Bertetangga dengan Gunung Lumpur Bawah Laut

Bertetangga dengan Gunung Lumpur Bawah Laut

Tags: ITB4People, Community Services, SDGs13

Perkembangan terbaru dari kejadian gempa magnitudo 7,9 yang berlangsung kemarin 9 Januari 2023 di daerah Kepulauan Tanimbar, Maluku Tenggara menghasilkan sebuah fenomena menarik yang muncul dari bawah permukaan laut Desa Teinema, Kecamatan Wuarlabobar. Kabupaten Kepulauan Tanimbar. Hal tersebut menjadi perbincangan hangat di banyak jagat komunikasi, daring maupun luring karena hal tersebut merupakan kejadian tidak biasa dalam skala umur manusia. Sebuah gundukan besar lumpur muncul ke permukaan, menjelma jadi sebuah pulau baru, dan membuat kepanikan untuk warga di sekitar Desa Teinema.

Berbagai informasi bertebaran di ruang komunikasi dan banyak observasi yang kemudian mengarah pada sebuah hipotesis bahwa gundukan lumpur tersebut adalah sebuah fenomena yang dikenal dengan gunung lumpur (mud volcano). Beberapa yang lain menyatakan ini adalah intrusi lumpur (mud diapir). Disebut gunung lumpur karena geometrinya menunjukkan kesamaan dengan bentuk gunung namun terbuat dari lumpur yang diinjeksikan dari dalam bumi ke permukaan difasilitasi oleh buoyancy dan overpressure. Fenomena ini merupakan hal yang sering terjadi dan sangat tergantung kondisi geologi dari sebuah daerah. Beberapa terminologi khas seperti “gryphons” yang merupakan sebuah gundukan konikal gunung lumpur sejajar dengan struktur tektonik dan “pools” yang merupakan gundukan gunung lumpur yang mengeluarkan air dan gas serta sedikit sedimen. Gryphons dan pools sudah banyak dikenali di permukaan. Seringkali istilah gunung lumpur (mud volcano) juga disandingkan dengan mud diapir. Dua hal tersebut berbeda, mud diapir membentuk morfologi gundukan di permukaan, tanpa lumpurnya sampai di permukaan seperti halnya gunung lumpur.

Hubungan gempa dengan gunung lumpur

Secara geologi, fenomena gunung lumpur ini memiliki kecenderungan untuk terjadi pada daerah dengan banyak kegiatan tektonik aktif –seperti  batas lempeng yang menghasilkan berbagai jenis gempa– yang kemudian dapat menyediakan jalur fluida bawah permukaan seperti air, minyak, maupun gas untuk naik ke daerah yang lebih dangkal. Fluida tersebut naik ke permukaan melalui bidang sesar maupun rekahan-rekahan akibat perpotongan bidang-bidang sesar. Pergerakan fluida tersebut diinisiasi oleh perubahan tekanan yang dialami oleh batuan. Dua hal yang dapat merubah tekanan di bawah permukaan, gempa bumi dan laju sedimentasi yang cepat. Pergerakan lempeng yang kontinyu menyebabkan batuan menyimpan akumulasi gaya yang kemudian dilepaskan secara tiba-tiba melalui sebuah proses gempa bumi. Pelepasan gaya pada bidang sesar yang tiba-tiba ini kemudian menyebabkan perubahan tekanan pada batuan terutama pada area yang dekat dengan bidang sesar penyebab gempa tersebut.

Meskipun tidak selalu terjadi setelah gempa, catatan erupsi gunung lumpur sudah banyak terekam di berbagai media, kebanyakan terjadi pada area yang sudah memiliki erupsi gunung lumpur. Pada cekungan sedimen dengan laju pengendapan yang sangat tinggi di atas endapan berbutir halus (berukuran lempung, lanau, atau campuran keduanya) akan menyebabkan endapan tersebut mengalami tekanan yang berlebihan (overpressure) dari tekanan yang normal. Cekungan sedimen dengan laju pengendapan sangat tinggi misalnya cekungan sedimen di tepian kontinen pasif dan prisma akrasi. Apabila sebuah daerah dialasi oleh cekungan sedimentasi berbutir halus, berada di batas lempeng, maka ada kemungkinan daerah tersebut mengalami fenomena gunung lumpur yang disebabkan oleh perubahan tekanan akibat sesar dan gempa bumi, laju sedimentasi cepat, maupun kombinasi keduanya.

Fenomena gunung lumpur membutuhkan lapisan tebal material sedimen yang tidak terkonsolidasi sempurna atau batuan sedimen terbreksikan dengan tekanan pori yang tinggi. Sampai saat ini diperkirakan ada ribuan gunung lumpur yang ada di daratan, sementara yang berada di bawah permukaan laut diperkirakan berjumlah ribuan hingga ratusan ribu. Erupsinya tidak selalu berkaitan dengan setting tektonik konvergen namun terjadi dekat struktur-struktur geologi yang berkembang yang cenderung untuk meningkatkan tekanan pori.

Potensi bencana bertetangga dengan gunung lumpur

Belajar dari erupsi gunung lumpur yang terjadi berulang di banyak lokasi di dunia seperti di gunung lumpur Niikapu (Jepang), Kalamaddyn (Azerbaijan), Paterno (Italy), dan lain-lain, kemunculan gunung lumpur tidak selalu segera setelah gempa bumi terjadi, setidaknya 1-2 tahun antara periode erupsi. Gempa bumi yang besar tidak selalu menghasilkan erupsi gunung lumpur karena diperlukan periode isi ulang sebelum erupsi berikutnya terjadi.

Namun, yang terjadi di Tanimbar tempo hari adalah terbentuknya pulau baru di tengah laut. Hal ini merupakan sesuatu yang spesial, karena berdasarkan pengetahuan kita sebelumnya akan pembentukan pulau gunung lumpur, bahwa ini adalah proses yang lambat, bisa puluhan, ratusan bahkan ribuan tahun. Sehingga untuk sampai ke permukaan, gunung lumpur bawah laut haruslah melalui proses erupsi yang berulang dalam waktu yang lama.

Laju pembentukan pulau ditentukan oleh laju semburan lumpur dan akumulasinya di bawah permukaan laut. Komposisi lumpur (proporsi padatan, perbedaan ukuran fragmen, matriks lempungan atau lanauan, kadar air) memiliki peran yang signifikan dalam akumulasi lumpur. Semakin banyak proporsi padatannya maka lumpur akan lebih mudah mengendap. Berikutnya adalah posisi semburan lumpurnya apakah di darat atau di laut termasuk kedalaman air, kemiringan lereng semburan akan berpengaruh besar dalam terendapkannya produk gunung lumpur. Khusus pada kejadian semburan lumpur di bawah permukaan laut, akumulasinya akan sangat dikendalikan oleh gelombang dan arus laut serta transportasi sedimen. Jika gelombang dan arus laut kencang, maka akumulasi lumpur dan sedimen akan terbawa dan diendapkan di tempat lain. Hal ini menyebabkan semburan gunung lumpur bawah laut sulit terakumulasi. Semakin dangkal lautnya maka kemungkinan akumulasinya akan terjadi lebih cepat. Sebaliknya jika terjadi di laut dalam, maka tekanan kolom air akan mengambat aktivitas gunung lumpur.

Tidak ada kasus pembentukan pulau cepat dalam skala besar yang disebabkan oleh gunung lumpur yang diketahui sebelumnya. Namun, ada contoh gunung lumpur yang membentuk kumpulan pulau-pulau kecil atau memperluas pulau-pulau yang ada dalam waktu yang relatif singkat seperti gunung lumpur pada jalur subduksi Makran di selatan Iran, Cekungan Zhongjiannan di Laut Cina Selatan, dan tentunya daerah sekitar Kepulauan Tanimbar dan sepanjang Busur Banda. Sumber material yang diinjeksikan ke permukaan berpengaruh pada geometri yang terbentuk di permukaan. Jika lumpurnya berasal dari lapisan sedimen yang berada jauh di kedalaman dan ditindih oleh sedimen yang cukup tebal maka produknya akan memiliki diameter diatas 2 kilometer dengan tinggi lebih dari 200 meter. Sebaliknya, jika sumber lumpurnya adalah sedimen yang tidak terkonsolidasi sempurna di kedalaman dangkal dengan tutupan sedimen relatif tipis akan cenderung menghasilkan gunung lumpur dengan rentang diameter antara 1 – 2 kilometer dan tinggi antara 100 – 200 meter. Terkadang, pada area dengan arus/gelombang yang kencang maka yang tersisa di permukaan dapat seperti ngarai bawah laut, pockmark dan gas chimney.

Gunung lumpur di daerah Kepulauan Tanimbar bukan sesuatu yang baru dan bukan sesuatu yang jarang. Beberapa pulau kecil yang berada di lepas pantai barat laut Pulau Yamdena seperti Pulau Babar, Pulau Kabawa, Pulau Wermatan, dan Pulau Nuslima terbentuk dari gunung lumpur yang muncul ke permukaan. Kunjungan peneliti Kelompok Keahlian Geodinamika dan Sedimentologi pada tahun 2019 dan Geodynamics Research Group – ITB pada beberapa pulau di utara Pulau Tanimbar menunjukkan pulau-pulau tersebut dibentuk dari hasil erupsi gunung lumpur yang berlangsung di masa lampau. Sumber lumpurnya berasal dari sedimen yang membawa blok-blok fragmen dari sedimen yang berumur jauh lebih tua. Sebagian gugusan kepulauan Timor Barat seperti Pulau Pulau Kambing dan Pulau Semau, dan gugusan pulau kecil di barat Kepulauan Kei Kecil seperti Pulau Ut, Taroa dan Wahru dibentuk oleh proses yang sama dengan munculnya pulau gunung lumpur tempo hari, namun pada masa lampau. Filosofi “the present is the key to the past” yang dikemukakan oleh James Hutton, Bapak Geologi Modern, dua abad yang lalu nyata muncul di timur Indonesia. Bahkan mungkin, proses yang kita pelajari hari ini dapat juga menjadi kunci untuk melihat masa depan, melengkapi adagium Hutton dengan “and to the future”.

Gunung lumpur tidak tiba-tiba muncul ke permukaan dan tentu tidak sendirian. Fenomena ini merupakan kulminasi dari proses panjang yang terjadi di bawah permukaan. Maka dari itu kemunculan gunung lumpur mengetes kesiapan masyarakat di sekitar untuk menghadapi hal tersebut. Ketika pulau gunung lumpur baru muncul, beberapa langkah harus diambil untuk memastikan keselamatan orang dan properti di daerah tersebut.

Menilai Bahaya   

Penelitian tentang gunung lumpur penting untuk memahami perilakunya, potensi bahaya, risiko yang terkait dengannya, serta hubungannya dengan geologi bawah permukaan dan tektonik daerah tersebut. Langkah pertama adalah menilai potensi bahaya yang terkait dengan pulau gunung lumpur “mud volcano” baru, gempa bumi, aliran lumpur, emisi gas metana dan gas-gas lainnya, ketikdakstabilan lereng bawah laut, dan lain-lain yang dapat berbahaya jika terakumulasi di area tertutup. Informasi ini dapat dikumpulkan melalui pemantauan dan pengamatan gunung lumpur, serta melalui analisis data yang dikumpulkan dari erupsi sebelumnya. Penilaian potensi bahaya dapat menjadi pondasi awal untuk menjalankan rencana mitigasi bencana. Jika penilaian bahaya mengindikasikan bahwa daerah tersebut berisiko tinggi, orang-orang yang tinggal atau bekerja di dekat gunung lumpur harus dievakuasi sesegera mungkin. Rencana darurat harus dikembangkan dan dilatih untuk memastikan bahwa orang dan harta benda dapat dilindungi jika terjadi semburan lumpur baik di darat maupun di bawah laut. Hal ini dapat mencakup rencana untuk evakuasi, penampungan, dan operasi penyelamatan.

Menerapkan program pemantauan

Program pemantauan harus dilaksanakan untuk melacak aktivitas gunung lumpur dan untuk mendeteksi perubahan apa pun yang mungkin mengindikasikan semburan yang akan segera terjadi. Hal ini dapat mencakup metode-metode seperti survei seismik, penginderaan jarak jauh, dan pemantauan in situ. Survei seismik ini menggunakan gelombang suara untuk menciptakan gambar bawah permukaan, yang dapat digunakan untuk mendeteksi dan memetakan lokasi gunung lumpur, serta mengidentifikasi perubahan ukuran dan bentuk gunung lumpur dari waktu ke waktu. Selain itu, citra satelit dan udara dapat digunakan untuk mengamati dan memetakan fitur permukaan gunung lumpur, termasuk bentuk dan ukuran, lokasi dan luasnya aliran lumpur, serta perubahan di daerah sekitarnya dengan menggunakan observasi seri waktu. Pemasangan seismometer dan strainmeter dapat membantu memantau kegempaan dan perubahan bentuk dari morfologi yang akan juga berguna dalam pemantauan perkembangan gunung lumpur. Rekaman kamera dan video perkembangan langsung dari perkembangan gunung lumpur dapat dilakukan dengan swadaya masyarakat dengan memanfaatkan akses terhadap media sosial.

Pengukuran in situ terhadap suhu, tekanan dan aliran fluida dari gunung lumpur jika memungkinkan dapat dilakukan bersamaan dengan pemantauan perubahan di dasar laut dan kolom air di sekitarnya . Analisis geokimia terhadap sampel lumpur air dan gas yang dikumpulkan dilakukan untuk mempelajari komposisi dan sifat-sifat dan bukti-bukti interaksinya dari tempat asalnya hingga muncul ke permukaan.

Komunikasi dua arah

Komunikasi yang teratur, transparan dan resiprokal dengan masyarakat penting untuk memastikan bahwa masyarakat mendapat informasi tentang gunung lumpur dan risiko yang terkait dengannya. Hal ini dapat mencakup penyediaan informasi tentang aktivitas gunung lumpur, rencana evakuasi, dan prosedur darurat. Informasi harus dijamin akurat dan terkini dan menggunakan berbagai saluran komunikasi seperti pertemuan publik, siaran pers dan tentunya media sosial dengan memanfaatkan fleksibilitas nya dalam menampilkan peta, gambar dan diagram untuk menjelaskan potensi bahaya dari gunung lumpur. Usaha menjangkau khalayak ramai harus senantiasa dilakukan dengan harapan partisipasi masyarakat dapat terjadi secara natural agar pengembangan rencana darurat datang dari kumpulan keingintahuan dan umpan balik. Selain itu, melibatkan masyarakat dalam menggunakan metode pemantauan dan datanya sebagai bentuk transparansi pada proses pengambilan keputusan menjadi sangat penting dalam usaha mengembangkan rencana komunikasi krisis dengan menguraikan pesan-pesan kunci, peran dan tanggung jawab, serta saluran komunikasi kala menghadapi keadaan darurat.

Sudah waktunya kita tanggap bencana dan kenal tetangga kita dengan lebih baik.

559

views