwo dan Dlingo,” sambungnya.

Tambahnya, kegiatan konservasi budaya seperti ini penting dilakukan agar tidak punah.

Maka dari itu, kerja sama dengan desa wisata perlu dilakukan.  

"Jangan sampai tidak ada diskusi dengan ASITA. Karena banyak desa wisata yang berinvestasi tapi tidak pas untuk market. Paket wisata harus dikemas dengan menarik, jangan sampai orang investasi desa wisata tapi tidak bisa kita jual. Kan sayang," tambahnya.

551

views