Hirupan Cikahuripan, Membangun Desa Wisata Tangguh Bencana

Hidup di atas sebuah sesar aktif adalah kenyataan untuk beratus warga yang tinggal di Desa Cikahuripan, Kab. Bandung Barat. Melintang di bawah rumah mereka adalah Sesar Lembang. Sesar lembang merupakan sesar aktif yang membentang sepanjang 29 Km dari Timur di daerah Jatinangor hingga ke Barat di daerah Padalarang. Penelitian menunjukkan bahwa Sesar Lembang memiliki potensi terjadi dengan magnitude 6,7 hingga 7. Pada tahun 2011, Sesar Lembang sempat bergerak dengan magnitudo 3,3 dan merusak sekitar 384 rumah warga di Kampung Muril, Desa Jambudipa, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Kedalaman gempa ini sangat dangkal, sehingga dapat menimbulkan kerusakan yang cukup besar.

Sejak tahun 2012, masyarakat Desa Cikahuripan aktif dalam upaya mitigasi dan kesiapsiagaan dalam wadah Forum Kesiapsiagaan Dini Masyarakat (FKDM) di tingkat Kab. Bandung Barat. Menarik sekali saat gaung partisipasi perempuan dalam Pengurangan Risiko Bencana masih kurang terdengar, di Desa Cikahuripan hampir seluruh anggota aktifnya adalah perempuan. Meskipun mereka selalu disibukkan dengan beragam kegiatan pembekalan, sosialisasi, dan tanggap darurat, masyarakat desa secara umum masih kurang mampu terlibat dalam aksi nyata. Bukan karena abai, namun mereka bingung dalam menyikapi isu kebencanaan.

Pengurangan Risiko Bencana Berbasis Komunitas

Kedatangan pihak luar sebagai intermediari atau fasilitator menjadi sangat penting untuk mendorong masyarakat dalam menemukan potensinya melalui proses partisipasi masyarakat. Menurut Arnstein (1969), partisipasi terdiri dari 8 tahapan, mulai dari manipulasi, terapi, informing, konsultasi, placation, partnership, delegated, dan citizen control. Tingkat tertinggi dari partisipasi masyarakat ini adalah citizen control, dimana masyarakat hadir serta memiliki kekuasaan penuh untuk merencanakan, melaksanakan dan mengawasi rencana. Di Desa Cikahuripan, tingkat partisipasi masyarakat, yang diwakili oleh FKDM dan pemimpin masyarakat baik formal maupun non-formal ada di tahap partnership, yaitu masyarakat hadir, bernegosiasi dan membagi tanggung jawab dengan pemerintah dan/atau fasilitator, memberi serta menerima informasi dan masukan-masukan.

Paripurno (2011) juga menjelaskan bagaimana tahapan yang akan dilalui oleh pihak luar atau intermediari ketika akan mengajak masyarakat untuk melakukan partisipasi, yaitu penolakan, berbagi informasi, konsultasi tanpa komentar, konsensus dan pengambilan kesepakatan bersama, kolaborasi, berbagi penguatan dan risiko, hingga pemberdayaan dan kemitraan. Kegiatan pengabdian masyarakat di Desa Cikahuripan ini berharap pada adanya pemberdayaan dan kemitraan, terutama dalam pengembangan Desa Wisata yang mengangkat isu mitigasi bencana.

Terkait dengan bagaimana masyarakat Desa Cikahuripan menghadapi bencana, maka pendekatan pengurangan risiko bencana berbasis komunitas (PRBBK) diterapkan di awal-awal kegiatan pengabdian masyarkat oleh fasilitator. Dalam PRBBK ditekankan untuk mengenali terlebih dahulu wilayah di mana masyarakat tinggal. Terdapat tiga hal yang perlu masyarakat lakukan di sini, yaitu mengenali ancaman bencananya, mengenali lokasi tempat mereka tinggal, dan mengenali potensi serta kemampuan yang mereka miliki dalam menghadapi bencana. Ancaman bencana di Desa Cikahuripan sudah disebutkan di atas, yaitu ancaman bencana gempa bumi dari Sesar Lembang dan juga letusan gunung api dari Gunung Tangkuban Parahu. Lalu masyarakat menilai kondisi eksisting diri mereka dan lingkungannya apabila ancaman bencana tersebut terjadi di wilayahnya suatu saat. Maka akan ditemukan hal-hal apa yang perlu mereka tingkatkan untuk mengurangi dampak negatif (risiko) yang mungkin terjadi ketika bencana terjadi. Hal-hal ini kemudian diterjemahkan menjadi rencana aksi untuk mengurangi risiko bencana di wilayah mereka. Dalam melaksanakan rencana aksi, maka perlu dibentuk kelembagaan di tingkat masyarakat agar lebih terarah dan termonitor dengan baik. Rencana aksi ini perlu dievaluasi secara berkala, baik dari kegiatan, output, maupun kelembagaannya untuk memastikan apakah rencana aksi tersebut tepat dan sesuai bagi masyarakat Desa Cikahuripan untuk mengurangi tingkat risiko bencana gempa bumi dan gunung api. 

Desa Cikahuripan ini terletak di tengah hiruk pikuk daerah wisata yang terus berkembang di Kab. Bandung Barat. Mata pencaharian masyarakat masih cukup berimbang antara bertani-berternak dan bekerja di ranah pariwisata, walapun generasi mudanya lebih memilih untuk bekerja di tempat-tempat yang pendapatannya lebih stabil ketimbang yang fluktuatif. Lokasi seperti ini mendatangkan kesempatan sekaligus risiko yang diidentifikasi di tahun 2020 pertama kali kami melaksanakan pengabdian masyarakat di sana. Tim pelaksana berasal dari berbagai disiplin dan lembaga, yaitu Fakultas Seni Rupa dan Desain serta Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB, dan Bandung Mitigasi Hub yang merupakan lembaga nirlaba yang berfokus pada upaya-upaya mitigasi bencana di wilayah Bandung Raya. Risiko yang kami temukan adalah meluruhnya identitas budaya dan kearifan lokal terkait bencana gempa yang berasal dari Sesar Lembang. Sumber daya budaya ini penting untuk menciptakan kebersatuan masyarakat terutama dalam menghadapi ancaman bencana alam.

Pada tahun 2020 bersamaan dengan awal pandemi Covid-19, kami memfokuskan upaya pengabdian kami untuk menggali sumber daya budaya ini. Melalui sayembara cerita rakyat, kami mendapatkan sejumlah kearifan lokal meski belum ada yang menyentuh isu kebencanaan. Sayembara ini diikuti oleh wakil dari 10 RW di Cikahuripan dan melibatkan tokoh masyarakat dari pemerintahan desa, guru, serta tim PM dalam pemilihan pemenang. Cerita yang terpilih berjudul “Asal Usul Engko di Kampung Pojok Tengah” karya Hendi Heryadi. Isinya adalah tentang kesenian engko yang secara turun temurun dilakukan oleh masyarakat, namun sekarang ini dalam kondisi yang hampir punah. Engko, atau di daerah lain disebut ngabeluk, adalah bentuk kegiatan bertutur dengan alunan musik berupa kecapi. Dahulu engko sering ditemukan dalam acara-acara hajatan, seperti pernikahan dan khitanan. Untuk mengabadikannya, cerita ini dikemas dalam bentuk buku cerita anak yang gambar serta bentuk hurufnya diambil dari anak-anak di Desa Cikahuripan. Dalam kesenian Engko tersebut dapat disisipkan pesan-pesan pengurangan risiko bencana, sehingga di kemudian hari budaya aman / sadar bencana dapat terbentuk melalui kesenian engko tersebut.

Setelah mengawali penggalian sumber daya budaya melalui cerita rakyat, pada tahun 2021 kami berfokus untuk membuat bentukan yang lebih sustainable dari upaya yang selama ini dilakukan oleh anggota FKDM Kab. Bandung Barat di Cikahuripan di bawah lembaga Desa Tangguh Bencana (Destana). Maka dari itu, bersama pemerintahan desa kami turun ke setiap RW untuk menggali aspirasi mereka. Seperti dugaan, mayoritas aspirasi mereka mengarah ke penggunaan sumber daya alam untuk kebutuhan pariwisata. Selama setahun penuh, kami menjalin kerja sama dengan Destana dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) untuk merancang Rencana Induk Desa Wisata Tangguh Bencana.

Kami mengawali upaya ini dengan studi banding ke desa-desa wisata dan kreatif di sekitar Bandung, seperti Desa Alamendah, Kab. Bandung, Kampung Lebak Siuh, Ciburial, Kab. Bandung, dan Ka.ra.sa dari Desa Gempol Sari, Kota Bandung. Dari rangkaian studi banding tersebut, masyarakat menjadi lebih sadar bahwa mereka juga memiliki kapasitas serta sumber daya yang mumpuni untuk membangun wilayah Desa Cikahuripan. Kami memfasilitasi beberapa kali FGD masyarakat untuk dapat memetakan hal-hal tersebut menggunakan pendekatan SWOT, serta merancang rencana dalam jangka pendek, menengah, dan panjang. Proses tersebut membuahkan beberapa hasil seperti indikator Desa Wisata Tangguh Bencana, logo dan slogan Desa Cikahuripan, kain furoshiki yang mengandung pesan siaga bencana untuk membungkus produk-produk lokal, dan program wisata berjalan (walking tour).

Indikator Desa Wisata Tangguh Bencana yang diidentifikasi dari kegiatan ini meliputi 3 poin yaitu: 1. Memiliki rencana mitigasi bencana dalam setiap program wisata dan di seluruh Kawasan wisata, sehingga senantiasa aman; 2. Masyarakat sekitar sadar akan potensi bencana di wilayah tersebut dan hal tersebut tercermin dari budayanya; 3. Memiliki program dan kawasan wisata berisi edukasi tentang kesiapsiagaan bencana. Hal ini didukung oleh slogan Desa Cikahuripan yang diambil juga dari namanya, “Cik ah!” yang merupakan ujaran dalam Bahasa Sunda yang bisa berarti mengajak atau memberitakan tentang ketertarikan terhadap sesuatu. “Cik ah uripan!” mengandung arti “Ayo, kita membangun hidup yang sejahtera lahir batin!”; namun “Cik ah!” sendiri bisa digunakan dengan ajakan yang lain seperti, “Cik ah diajar siap siaga!” (“Ayo, belajar siap siaga!”) atau “Cik ah nyaah ka lembur!” (“Ayo, cintai desa!”). Logo ini juga sudah diimplementasikan untuk baju pemandu wisata yang saat ini sedang mempersiapkan diri untuk menjalankan program.

Pada akhir tahun 2021, kami juga melakukan uji coba untuk program wisata berjalan (walking tour) yang meliputi 2 bagian penting di Desa Cikahuripan, yaitu Benteng Belanda Cikahuripan dan Lembah Cikahuripan. Untuk trek di wilayah Benteng Belanda Cikahuripan, kami memfokuskan pada cerita sejarah di masa perjuangan kemerdekaan dan juga perkembangan wilayah Cikahuripan. Karena trek ini juga sudah terbuka untuk umum sejak lama, penambahan yang akan dilakukan di tahun 2022 adalah berupa rencana mitigasi jika terjadi bencana letusan gunung api atau gempa bumi di wilayah sekitar. Trek yang masih dalam pengembangan hingga tahun 2022 adalah sekitar Lembah Cikahuripan. Di sana, masyarakat berencana untuk memperlihatkan budaya sehari-hari mereka, seni budaya yang dilestarikan, dan juga upaya-upaya mitigasi bencana yang dilakukan. Jalur yang direncanakan juga sebisa mungkin mengaktivasi jalur evakuasi agar masyarakat selalu ngeh dan jalur tersebut dapat dengan mudah diakses jika terjadi bencana alam.

Melembagakan upaya PRBBK

Untuk mencapai tujuan tersebut, masyarakat merasa perlu adanya suatu bentuk kelembagaan yang formal, di bawah organisasi BUMDes yang beranggotakan fasilitator, tokoh masyarakat, dan perangkat desa. Dengan adanya kelembagaan tersebut akan memperkuat pelaksanaan Rencana Induk Desa Wisata Tangguh Bencana. Hal ini juga dikarenakan oleh fungsi masing-masing lembaga di bawah pemerintahan desa, seperti Destana, Pokdarwis, Karang Taruna, bahkan BUMDes sendiri, yang diharapkan tidak tumpang tindih dan berjalan dengan selaras. Bentuk yang menyesuaikan dengan struktur pemerintahan desa dapat menjadi pendekatan yang baik, apalagi jika pelaku dan yang terdampak jumlahnya banyak.

Dari hasil diskusi dengan berbagai lembaga-lembaga di bawah pemdes tersebut ditemukanlah sebuah rumusan jaring kerja sama yang dapat melanggengkan upaya PRBBK di Desa Cikahuripan. Destana yang hanya boleh menyelenggarakan kegiatan terkait kebencanaan disandingkan dengan Pokdarwis yang berfungsi untuk mendorong perkembangan pariwisata lokal. Dengan demikian, secara kelembagaan menjadi jelas bahwa Destana merancang program wisata yang berkaitan dengan pengurangan risiko bencana, sementara Pokdarwis bertanggung jawab untuk mengemas serta memasarkannya. Karena lembaga yang difungsikan untuk menggerakkan perekonomian masyarakat desa adalah BUMDes, maka pelibatannya penting supaya sumber daya desa tetap dikelola oleh lembaga yang tepat. Kemudian terkait dengan upaya pengembangan sumber daya manusia yang kompeten dalam mengelola program Desa Wisata Tangguh Bencana ini, Karang Taruna juga turut dilibatkan.

Sesuai dengan jangka menengah dalam rencana induk pengembangan Desa Wisata Tangguh Bencana Cikahuripan, pada tahun 2022 kami berfokus untuk merancang pengembangan model mitigasi bencana, khususnya di wilayah Benteng Belanda Cikahuripan, mengembangkan rencana bisnis dan pemasaran (bersama BUMDes) untuk program-program wisata serta produk-produk lokal yang akan ditawarkan, dan mencapai target 1000 wisatawan per tahun. Ini juga menjadi tahun uji coba untuk jaring kerja sama lembaga-lembaga desa agar dapat menemukan bentuk yang lebih ajeg lagi. Di tahun ini kami mengajak Dr. Prasanti Widyasih Sarli dari FTSL ITB dan Dr. Nila Armelia Windasari dari SBM ITB untuk turut serta memfasilitasi masyarakat yang tengah mengawali rencana-rencana jangka menengah mereka. Dr. Prasanti Widyasih Sarli sudah melakukan kajian risiko di tingkat keluarga terkait ketahanan bangunan yang rencananya akan diolah dalam bentuk protokol tetap untuk masing-masing rumah. Dr. Nila Armelia Windasari akan mendampingi dalam pengemasan dan pemasaran program-program wisata yang sudah dirancang agar dapat dijalankan secara berkelanjutan.

Setelah melalui beberapa kali diskusi dengan masyarakat, mereka sangat antusias untuk menyelenggarakan perayaan 100 Tahun Desa Cikahuripan dalam bentuk festival seni budaya. Rencananya mereka ingin menggunakan acara tersebut untuk meningkatkan kesadaran siaga bencana untuk seluruh masyarakat Desa Cikahuripan melalui unsur seni budaya yang ada, misalnya tarawangsa, pencak silat, dan pertunjukan wayang. Diharapkan melalui upaya ini pesan kesiapsiagaan bencana dapat lebih mudah dicerna dan menjadi budaya yang melekat dalam keseharian masyarakat desa. Agar dapat mencapai hal ini, masyarakat difasilitasi untuk mengemas poin-poin yang melingkupi: 1. Fenomena alam terkait bencana yang memiliki potensi di sana, utamanya pergerakan Sesar Lembang; 2. Respon tepat saat gempa terjadi; 3. Pesan untuk senantiasa bersiapsiaga dan tidak lengah. Selain itu, kami juga bermaksud untuk menyebarluaskan informasi terkait kesiapsiagaan bencana gempa di tingkat keluarga, sehingga masing-masing rumah memiliki panduan yang dapat diikuti sebelum dan saat terjadi gempa agar dapat mengurangi risiko bencana.

Pada acara ini juga, kami bermaksud untuk mendorong agar program wisata berjalan (walking tour) dapat launching dan diakses oleh publik yang lebih luas. Program ini dirancang dalam dua bentuk, yaitu peta untuk dibawa saat berjalan-jalan secara mandiri dan berjalan dengan pemandu wisata. Dalam garapannya, kami mendampingi masyarakat untuk juga mengidentifikasi risiko-risiko dan kebutuhan terkait bencana gempa dalam proses evakuasi, misalnya penanda arah, tempat evakuasi sementara dan akhir, dan risiko seperti tiang listrik, atau atap genting di antara rumah-rumah yang rapat. Dalam penyelenggaraannya, Destana, Pokdarwis, dan Karang Taruna akan bahu membahu bekerja sama dan menemukan pola jaring kerja sama yang tepat bagi mereka agar upaya kesiapsiagaan ini dapat terus hidup di Cikahuripan.

Rangkaian acara ini rencananya akan berlangsung pada tanggal 26-28 Agustus 2022 di sekitar wilayah Desa Cikahuripan.

Terapi Seni, Mitigasi Bencana, dan Komunitas

Seringkali masyarakat kesulitan untuk secara konsisten menjalankan upaya mitigasi bencana. Meskipun mereka mengetahui risiko bencana di lingkungannya, umumnya mereka merasa tidak memiliki kapasitas untuk menindaklanjutinya karena dirasa terlalu berat baik itu secara biaya ataupun tenaga. Alih-alih terdorong untuk bersiapsiaga, masyarakat cenderung untuk pasrah walau sesungguhnya merasa cemas. Seorang neuroscientist asal Amerika Serikat, Bruce Perry, mengaitkan kecemasan ini dengan tekanan sosial dan lingkungan. Menurut Perry (2010) kelompok yang mengalami tekanan sosial dan lingkungan akibat sumber daya yang terbatas dan tidak stabil akan mengalami kecemasan sehingga hanya mampu berpikir secara konkret dan menghasilkan solusi yang sederhana untuk jangka waktu yang pendek saja. Sementara agar terdorong untuk menciptakan solusi-solusi jangka panjang, kelompok butuh kemampuan berpikir secara abstrak dan kreatif.

Kecemasan adalah salah satu penyebab seseorang membutuhkan terapi, apalagi jika kecemasannya sudah membuat orang tersebut tidak berdaya. Terapi seni adalah bentuk psikoterapi yang menggunakan seni rupa sebagai moda utama dalam berkomunikasi dan berekspresi. Proses kreasi dalam kerangka terapi seni bukan ditujukan untuk mendiagnosis kondisi psikis seseorang layaknya psikografis, namun mengoptimalkan pengalaman sensori untuk dapat menyeimbangkan proses emosi dan berpikir. Dalam perkembangannya, terapi seni menyasar perubahan yang lebih besar ketimbang individu. Melalui terapi seni kelompok atau berbasis komunitas, sebuah hubungan sosial dapat dieksplorasi lebih mendalam sehingga mampu menggoyahkan relasi kuasa yang ada pada kelompok tersebut. Pada akhirnya, seorang terapis seni juga adalah seorang aktivis sosial yang memahami bahwa hidup seorang individu sangat berkaitan dengan kondisi kelompoknya dan perubahan dalam kelompok akan berdampak pada perubahan individu di dalamnya.

Mitigasi bencana penuh dengan manifestasi kecemasan komunitas yang direpresi akibat ketidakberdayaan mereka. Sosialisasi saja mungkin tidak akan mampu untuk menggerakkan komunitas yang cemas agar menindaklanjuti risiko dengan membangun budaya sadar bencana. Terapi seni berbasis komunitas membuka ruang kolaborasi untuk membuka jalan-jalan kreatif yang mampu mengatasi kecemasan kelompok. Tentu saja hal ini berarti definisi seni rupa yang dimaksud seringkali harus dilebarkan menjadi seni, mengingat ekspresi komunitas bisa saja lebih cenderung pada suara atau gerak ketimbang rupa. Namun demikian, proses hulu hingga ke hilirnya tetap sama.

Pada awal proses, pemetaan sosial dilakukan untuk menggali kecemasan dan potensi kelompok. Pemetaan sosial ini agak berbeda dengan yang biasanya dilakukan untuk kebutuhan aspek demografis komunitas. Pendekatan psikoanalisis tetap digunakan untuk memahami relasi kuasa dan dampaknya pada dinamika kelompok tersebut.  Di saat yang sama, potensi yang ada dalam kelompok akan terus ditarik ke permukaan dan dioptimalkan. Potensi yang dimaksud bisa jadi pola interaksi, individu tertentu, atau pengalaman bersama yang mengikat identitas komunitas tersebut. Kemudian, komunitas akan difasilitasi untuk menemukan sebuah bentuk seni yang baru namun familiar untuk digunakan sebagai alat dan juga kekuatan baru. Misalnya, pada satu komunitas yang sangat lekat dengan budaya kawih, mereka dapat menggunakan bentuk tersebut untuk mengekspresikan kecemasan dan juga membangun harapan bersama. Hal ini dilakukan bukan dengan menggunakan kawih yang sudah ada, tetapi menyampaikan narasi mereka melalui metode kawih. Proses yang tampak mudah ini, sebetulnya memerlukan sensitivitas agar tetap dapat terlebih dahulu menyasar pengalaman-pengalaman sensori yang terkait dan tidak terpaku pada hasilnya. Eksplorasi sensori ini yang mampu mengurai kecemasan dan mewujudkannya dalam bentuk yang dapat dicerap bersama. Di akhir proses, ruang apresiasi harus dibuka agar terjadi diskusi lebih lanjut tentang apa yang ingin dilakukan secara kolektif setelahnya.

Diharapkan melalui rangkaian proses ini, komunitas tidak lagi merasa cemas dan berpikir bahwa upaya mitigasi bencana itu sesuatu yang berat untuk dilakukan. Mereka pada dasarnya sudah memiliki wujud budaya yang dapat digunakan untuk terus meningkatkan kesadaran bencana di tingkat komunitas. Melalui seni yang lekat dengan kehidupan komunitas, kesiapsiagaan dapat menjadi identitas kolektif yang terus hidup dari generasi ke generasi. Jika di sebuah generasi bentuk seninya sudah berubah, identitas kolektif ini bisa terus terjaga dan menemukan bentuknya yang baru.

670

views