Batik Cirebonan dalam Buku Taktil 3D-Printing

Batik Cirebonan dalam Buku Taktil 3D-Printing

Tags: ITB4People, Community Services, SDGs4

Batik adalah hasil karya bangsa Indonesia yang merupakan perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia yang sekarang hasilnya telah mendunia. Indonesia memiliki beragam macam motif batik yang mengandung makna dan filosofi dari berbagai adat istiadat maupun budaya yang ada. Motif batik adalah corak atau pola yang merupakan kerangka gambar pada batik yang terdiri dari perpaduan garis, bentuk dan isen. Motif batik yang berkembang di Indonesia antara lain adalah motif manusia, hewan, tumbuhan juga motif-motif lainnya. Salah satu daerah yang memiliki motif batik terkenal adalah Cirebon dengan motif Mega Mendung-nya. Motif Mega Mendung identik dengan pola mirip bentuk awan yang memiliki makna dan filosofi mendalam serta arti tentang nilai kesabaran yang harus ada dalam diri setiap manusia.

Batik termasuk kedalam karya seni rupa 2 dimensi yang bisa kita nikmati keindahannya melalui indera penglihatan. Batik juga menjadi salah satu cinderamata yang banyak diminati oleh para turis mancanegara yang berkunjung ke Indonesia. Berkat keindahannya yang telah mendunia, Batik mendapatkan pengakuan dari UNESCO pada tahun 2009 karena dinilai sebagai warisan kemanusiaan dalam budaya lisan dan budaya nonbendawi.

Di era globalisasi seperti saat ini banyak produk-produk lokal yang mulai tergeser dengan produk-produk luar. Sehingga rasa cinta warga negara terhadap kebudayaannya bisa semakin menurun. Oleh sebab itu, sebagai generasi-generasi muda penerus bangsa wajib bagi kita untuk menjaga dan melestarikan kebudayaan-kebudayan Indonesia termasuk Batik.

Salah satu cara yang dapat kita lakukan untuk melestarikan Batik ialah menumbuhkan semangat dalam berpakaian batik. Selain itu kita juga dapat memperkenalkan batik kepada anak-anak sejak usia dini. Dengan mengenalkan batik kepada anak-anak sejak usia dini, maka anak-anak akan mengetahui bahwa batik merupakan salah satu kebudayaan yang berharga bagi Indonesia.

Belajar sambil bermain merupakan salah satu cara yang tepat agar anak mau mempelajari batik dan mengenalnya. Sebagai sosok yang lebih dewasa kita bisa mengajak anak untuk menggambar motif batik kemudian mewarnainya, bahkan bisa juga dengan mengajak anak membatik di beberapa tempat sentral batik daerah. Selain itu, mengenalkan Batik kepada anak-anak nampaknya akan lebih mudah dilakukan melalui kegiatan bercerita. Bercerita menjadi suatu kegiatan yang banyak disenangi oleh anak-anak, tidak terkecuali bagi anak-anak disabilitas.  Anak-anak dengan disabilitas pun perlu dikenalkan dan diajarkan  tentang pentingnya melestarikan Batik sebagai Karya Budaya yang mendunia. Namun sayangnya bagi mereka yang memiliki hambatan pada penglihatan (tunanetra) Batik merupakan sesuatu yang abstrak karena mereka tidak memiliki pengalaman secara visual terkait motif-motif batik yang beragam

Batik yang memilki keindahan secara visual tentu saja akan sangat menarik bagi anak-anak pada umumnya, namun bagaimanakah dengan anak-anak yang memiliki keterbatasan ataupun hambatan secara visual? Bisakah mereka mengenal motif batik yang indah dan beragam tersebut ?

Anak-anak yang mengalami hambatan secara visual biasa disebut dengan tunanetra. Mereka adalah anak-anak yang mengalami kerusakan pada organ matanya, sehingga tidak bisa menggunakan penglihatannya secara maksimal walaupun sudah dibantu dengan kacamata. Menurut Pertuni (Persatuan Tunanetra Indonesia) Tunanetra terbagi ke dalam dua, yakni tunanetra total (totally blind) dan Tunanetra sebagian (Low Vision) atau dalam kata lain mereka masih memiliki sisa penglihatan yang bisa dioptimalkan. Totally Blind adalah keadaan dimana anak sama sekali tidak bisa melihat. Sedangkan Low Vision adalah keadaan dimana anak masih memiliki sisa penglihatan, namun tidak bisa digunakan untuk membaca tulisan awas dengan ukuran 12point walaupun dalam keadaan cahaya normal dan dengan bantuan kacamata.

Dalam sudut pandang Pendidikan, mereka yang termasuk kedalam tunanetra total memerlukan alat bantu khusus agar dapat mengakses pelajaran yang disajikan secara visual. Salah satunya adalah tulisan Braille. Braille merupakan system tulisan yang dibuat oleh Louis Braille berupa titik-titik timbul yang digunakan oleh tunanetra untuk bisa membaca menggunakan ujung-ujung jarinya sebagai pengganti mata.

Anak-anak dengan Low Vision masih memungkinkan bagi mereka memiliki pengalaman secara visual walaupun dengan sangat terbatas, namun bagi mereka yang Totally Blind maka pengalaman secara visual sama sekali tidak mereka miliki. Untuk dapat mengenal apa yang di sekitarnya, anak-anak tunanetra perlu diajarkan konsep sebagai dasar untuk bisa memahami apa yang mereka hadapi. Anak-anak tunanetra mengandalkan indera-indera lainnya yang masih berfungsi untuk dapat mengakses informasi yang ada di lingkungan sekitar. Beberapa diantaranya adalah indera pendengaran, perabaan, penciuman dsb. Kebanyakan tunanetra memerlukan benda-benda kongkrit (nyata) untuk dapat membentuk suatu konsep yang ada. Mereka perlu menyentuh langsung bendanya ketika akan dikenalkan dengan benda tersebut. Saat mereka menyentuh bendanya, maka mereka akan meraba bendanya secara utuh kemudian akan dibagi kedalam beberapa bagian dari benda tersebut lalu akan disatukan kembali menjadi sebuah konsep benda oleh mereka sendiri (belajar secara induktif; khusus-umum).

Sebagai gambaran, ketika seorang awas (memiliki penglihatan) melihat sebuah benda, benda yang kita lihat itu akan langsung membentuk sebuah konsep dari benda tersebut dalam pikiran kita sehingga setiap kali kita melihat benda serupa atau mendengar nama bendanya yang adalam pikiran kita adalah bentuk benda tersebut beserta namanya. Misal: saat kita melihat sebuah boneka, kita akan melihat boneka tersebut secara utuh, kemudian melihat detailnya satu persatu (bagian kepala, telinga, tangan, kaki, tubuh dsb). Namun bagi seorang tunanetra, proses melihat tersebut digantikan dengan proses meraba. Melalui perabaan tersebut mereka akan dikenalkan dengan benda  secara utuh, proses meraba itulah yang akan memberikan pengalaman secara taktual kepada anak untuk mengenal benda yang ada, kemudian anak akan diminta untuk meraba satu persatu setiap detilnya (dimulai dari bagian kepala, telinga, tangan, badan, kaki, dst), lalu dari setiap detil itu kita coba arahkan anak kembali untuk mereka bisa menyatukan setiap konsep dari bagian-bagian yang sudah dirabanya menjadi sebuah konsep utuh dari sebuah boneka.

Proses mengenalkan konsep pada anak tunanetra memerlukan proses yang tidak sebentar. Mereka perlu dilatih terus menerus secara berulang hingga memiliki banyak konsep dalam dirinya. Setiap konsep yang sudah diajarkan akan selalu mereka ingat. Untuk bisa memiliki banyak konsep pada dirinya, anak-anak tunanetra memerlukan bantuan kita sebagai orang awas untuk dikenalkan, diberikan gambaran detail secara verbal juga diberikan pengalaman secara taktual agar apa yang diajarkan kepada mereka bisa lebih nyata dan tidak abstrak dalam pikirannya.

Untuk dapat dikenalkan dengan Batik yang motifnya hanya bisa dinikmati secara visual, maka anak-anak tunanetra khususnya anak-anak dengan totally blind memerlukan media taktual yang bisa memfasilitasi mereka untuk dapat mengakses ragam motif batik tersebut. Sehingga mereka bisa menikmati keindahan dari ragam motif batik melalui perabaannya.

Melalui KIBA (Kelas Ilustrasi Buku Anak) Prodi DKV FSRD ITB, di pertengahan tahun 2021 merancang sebuah buku taktil dengan 3D-Printing tentang motif batik Cirebon. Buku taktil dengan 3D-Printing ini dirancang agar anak-anak tunanetra dapat memiliki pengalaman secara taktual tentang motif batik yang ada. 3D-Printing yang disediakan merupakan bentuk dari beberapa motif batik Cirebon yang dibuatkan agar bisa diraba oleh anak sebagai pengganti pengalaman visual terkait motif-motif batik tersebut. Buku-buku karya dosen dan mahasiswa ITB ini pun akan dilengkapi dengan kata-kata yang ditulis dalam bentuk teks braille agar lebih memudahkan anak tunanetra mendapatkan penjelasan singkat terkait motif atau bentuk apa yang sedang mereka raba.

Buku ini didesain secara digital, kemudian ada bagian yang dicetak dengan 3D-Printing. Dipenghujung akhir tahun 2021, buku-buku tersebut selesai dibuat. Ada 3 buku yang pada akhirnya berhasil diselesaikan. Ketiga buku tersebut diberi judul masing-masing:

  1. Wiih… Ada Kluwih! (mengenalkan motif batik Godhong Kluwih)
  2. Menjelajah Taman Arum (mengenalkan motif batik Taman Arum)
  3. Bernyanyi bersama Batik Cirebon (mengenalkan motif batik Mega Mendung, Paksi Naga Liman dan Naga Seba)

Ketiga buku tersebut sudah diujicobakan di dua sekolah yang ada di Bandung dan Cirebon. Untuk sekolah yang ada di Bandung, kami melakukan fieldtesting di Pusat Pelayanan Terpadu Low Vision (Low Vision Center) yang berlokasi di Jl. Pajajaran satu wilayah dengan komplek Wyata Guna. Di sana kami mengenalkan buku-buku ini kepada anak-anak tunanetra usia dini (dibawah 6 tahun). Sementara itu, untuk fieldtesting yang kami lakukan di Cirebon, kami mengunjungi Sekolah Luar Biasa Beringin Bhakti khususnya pada anak-anak tunanetra yang berada di kelas dasar 1-6 SD.

Berdasarkan hasil fieldtesting yang telah kami lakukan di Bandung dan Cirebon, anak-anak sangat tertarik dengan buku yang kami bawa. Pada proses pelaksanaan fieldtesting ini banyak hal-hal baru yang kami temukan. Ada siswa yang mampu mengikuti dari awal hingga akhir buku yang kami berikan tanpa gangguan dan terkesan fokus saat pelaksanaannya. Namun, ada juga siswa yang memang membutuhkan waktu untuk bisa beradaptasi dengan buku yang ada. Pada umumnya proses membacakan cerita bagi anak-anak tunanetra biasanya akan membosankan jika sang pembaca cerita tidak mampu membacakan cerita secara interaktif dengan anak-anak. Terlebih lagi jika cerita yang dibacakan adalah cerita yang panjang, tidak sedikit dari mereka yang akan mudah teralihkan fokusnya atau bahkan mengantuk saat mendengarkan cerita. Tetapi, tidak sedikit juga anak-anak yang penasaran dengan gambaran dari cerita yang dibacakan. Terkadang mereka bertanya tentang bagaimana bentuk dari sesuatu yang dibacakan pada cerita tersebut. Mereka memerlukan gambaran dari apa yang sedang dibacakan agar ceritanya bisa menjadi lebih nyata dalam bayangan.

Pada Fieldtesting yang telah dilakukan ini, baik siswa, guru maupun orang tua dari anak-anak tunanetra yang hadir, mereka sangat antusias dengan buku-buku yang kami bawa. Walaupun proses membacakan bukunya dilakukan secara bergantian karena keterbatasan buku cetak yang kami bawa, tapi beberapa anak sangat tertarik bahkan ingin mencoba semua buku yang tersedia. Selain dibacakan ceritanya, mereka pun bisa meraba 3D-Printing yang ada. Selain itu, buku ini juga menarik bagi mereka, karena dilengkapi dengan beberapa kata yang ditulis dalam bentuk tulisan braille. Buku Taktil dengan 3D-Printing ini membuat anak mampu berpartisipasi aktif saat buku dibacakan. Selain mendapatkan pengalaman dari cerita yang baru mereka juga mendapatkan pengalaman taktual tentang motif batik Cirebonan  yang ada pada setiap buku-bukunya. Saat dirabakan pada 3D-Printing  yang tersedia, beberapa siswa masih sulit memahami bentuk apa yang sedang mereka raba, karena memang pada dasarnya motif-motif batik adalah gabungan dari beberapa gambar yang kemudian membentuk motif-motif Batik yang unik. Hal inipun memang menjadi tantangan besar bagi kami untuk bisa mendesain setiap gambar yang akan dibuat dalam bentuk ­3D-nya.

Pada pelaksanaannya, setelah para siswa dibacakan cerita dan meraba buku-bukunya secara bergantian, kami mengevaluasi dengan bertanya kepada mereka tentang cerita apa yang tadi telah dibacakan, kemudian kami juga mencoba untuk merabakan lagi bagian 3D-Printing nya dan menanyakan bentuk apa yang sedang mereka raba tersebut. Hal menarik yang kami temukan saat fieldtesting pada anak-anak usia dini di Low Vision Center Bandung adalah salah satu anak menyebutkan bahwa yang ia raba adalah “Sapi”, kami sempat bertanya kepada guru yang mendampingi anak mengapa anak tersebut menyebutkan “Sapi” padahal gambar yang sedang ia raba pada buku tersebut adalah gambar awan. Rupanya, yang dimaksud oleh anak dengan “Sapi” adalah tekstur daripada lembar hasil 3D-printing nya yang memang semi kasar sehingga mengingatkan anak pada tekstur kulit pada tubuh sapi yang pernah dia raba. Jadi, saat ditanya gambar apa yang sedang dia raba jawaban dari siswa tersebut adalah sapi.

Selain melihat hasil dari para siswa, kami pun mencoba untuk melakukan pendekatan kepada para orang tua untuk meminta saran dan masukan tentang buku-buku tersebut. Beberapa orang tua dari anak-anak tunanetra yang berada di Low Vision Center pun memberikan komentar positif atas buku-buku kami. Mereka berkata bahwa mereka senang dan terbantu sekali dengan adanya buku ini. Salah satu orang tua dari siswa mengatakan bahwa,

“Buku cerita anak itu jarang sekali ditemukan yang ada braillenya. Apalagi untuk apa ya, pembelajaran-pembelajaran yang lain, di toko buku Gramedia itu jarang sekali ditemukan. Makanya selain buku ini kedepannya semoga bisa dibuat buku cerita pendek yang ada braillenya begini.”

Selain itu orang tua pun memberikan masukan kepada peneliti untuk buku selanjutnya agar Braille dibuat dalam ukuran yang sesuai dengan ukuran braille aslinya agar anak bisa lebih mudah mengenal dan mempelajari braille apa adanya. Karena memang saat buku ini diberikan kepada anak-anak yang sudah mampu membaca braille, mereka sedikit kesulitan untuk membaca tulisan braillenya. Karena ukuran setiap titik-titik brailenya terlalu besar sehingga mereka perlu meraba secara perlahan agar tidak ada titik yang terlewat sehingga mereka bisa membaca setiap kata-katanya dengan tepat.

Masukan lain pun diungkapkan oleh seorang guru tunanetra yang ada di SLB Beringin Bhakti agar 3D-Printing dibuat lebih jelas dan mendetil lagi, serta dilengkapi dengan penjelasan dari motif-motif yang dibuat dalam bentuk 3D-Printing tersebut agar anak mampu mengenal lebih mudah motif atau bentuk apa yang sedang mereka raba. Jika bisa, dimasukan juga penjelasan tentang sejarah ataupun makna-makna dari motif batiknya di akhir buku, sehingga anak-anak mengetahui sejarah singkat tentang motif batik Cirebonan yang menjadi highlight daripada buku-buku ini.

Komentar dan masukan-masukan dari para orang tua juga guru berdasarkan hasil fieldtesting di Bandung dan Cirebon kami jadikan bahan evaluasi agar buku-buku yang sudah kami buat ini ke depannya bisa diperbaiki agar benar-benar bisa memfasilitasi anak tunanetra dalam mengenal motif batik Cirebonan. Buku taktil dengan 3D-Printing ini bisa menjadi salah satu alternative pilihan buku yang ramah disabilitas karena bisa diakses oleh seluruh anak tanpa terkecuali. Selain itu buku-buku taktil dengan 3D-Printing ini juga bisa dijadikan media pembelajaran bagi guru siswa tunanetra agar  para siswanya mengetahui bahwa batik merupakan salah satu kebudayaan yang berharga bagi Indonesia dan harus dilestarikan agar tidak punah.

474

views