Guru dan Pembelajaran Astronomi di Indonesia

Guru dan Pembelajaran Astronomi di Indonesia

Tags: ITB4People, Community Services, Pengabdian Masyarakat, SDGs4

Dengan posisi geografis pada garis khatulistiwa dan tiga zona waktunya, Indonesia memiliki potensi besar dalam pemanfaatan dan pe­ngembangan teknologi antariksa. Walaupun demikian, keberadaan pendidikan astronomi di Indonesia sejauh ini kurang mendapatkan perhatian, baik dari masyarakat maupun dari pemerintah. Alhasil, hasrat kaum muda terhadap astronomi tidak dapat sepenuhnya tersalurkan dengan baik.

Di Tanah Air, pendidikan astronomi secara khusus tidak diajarkan kepada para siswa. Praktik dalam pengajaran juga dirasa tidak ada. Di sisi lain, guru juga kesulitan dalam mengajarkan dan membangkitkan antusiasme siswa terhadap astronomi.

Seiring dengan perkembangan sains dan teknologi di era global, metode pengajaran astronomi turut mengalami perubahan. Metode baru yang kreatif dan menarik tentu perlu disosialisasikan kepada para guru dan semua pihak yang berkecimpung dalam pendidikan astronomi di tingkat dasar dan menengah.

Dengan pemikiran itu, sebagai salah satu dari kalangan astronom profesional, Program Studi Astronomi FMIPA ITB bekerja sama dengan Itera (Institut Teknologi Sumatra) dan IAU (Intenational Astronomical Union) mengadakan pelatihan dasar NASE (Network for Astronomy School Education) bagi para guru. Target utama dari pelatihan ini ialah guru SMA, khususnya pembina Olimpiade Astronomi, mahasiswa, atau pengurus komunitas astronomi.

NASE dibentuk pada 2009 di Rio de Janeiro, Brasil, sebagai kelompok kerja di bawah IAU. NASE merupakan program yang bertujuan mengedukasi para pendidik terkait dengan metode pembelajaran kreatif dalam astronomi. NASE telah bekerja sama dengan profesor-profesor universitas dalam mengembangkan metode pembelajaran yang bisa membantu guru menjelaskan teori dalam astronorni maupun membuat alat peraga sederhana.

Pelatihan NASE terbagi menjadi tiga sesi utama, yaitu sesi kuliah umum, sesi workshop, dan sesi working group. Sesi kuliah disampaikan para dosen Program Studi Astronomi ITB, sedangkan untuk sesi workshop dan working group dipandu enam instruktur lokal, empat di antaranya merupakan instruktur lokal Itera yang telah mempunyai pengalaman NASE 2018 dan NASE 2019.

Pada NASE 2020, tim lAU-NASE menambah­kan topik workshop baru, yaitu workshop 10 tentang astrobiologi. Khusus pada workshop 10 ini, Presiden IAU-NASE, Rosa M Ros, secara Iangsung akan menjadi instruktur tamu. Ber­beda dengan tiga kegiatan NASE sebelumnya, NASE 2020 yang berlangsung selama tiga hari merupakan NASE pertama dalam jaringan (daring) di Indonesia. lni merupakan wujud adaptasi NASE selama pandemi covid-19.

Sesi perkuliahan meliputi sejarah perkem­bangam astronomi, kehidupan dan evolusi bintang, kosmologi, dan tata surya. Kuliah topik-topik ini diampu dosen Program Studi Astronomi ITB dengan harapan peserta dapat memahami lebih jelas topik kuliah dan dapat memperoleh jawaban yang memuaskan ter­hadap pertanyaan yang diajukan.

Perkuliahan ini dilengkapi dengan sesi workshop, membahas aneka topik astronomi yang menarik, meliputi horizon lokal dan jam matahari; peraga bintang, matahari, dan bulan; studi gerhana bulan dan gerhana ma­tahari; kotak perlengkapan astronom muda; bintik matahari dan spektrum matahari; riwayat bintang; astronomi di luar pengamat­an; pengembangan alam semesta; planet dan exoplaner; serta astrobiologi. Workshop itu dipandu enam instruktur dari ITB dan Itera dan satu instruktur tamu.

Dua sesi working group berisi kegiatan dis­kusi mengenai persiapan astronomi dan situs arkeoastronomi yang terdapat di Indonesia. Kegiatan itu akan dipandu juga oleh instruktur yang memiliki bidang penelitian yang berkese­suaian dengan topik working group.

Kegiatan IAU NASE 2020 diikuti 74 peserta dari 13 provinsi dalam wilayah Indonesia ba­rat dan Indonesia tengah. Peserta datang dari berbagai kalangan, yaitu dosen di perguruan tinggi, guru SMA, perwakilan komunitas, ma­hasiswa aktif, dan pelajar SMA.

Peserta yang berprofesi sebagai guru tidak hanya merupakan guru astronomi, tetapi juga berasal dari guru matematika atau guru fisika. Untuk peserta yang berprofesi sebagai mahasiswa, hampir semuanya merupakan anggota aktif dari komunitas astronomi baik itu di daerah asal maupun komunitas di universitas. Jumlah peserta NASE 2020 meru­pakan jumlah peserta terbanyak jika diban­dingkan dengan tiga tahun sebelumnya.

Antusiasme peserta

Kendati terdapat perbedaan zona waktu, peserta tetap semangat dan dapat mengikuti kegiatan dengan baik. NASE Bandung 2020 mengadakan kegiatan observasi secara vir­tual (remore observation) pada hari kedua NASE mulai pukul 18.30 WIB.

Instruktur melakukan observasi secara langsung dengan kamera yang terpasang pada teleskop disambungkan ke internet dan peserta dapat melihat langsung objek langit, seolah-olah mereka melihat dari telekskop secara langsung.

Dari keseluruhan workshop yang telah dilakukan, peserta dapat membuat alat-alat peraga secara langsung meliputi sundial (jam matahari) sederhana, star and solar demonstrators, penggaris sudut sederhana (ruler), kuadran (quadrant), goniometer, atlas putar langit (planisphere), struktur matahari sederhana, spektometer sederhana, dan roket. Temu alat peraga yang dibuat hanya sebagian kecil dari alat peraga NASE secara keseluruhan. Akan tetapi, dalam NASE da­ring, ada beberapa percobaan yang tidak mungkin dilakukan, misal praktik yang membutuhkan interaksi antar peserta, atau kegiatan di luar ruangan. Sebagai pengganti, instruktur menggunakan video(tanpa audio) dari laman resmi NASE umuk menjelaskan percobaan tersebut.

Peserta secara umum menyampaikan sa­ngat terbantu dengan adanya pelatihan NASE ini. Banyak yang menyampaikan bahwa pelatihan NASE melebihi ekspektasi mereka. Peserta sangat menikmati jalannya pelati­han, terutama saat workshop dan pembuatan alat peraga. Materi-materi, yang sebelumnya sulit dijelaskan, dengan bantuan percobaan sederhana NASE dapat dimengerti dengan lebih mudah. Halim juga membantu peserta, terutama guru dalam menjelaskan beberapa teori seperti contoh spektrum cahaya dengan menggunakan spektometer sederhana. Hal yang sama pada komunitas astronomi yang banyak berinteraksi dengan anak-anak dan sering kali kesulitan dalam menyediakan materi yang menarik. Banyak percobaan sederhana yang dapat menarik minat, seperti permainan gerhana atau menyusun struktur matahari yang berwarna-warni dengan mo­del sederhana.

Peserta jadi menyadari bahwa pengamat­an astronomi tidak terbatas pada teleskop. Tanpa teleskop pun mereka dapat melaku­kan pengamatan sederhana, seperti horizon, dan gerak benda langit. Peserta dapat meng­ambil foto horizon lokal dan foto matahari tenggelam selama beberapa hari untuk men­dapatkan garis maya lintasan matahari.

Para peserta merasa beruntung bahwa NASE 2020 dilaksanakan secara daring. Beberapa peserta menyampaikan mereka telah mengetahui adanya NASE sejak tiga tahun lalu, tapi karena kendala lokasi dan biaya, mereka tidak bisa mengikuti. Kini mereka semakin ingin mengikuti NASE secara tatap muka dan bersemangat untuk mencoba me­lakukan praktik di daerah masing-masing, baik itu kegiatan kelas, ekstrakurikuler, mau­pun acara komunitas astronomi. (M-2)

1294

views