Hidup Sehat Berkat Sanitasi yang Tepat

Penerapan Teknologi

Penerapan dari Teknologi Sanitasi Tepat Guna ini bertujuan untuk meningkatkan akses sanitasi masyarakat, terutama mengurangi praktik Buang Air Besar Sembarangan (BABS), sehingga diharapkan dapat meningkatkan kondisi kesehatan dan kebiasaan hidup bersih masyarakat di sekitar lokasi kegiatan. Kegiatan ini berlokasi di Desa Cinangsi, Kecamatan Cikalong Kulon, Kabupaten Cianjur yang berada di daerah aliran sungai (DAS) Citarum. Teknologi pengolahan air limbah yang diaplikasikan merupakan teknologi sederhana, menggunakan material lokal dengan mempertimbangkan kemampuan SDM dan finansial masyarakat. Masyarakat lokal dilibatkan dalam pembangunannya sehingga diharapkan hasil kegiatan ini dapat menjadi percontohan dan memberikan manfaat yang lebih luas untuk daerah lainnya di sekitar Desa Cinangsi.

Kegiatan pengabdian masyarakat ini berlangsung di bawah Program Citarum Harum, LPPM ITB. Kegiatan ini melibatkan dua dosen FTSL (Ahmad Soleh Setiyawan dan Dyah Wulandari Putri), dua orang mahasiswa dari Program Studi Sarjana Rekayasa Infrastruktur Lingkungan (Zidane dan Allif) dan Program Studi Magister Pengelolaan Air Bersih dan Sanitasi (Rafly), Institut Teknologi Bandung. Kegiatan yang berlangsung di Bulan Juli-November 2023 ini antara lain: (1) melakukan survei dan observasi kondisi sanitasi di lokasi kegiatan, termasuk di dalamnya pemilihan lokasi untuk aplikasi teknologi pengolahan air limbah, (2) sosialisasi terkait rencana kegiatan kepada penduduk sekitar serta memperkenalkan teknologi pengolahan air limbah, (3) pembangunan pengolahan air limbah di lokasi kegiatan, dan (4) monitoring terhadap kegiatan yang telah dilakukan.

Berdasarkan data STBM 2023, Kecamatan Cikalongkulon, Desa Cinangsi, memiliki tingkat BABS yang tinggi di Kota Cianjur, yaitu sebesar 11.992 KK. Permukiman kumuh terdapat di Kawasan bantaran sungai Desa Cinangsi dengan kondisi ekonomi masyarakat menengah ke bawah. Kawasan tersebut umumnya merupakan daerah yang sangat rentan terkena permasalahan kesehatan karena terkendala dalam akses sanitasi. Berdasarkan studi sebelumnya, kondisi sanitasi di Kampung Leuwikuda, Desa Cinangsi termasuk yang sangat memprihatinkan. Masyarakat menggunakan aliran air dari sungai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, seperti kegiatan mencuci, mandi, hingga memasak, sementara itu praktik BABS ke sungai masih tinggi. Jumlah masyarakat yang memiliki pengolahan air limbah domestik (tangki septik) juga tergolong minim.

Lokasi perencanaan terletak pada sebuah pesantren di Kampung Leuwikuda, Desa Cinangsi, Kabupaten Cianjur setelah sebelumnya dilakukan survei dan diskusi terlebih dahulu dengan ketua RT setempat (Gambar 1). Pesantren Nurul Ihsan memiliki total santriwan dan santriwati sebanyak ±40 orang. Berdasarkan wawancara dengan pimpinan pesantren, kapasitas pesantren akan dikembangkan menjadi sebanyak ±80 orang. Masyarakat sekitar juga sering menggunakan fasilitas air bersih dan sanitasi di pesantren. Namun, saat kondisi jumlah penghuni dan pengguna cukup banyak, fasilitas air bersih dan sanitasi di pesantren tidak memadai. Pesantren tersebut hanya memiliki satu buah toilet tanpa dilengkapi pengolahan (langsung dibuang ke Sungai Citarum) dengan ukuran sekitar 1 m2 dan beberapa titik kran air yang digunakan untuk wudhu dan satu buah kolam untuk kegiatan mencuci dengan ukuran sekitar 6 m2 (Gambar 2). Oleh karena itu, pembangunan fasilitas MCK dan instalasi pengolahan air limbah domestik (IPAL) menjadi solusi dalam upaya meningkatkan akses sanitasi pada kawasan pesantren dan sekitarnya.

Gambar 1. Survei dan diskusi dengan masyarakat, ketua RT, dan ketua Pesantren Nurul Ihsan untuk penentuan lokasi pembangunan fasilitas MCK dan IPAL di Kampung Leuwikuda, Desa Cinangsi, Kabupaten Cianjur.

Gambar 2. Kondisi eksiting fasilitas MCK yang belum dilengkapi IPAL dan rencana lokasi lahan untuk fasilitas MCK dan IPAL yang akan dibangun di Pesantren Nurul Ihsan, Kampung Leuwikuda, Desa Cinangsi, Kabupaten Cianjur.

Fasilitas MCK dibuat mengacu pada SNI 03-2399-2002 Tentang Tata Cara Perencanaan Bangunan MCK Umum. Perancangan dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi eksisting, yaitu 40 santri, dan juga mempertimbangkan potensi pengembangannya, jika jumlah pemakai meningkat hingga 80 orang. Pada SNI terkait MCK tersebut, untuk jumlah pengguna sebanyak 21-40 orang setidaknya dibutuhkan ruangan mandi sebanyak 2 kamar, ruangan cuci sebanyak 2 kamar, dan ruangan kakus sebanyak 2 kamar. Untuk dimensi ruangan mandi dan ruangan kakus masing-masing sebesar 1 × 1,2 m2 dan untuk ruangan cuci sebesar 1,2 × 2 m2. Desain fasilitas MCK dan IPAL di lokasi pesantren dapat dilihat pada Gambar 3.

Instalasi pengolahan air limbah domestik direncanakan menggunakan konfigurasi yang terdiri dari unit grease trap, bak sedimentasi pertama, bak anaerobik filter, bak sedimentasi ke dua, dan constructed wetland. Air limbah domestik yang berasal dari ruangan cuci akan masuk ke grease trap terlebih dahulu, sedangkan untuk air limbah yang berasal dari ruangan mandi dan ruangan kakus langsung masuk ke dalam sedimentasi pertama dan mengalir ke unit pengolahan selanjutnya mengikuti alur yang sama seperti pengolahan air limbah yang berasal dari ruangan cuci. Unit grease trap berfungsi untuk menangkap minyak dan lemak yang berasal dari sisa-sisa cucian. Unit sedimentasi pertama berfungsi untuk menyisihkan padatan tersuspensi yang terendapkan secara gravitasi. Unit biofilter anaerobik merupakan reaktor biologis dengan pertumbuhan terlekat. Air limbah mengalir melalui media pada unit biofilter anaerobic yang ditumbuhi oleh mikroorganisme sehingga bahan organik dan nutrien dalam air limbah akan didegradasi oleh mikroorganisme yang melekat pada permukaan media. Media pertumbuhan bakteri yang digunakan berasal dari botol-botol bekas. Unit sedimentasi ke dua berfungsi untuk mengendapkan lumpur biologis yang terbentuk pada unit biofilter anaerobik. Pada bagian akhir digunakan constructed wetland untuk menyisihkan sisa nutrien dan menurunkan kandungan mikroorganisme atau total coliform. Air hasil pengolahan akan dimanfaatkan sebagai air untuk menyiram tanaman sekitar area pesantren dan dipilih constructed wetland agar tidak memerlukan biaya untuk pembelian desinfektan. Instalasi pengolahan menggunakan unit-unit pengolahan yang pasif agar tidak memerlukan energi tambahan. Hasil pengolahan dari instalasi pengolahan air limbah domestik ini ditargetkan untuk menyisihkan kontaminan utama dari air limbah domestik sesuai dengan baku mutu air limbah domestik (Permen LHK Nomor 68 Tahun 2016).

Gambar 3. Layout perencanaan dan pembangunan fasilitas MCK yang dilengkapi dengan IPAL domestik di Pondok Pesantren Nurul Ihsan, Kampung Leuwikuda, Desa Cinangsi, Kabupaten Cianjur. Pembangunan ini berlangsung selama satu bulan dan direncanakan selesai pada Bulan Oktober 2023.

Perancangan fasilitas MCK dan IPAL ini dikembangkan secara spesifik sesuai dengan kondisi masyarakat dan karakteristik kawasan di Kampung Leuwikuda, Desa Cinangsi, Kabupaten Cianjur. Perancangan dilakukan dengan memperhatikan peraturan dan kriteria untuk memastikan ketercapaian sasaran. Perhitungan dilakukan sesuai dengan karakteristik dan kuantitas air limbah domestik yang dihasilkan. Teknologi yang diterapkan merupakan pengolahan air limbah domestik tepat guna dengan menggunakan material lokal, botol bekas sebagai media pertumbuhan bakteri, serta mempertimbangkan kemudahan dan biaya yang rendah dalam operasional dan pemeliharannya sehingga diharapkan masyarakat dapat mereplikasi perancangan ini di lokasi lainnya. Hasil perancangan yang dilakukan merupakan buah pemikiran dan rekayasa dari tim yang didukung dengan masukan dan bantuan dari masyarakat. Perancangan yang disusun ini tentunya mengedepankan kesesuaian teknologi dengan kondisi masyarakat, juga diiringi dengan sosialisasi dan peningkatan wawasan masyarakat mengenai pentingnya sanitasi yang baik serta perilaku hidup bersih dan sehat sehingga masyarakat memahami pentingnya menjaga kebersihan dan menerapkan langkah-langkah sanitasi dalam kehidupan sehari-hari.

Keberlanjutan dan Dampak Program

Perencanaan infrastruktur sanitasi juga perlu memperhatikan aspek-aspek keberlanjutannya sehingga infrastruktur yang sudah dibuat tentunya diharapkan dapat berfungsi dalam jangka waktu yang lama. Keberlanjutan infrastruktur sanitasi perlu mempertimbangkan beberapa aspek sebagai berikut:

  1. Lokasi perencanaan dipilih di lokasi yang sangat memerlukan bantuan dalam lingkup sanitas dan mempertimbangkan dukungan secara proaktif dari masyarakat. Untuk mendapatkan lokasi yang tepat perlu dilakukan survei dan diskusi dengan masyarakat, pengurus daerah, dan perangkat desa.
  2. Memastikan ketersediaan lahan untuk pembangunan fasiltas MCK dan IPAL. Apabila tidak tersedia lahan, maka program sebaiknya diprioritaskan untuk memperbaiki fasilitas MCK yang sudah ada dengan menambahkan fasilitas pengolahan.
  3. Memastikan keberadaan sumber air bersih secara kuantitas, kualitas, dan kontinuitas. Apabila belum tersedia, maka perlu dilakukan program penyediaan air bersih terlebih dahulu.
  4. Menggali masalah-masalah yang dihadapi oleh masyarakat serta potensi-potensi dan budaya-budaya tertentu untuk menentukan perancangan infrastuktur MCK dan IPAL yang akan dibangun.
  5. Proses perancangan memperhatikan peraturan, standar, kriteria desain, kearifan lokal, jumlah pengguna saat ini dan pengembangan kedepan, karakteristik air limbah, kondisi ekonomi dan budaya masyarakat sehingga infrastruktur yang dibangun dapat tepat sasaran.
  6. Proses perancangan mempertimbangkan kondisi lingkungan, dan sebisa mungkin perancangan dapat berdampingan dengan lingkungan, serta berdampak positif bagi lingkungan.
  7. Teknologi yang diaplikasikan dibuat secara sederhana dengan menggunakan material yang mudah didapatkan, kemudahan dalam operasional dan pemeliharaan, biaya operasional dan pemeliharaan yang terjangkau oleh masyarakat, serta dapat memberikan nilai tambah ekonomi (misalnya pemanfaatan air hasil olahan dan penggunaan bahan bekas). Pendekatan-pendekatan tersebut diharapkan dapat memperluas cakupan manfaat dengan menjadikan infrastruktur tersebut menjadi percontohan dan dapat direplikasi untuk daerah lainnya.
  8. Dalam proses perancangan, rencana dan konsep yang telah disusun perlu disosialisasikan serta menampung masukan dari masyarakat. Selain itu, perlu pemberdayaan masyarakat terkait sanitasi yang baik dan memastikan infrastruktur digunakan dan berkelanjutan, sehingga upaya peningkatan taraf kesehatan dan proteksi lingkungan berjalan secara menerus hingga masa yang akan datang.
  9. Pembangunan sebaiknya melibatkan masyarakat sejak awal hingga infrastruktur terbangun sehingga diharapkan infrastruktur yang dibangun sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan masyarakat serta memiliki keterikatan untuk merawat dan mendukung infrastruktur tersebut menjadi infrastruktur yang berkelanjutan.
  10. Keterlibatan masyarakat Kampung Leuwikuda menjadi salah satu aspek keberhasilan dalam kegiatan ini karena masyarakat akan menjadi ujung tombak dalam pengelolaan (termasuk operasional dan pemeliharaan) teknologi air limbah, diharapkan juga masyarakat dapat menjadi agen penyebaran informasi terkait pengelolaan air limbah untuk kawasan yang lebih luas.

Kegiatan ini merupakan bentuk kontribusi dari Institut Teknologi Bandung sebagai pengabdian kepada masyarakat dalam peningkatan kualitas hidup masyarakat. Dampak secara khusus yang diharapkan dari Kegiatan “Penerapan Teknologi Sanitasi Tepat Guna” ini antara lain:

  1. Terpenuhinya sebagian kebutuhan dasar terkait akses sanitasi yang baik dan sehat di sekitar desa Cinangsi, seperti keberadaan fasilitas mandi, toilet, sumber air bersih, serta fasilitas pengolahan air limbah domestik yang layak dan aman.
  2. Sanitasi yang baik dapat mencegah penyebaran penyakit menular, seperti diare, kolera, dan penyakit lainnya yang disebabkan oleh kontaminasi air dan makanan.
  3. Angka kematian akibat penyakit yang terkait dengan sanitasi buruk dapat berkurang secara signifikan, terutama di daerah-daerah dengan akses terbatas terhadap fasilitas sanitasi yang layak.
  4. Sanitasi layak dapat mengurangi risiko infeksi dan penyakit yang dapat mempengaruhi produktivitas dan kebahagiaan.
  5. Sanitasi yang baik membantu mencegah pencemaran air dan tanah oleh air limbah domestik sehingga berkontribusi pada pelestarian lingkungan alami, menjaga ekosistem air bersih, dan mengurangi dampak negatif terhadap flora dan fauna.
  6. Sanitasi yang aman menyebabkan masyarakat menjadi lebih sehat dan produktif sehingga memicu pertumbuhan ekonomi yang lebih baik karena anggota masyarakat memiliki lebih banyak waktu untuk bekerja dan belajar, dan biaya perawatan kesehatan dapat berkurang.
  7. Anak-anak yang memiliki akses ke fasilitas sanitasi yang baik lebih cenderung hadir di sekolah dan fokus pada pendidikan mereka daripada mereka yang harus menghadapi masalah kesehatan yang terkait dengan sanitasi buruk.
  8. Penyediaan sanitasi layak dengan jumlah yang mencukupi dapat mengurangi isu kesetaraan gender, dimana perempuan yang sering dianggap lebih rentan terhadap risiko kesehatan terkait sanitasi buruk dapat memiliki akses ke fasilitas sanitasi sehingga dapat meningkatkan kualitas kehidupan mereka secara keseluruhan.

379

views